Gapura, NU Online Sumenep
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH. A. Pandji Taufiq mengatakan, bahwa NU berdiri dan menjadi organisasi sosial keagamaan yang kuat hingga saat ini tidak lepas dari silaturrahim.
Hal itu disampaikan saat Silaturrahim dan Penguatan Jam’iyah dan Jama’ah di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura bersama Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Gapura, pada Ahad, (7/8/2022).
Diceritakan Kiai Pandji, bahwa para Muassis NU sebelum mendirikan jam’iyyah, terlebih dahulu melakukan silaturahim ke sejumlah tokoh. Mulai dari pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Kalimantan hingga ke Lombok. Hal itu dilakukan selama kurang lebih tiga tahun lamanya.
“Mari kita bernapak tilas. Bahwa jejak para Muassis kita dahulu, sebelum mendirikan NU, KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama melakukan silaturrahim ke berbagai tokoh. Itu dilakukan selama tiga tahun,” ujarnya.
Cita-cita besar Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan wadah perkumpulan para ulama rupayanya mendapatkan respons positif. Termasuk dari salah seorang gurunya, Syaikhona Muhammad Khalil bin Abdul Lathif Bangkalan.
Kisah awal berdirinya NU itu, menurut Kiai Pandji sangat penting direnungkan. Utamanya dalam upaya penguatan kelembagaan ranting. Bahwa silaturrahim dipandang sangat ampuh dalam membangun konsolidasi hingga berdampak pada kuatnya organisasi.
“Jadi pengurus ranting perlu terus secara intens melakukan silaturahim. Entah itu kepada sesama pengurus, atau juga kepada masyarakat,” tambahnya.
Dengan silaturrahim, dapat membangkitkan hubungan emosional. Segala perihal yang menjadi persoalan akan mampu dilerai. Konsep Tazawaru Ba’dluhum Ba’dla yang diajarkan para Muassis NU, menurut Kiai Pandji, perlu terus digalakkan.
Dalam perspektif penguatan ranting, silaturrahim menjadi salah satu penentu keberhasilan. Tidak semata untuk kepentingan organisasi, melainkan juga dalam rangka pemberdayaan masyarakat.
“Kalau kita sering silaturrahim, datang ke masyarakat, maka otomatis masyarakat akan merasa diayomi. Dengan begitu, mereka akan antusias menjadi bagian dari Ranting NU,” pungkasnya.
Kiai Pandji pun mengajak untuk bersama-sama menjaga ideologi Ahlussunah Wal Jama’ah melalui Ranting NU. Sebab, struktur NU yang secara langsung bersentuhan dengan masyarakat adalah Ranting NU.
“Kita tidak bisa menjaga ideologi Aswaja hanya dari Kantor PCNU saja. Tentu yang sangat bisa adalah Pengurus Ranting. Karena itu, peran dan kiprah ranting perlu kita kuatkan,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

