Kota, NU Online Sumenep
Serangkaian Kegiatan Hari Lahir (Harlah) NU Ke-99 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep berlangsung khidmat. Dalam kurun waktu satu bulan, berbagai elemen struktur NU, baik lembaga maupun banom (badan otonom), turut memeriahkan harlah tersebut.
Kali ini, Puncak Harlah yang dikemas dengan ‘Halaqah Sanad Ke-NU-an KH. Maimoen Zubair’ tersebut digelar di Pondok Pesantren Al-Ihsan Loteng, Desa Karangduak, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep. Jum’at (25/2/2022).
Ketua PCNU Sumenep, KH. A. Pandji Taufiq mengatakan, bahwa puncak Harlah Ke-99 NU sengaja ditempatkan di pusat kota, tepatnya di Pesantren Loteng, karena merupakan pesantren legendaris yang banyak melahirkan para pemimpin di Sumenep.
“Pesantren Loteng ini merupakan pesantren legendaris, sudah sangat tua. Penuh sejarah. Bahkan dari pesantren inilah lahir pemimpin-pemimpin di Sumenep. Baik pemimpin formal, raja, maupun pemimpin nonformal, ulama,” ujarnya.
Ia menyebutkan, meski pesantren yang saat ini tengah diasuh oleh Gus Fajar Ali Syahbana itu memiliki akar sejarah yang luas di Sumenep, namun seiring perkembangan zaman, Pesantren Loteng kurang muncul kepermukaan.
Karena itu, Kiai Pandji berharap, kegiatan yang juga melibatkan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Karangduak itu menjadi cikal-bakal kebangkitan peradaban di Sumenep melalui Pesantren Loteng.
“Saat ini kurang muncul ke permukaan. Mudah-mudahan dengan adanya acara yang ditempatkan di pesantren ini menjadi awal kebangkitan Pesantren Loteng, bahkan menjadi awal kebangkitan peradaban di Sumenep,” imbuhnya.
Menurut Kiai Pandji, Sumenep adalah Solonya Madura. Sebab itu, kemuliaan akhlak para santri diharapkan bangkit dari Pesantren Loteng. Sehingga Islam yang identik dengan kesantunan terus dikobarkan ke seluruh pelosok tanah di Sumenep.
“Mudah-mudahan akhlak mulia kaum santri bangkit dari Loteng ini. Sehingga Islam yang penuh kesantunan terus kita kobarkan ke pelosok tanah Sumenep. Tentunya untuk kebangkitan NU abad kedua di Indonesia ini,” tegasnya.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep itu juga menyampaikan terima kasih kepada segenap keluarga besar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Loteng yang telah menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan NU.
“Pesantren dan NU adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu kami sampaikan terima kasih kepada keluarga besar Pesantren Loteng, dengan segala kerendahan hati. Semoga kita semua teraliri barakah pengajian ini yang akan diisi oleh Gus Ghafur. Menjadikan Loteng lebih berkembang,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut, KH. Abdul Ghafur Maimoen, Rais PBNU sebagai pembicara. Pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Sumenep, MWCNU se-Kabupaten Sumenep, lembaga dan banom di lingkungan PCNU Sumenep, serta forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Sumenep.
Editor: A. Habiburrahman

