Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Peserta Kuliah Kerja Nyata 01 Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep menggelar seminar kesehatan dengan tajuk ‘Menstruasi Perspektif Islam dan Medis’ di Balai Desa Pananggungan, Guluk-Guluk, Senin (18/07/2022).
Hadir sebagai penyaji Ahmad Mursidi selaku Guru Madrasah Diniyah Annuqayah Latee II Guluk-Guluk dan Fita Rabianti selaku Dokter di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Guluk-Guluk.
Ahmad Mursidi selaku penyaji pertama mengawali penyampaiannya dengan mengorek tentang persepsi darah haid yang berkembang di masyarakat. Di mana, haid bagi perempuan kadang diartikan sebagai sebuah kelemahan, karena mereka tidak bisa laki. Sebenarnya, haid merupakan nikmat besar dari Allah SWT, karena perempuan yang haid masih bisa memiliki keturunan.
“Perempuan yang tidak bisa memiliki keturunan justru merupakan kekurangan besar dalam hidupnya. Oleh karena itu, anggapan bahwa haid adalah kekurangan dan kelemahan bagi perempuan tidak sepenuhnya benar,” terangnya.
Menurutnya, pada saat perempuan hamil, janin dalam kandungannya membutuhkan asupan makanan yang tidak bisa diberikan kepada jabang bayi yang sudah dilahirkan ke dunia. Oleh karena itu, haid yang biasa keluar setiap bulan akan terhenti saat hamil.
“Dalam Islam, perempuan yang haid memang diharamkan melakukan sebagian ibadah, seperti shalat, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi Allah SWT memberikan kesempatan mereka untuk menggantinya di kemudian hari setelah masa haid,” ucap alumni Pondok Pesantren Al-Is’af Kalabaan, Guluk-Guluk.
Meski demikian, perempuan masih diperbolehkan melakukan pelbagai ibadah lain, seperti berzikir kepada Allah SWT dengan lisannya atau dengan hatinya. Dewasa ini, perempuan menghadapi banyak problem yang berkaitan dengan haid, karena kadang haid tidak keluar secara teratur dan melebihi batas maksimal masa haid sebagaimana ditentukan oleh ulama fiqih klasik.
“Berdasarkan hasil observasi ke kaum perempuan yang haid bahwa masa haid paling sedikit adalah satu hari satu malam, ulama fiqih klasik, terutama ulama dari mazhab Syafi‘i, telah mengeluarkan ketentuan bahwa masa haid biasanya adalah enam sampai tujuh hari dan masa maksimal haid adalah lima belas hari,” jelas alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan itu.
Sementara Fita Rabianti selaku penyaji kedua menerangkan, siklus normal perempuan pada setiap bulan adalah haid atau sering disebut juga dengan istilah datang bulan.
“Dimana saat haid seorang perempuan akan mengeluarkan darah dari bukaan vagina terluar dan siklus normal sering terjadi satu sampai dengan tujuh hari lamanya. Menurut pandangan medis dan proses yang terjadi di dalam rahim perempuan, darah haid sebenarnya bukan darah kotor,” terang alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Sumenep itu.
Dirinya menambahkan, darah haid adalah darah yang sama ketika wanita mengalami luka atau bahkan mimisan. Akan tetapi, yang membedakan adalah warnanya tidak menentu yang sebenarnya berasal dari jaringan dinding rahim yang gagal dalam proses pembuahan sel telur setelah ovulasi.
“Karakteristik lapisan dinding rahim mengandung sejumlah pembuluh darah yang akan luruh setiap siklusnya melalui vagina dan memang darah tersebut sangat baik untuk dikeluarkan demi kesehatan setiap perempuan,” jelas alumni Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini.
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sumenep ini menyatakan, setiap perempuan memiliki kesempatan yang tinggi untuk mengalami kehamilan. Hal tersebut berasal dari kesiapan sel telur yang terjadi pada proses ovulasi.
“Karena tidak terjadi pembuahan oleh sperma, maka akan luruh bersama darah di dalam dinding rahim. Sehingga penggunaan alat kontrasepsi sangat dianjurkan jika wanita bersama pasangan hendak menunda kehamilan,” katanya.
Pada saat terjadi haid, sambungnya, maka hormon-hormon seperti estrogen dan progesteron kadarnya semakin turun. Hal tersebut menandakan bahwa seorang perempuan sudah siap untuk menstruasi dan kesempatan untuk mengalami kehamilan menjadi semakin tipis.
“Haid dapat menurunkan kadar Hemoglobin, karena darah yang keluar adalah darah yang sama seperti darah lainnya. Sehingga setiap perempuan akan merasa lemas akibat jumlah kandungan zat besi dalam tubuh berkurang. Namun tidak separah orang yang mengalami anemia,” lanjutnya.
“Memang benar jika dalam medis pun terdapat darah kotor, namun memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan darah haid. Darah kotor dalam pandangan medis adalah darah yang memiliki kelebihan kandungan karbondioksida yang tidak baik bagi tubuh. Karena pada dasarnya darah bersih adalah darah yang mengandung kadar oksigen untuk melancarkan kegiatan metabolisme,” sambungnya.
Lantas, ia mengungkapkan, proses aliran darah manusia berawal dari pusat darah yaitu jantung kemudian melalui paru-paru sehingga memiliki kandungan oksigen. Lalu diedarkan ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung.
“Hiposekmia sebagai kondisi dimana seseorang memiliki sedikit kandungan oksigen dalam darah. Dimana kondisi ini dapat mengganggu fungsi tubuh lainnya termasuk ke dalam organ vital seperti jantung dan otak,” ungkapnya.
“Tanda yang ditunjukkan jika wanita mengalami kekurangan oksigen dalam darah adalah detak jantung menjadi lebih cepat, dada sesak dan nyeri, lemas, gelisah dan sakit kepala. Dengan demikian wanita itu harus segera menghubungi dokter apabila mengalami kondisi dan gejala Hiposekmia, supaya segera mendapatkan tindakan medis yang tepat,” tandasnya.
Di kesempatan yang sama, Fina Fifitrotin selaku Ketua Posko KKN 01 IST Annuqayah Guluk-Guluk mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menanamkan kesadaran khalayak umum akan pentingnya kesehatan sekecil apapun, termasuk saat menstruasi.
“Disadari atau tidak masih banyak kalangan umum yang nyaris menganggap perihal ini sesuatu yang jorok bahkan tidaklah penting untuk dipelajari secara mendalam. Perlahan, anggapan demikian seakan menjadi doktrin tersendiri bagi seorang perempuan bahwa persoalan ini memang tidaklah layak diperbincangkan di hadapan orang banyak, seakan menjadi aib,” tegas Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Latee II Guluk-Guluk ini.
“Harapannya, dapat dimanfaatkan secara baik, hingga membantu meningkatkan kepedulian masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang ibu-ibu yang terdiri dari masyarakat sekitar peserta KKN 01, kepala desa, dan perwakilan beberapa organisasi Desa Pananggungan, Guluk-Guluk.
Editor : Ach. Khalilurrahman

