Pragaan, NU Online Sumenep
Kiai Imam Sutaji, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep menyampaikan ulasan singkat terkait sejarah dan kiprah NU di Indonesia. Diceritakan, dahulu tidak bernama Indonesia, tetapi Nusantara yang membentang dari sabang sampai merauke. Berbeda suku, bahasa, budaya dan sebagainya.
“Tahun 1912, organisasi Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1918, berdirilah sebuah kumpulan tanpa nama yang dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Anggotanya adalah Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari, Soekarno, HOS Tjokroaminoto dan lainnya,” ujarnya saat Halaqah yang digelar oleh Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Prenduan, Pragaan Kamis (28/04/2022). Kegaiatan dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-88 GP Ansor ini dipusatkan di sekretariat setempat.
Di tahun 1919, lanjutnya, berdirilah organisasi bernama Tashwirul Afkar yang fokus diskusi membahas tentang kemerdekaan dan bentuk negara pasca kemerdekaan. Tahun berikutnya atau 1920, berkumpulah seluruh ulama se Jawa dan Madura tanpa terencana di Jangkebuan Bangkalan, atau di kediaman Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Kurang lebih 60 kiai berkeinginan sowan pada gurunya para ulama.
“Seluruh kiai yang berkumpul tersebut, tak langsung ditemui oleh Kiai Kholil, tetapi ditemui oleh menantunya Lora Muntaha. Pasalnya Mbah Kholil tahu bahwa ada kiai yang sedang berkumpul di sana,” tutur Kiai Imam Sutaji.
Pada saat itu, imbuhnya, Mbah Kholil memanggil salah satu santrinya, kemudian membacakan surat As-Shaff ayat 8 untuk disampaikan pada keenam puluh kiai tersebut. Yurīdụna liyuṭfi`ụ nụrallāhi bi`afwāhihim, wallāhu mutimmu nụrihī walau karihal-kāfirụn. Artinya, Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.
“Setelah mendengar ayat ini, seluruh kiai bergegas pulang. Karena mereka paham bahwa bangsa ini sebentar lagi akan ada peperangan, tetapi pasca perpecahan itu akan damai sentosa,” curahnya.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu mengutarakan, tahun 1923 KH Ahmad Dahlan wafat dan jabatannya sebagai ketua diganti oleh penerusnya KH Mas Mansoer. Di tahun 1924 awal, Syaikhona Kholil meminta kepada KH R As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat ke muridnya di Jombang, yakni Kiai Hasyim.
“Tongkat itu sebagai isyarah bahwa muridnya dipercaya mengomandoi ulama. Di akhir tahun 1924, Mbah Kholil meminta Kiai As’ad mengantarkan tasbih ke Jombang. Jika dianalisis, jumlah biji tasbih tidak lebih dan kurang dari 100. Ada juga 3 perhiasan tasbih yang jarang dihitung sebagai penanda bahwa wiridan tersebut sudah sampai 33 kali. Ini persis NU, adanya tidak dicari, ketika habis seluruhnya, pasti ada penyesalah,” sergahnya.
Saat mendapat isyarah tersebut, Kiai Hasyim tidak langsung mendirikan jam’iyah. Itulah akhlaknya ulama dulu. Karena ada Syaikhona Kholil yang masih hidup. Kisah ini mengingatkan ketika Abu Bakar Shiddqi r.a diminta untuk menjadi imam shalat. Ia tidak mau selama Rasulullah masih hidup.
“Tahun 1925 Mbah Kholil wafat. Di tahun 1926 didirikalah NU yang diawali Komite Hijaz. Ada riwayat, Kiai Wahab meminta pada Kiai Hasyim untuk mendirikan jam’iyah. Permintaan itu berangkat dari rasa kekhawatiran besar yang mengancam keberadaan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Saat itu pula Kiai Hasyim berkenan dan mendeklarasikan Komite Hijaz di Jl. Bubutan Surabaya, 31 Januari 1926 bertepatan 16 Rajab 1344,” terangnya.
Dosen Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk itu menyatakan, perang saudara hampir pecah. Hal ini dilatar belangi adanya perbedaan pendapat tentang agama. Ini semua diawali H Miskin dari Minangkabau membawa ajaran Islam baru atau Islam pembaharuan. Amaliyah ke-NU-an seperti tahlilan, shalawatan, dhiba’an, ziarah kubur dan sejenisnya dianggap bid’ah.
“Kami ingin mempertemukan benang merahnya. Tahun 1923, Raja Arab Raja Syarif Husain yang semula ajarannya sama dengan kita, dikudeta oleh kerabatnya, yaitu Abd Azis bin Saud. Makanya nama negaranya Saudi Arabia,” ungkap Kiai Imam Sutaji.
Raja tersebut, tambahnya, inign mengadakan pertemuan atau multaqon umat Islam se dunia. Salatu syaratnya adalah utusan negara dan organisasi. Untuk kalangan ulama tradisionalis lewat Komite Hijaz mengutus KH Abdul Wahab Chasbullah dan Syekh Ghanaim Al-Mishri untuk menyampaikan usulan.
“Usulan pertama, membiarkan umat Islam memahami Islam dengan cara bermazhab, bukan dengan Qur’an dan hadits saja. Kedua, situs bersejarah dan kuburuan Rasulullaah tidak diratakan dengan tanah. Berkat usulannya, terwujudlah potongan surga yang terdampar di Nusantara yang bisa hidup dalam perbedaan,” ulas tenaga pendidik Pondok Pesantren AL-Ihsan Jaddung itu.
Dirinya menegaskan, diakui atau tidak, adanya kuburan nabi di Madinah adalah jasa ulama Nusantara. “Inilah pentignya berorganisasi. Prestasi yang dicapai ulama Nusantara adalah menyelematkan keburun nabi di Madinah agar tidak ratakan oleh mereka,” pungkasnya.

