Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Perekonomian di Indonesia sedang berubah dan memberikan kesempatan yang lebih luas dan lebih baik kepada perempuan. Jika dibandingkan dengan negara-negara yang tingkat penghasilannya serupa, kemungkinan perempuan di Indonesia masih sedikit dalam berpartisipasi.
Pernyataan ini disampaikan oleh Riski Amelia Novianti selaku pemantik di acara Bincang Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) dengan tajuk ‘Posisi dan Peran Perempuan dalam Menghadapi Ancaman Resesi Ekonomi di Indonesia’, Jum’at (16/12/2022) di kediaman Rafika.
Pengurus KOPRI Guluk-Guluk periode 2021-2022 itu memberikan persentase bahwa di Indonesia perempuan bekerja hanya mencapai 54 persen dibandingkan dengan laki-laki bekerja mencapai 82 persen. Yang mungkin lebih menarik adalah angka ini relatif stagnan selama 20 tahun terakhir.
“Fakta bahwa lebih banyak perempuan tidak bekerja di Indonesia menimbulkan tanda tanya, padahal kemajuan tingkat pendidikan dan penurunan tingkat fertilitas. Jika dilihat dari nilai ujian sekolah, anak perempuan saat ini setara dengan atau melampaui anak laki-laki di setiap jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi,” ujarnya pada anggota KOPRI Komisariat Guluk-Guluk.
Namun hal tersebut, lanjutnya, belum menghasilkan lapangan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik bagi perempuan. Dan meskipun terdapat penurunan angka fertilitas, kebanyakan perempuan keluar dari pasar tenaga kerja setelah menikah.
Dalam sudut pandangnya, perempuan merupakan elemen bangsa yang penting dan strategis. Bukan saja karena jumlahnya besar, tetapi perempuan punya potensi besar untuk menggerakkan perekonomian bangsa. Terbukti, dalam sebuah studi ditemukan bahwa penyebab kurangnya partisipasi profesional perempuan pada kedudukan strategis di dunia kerja tidak lepas dari fitrahnya sebagai seorang ibu.
“Miris, banyak profesional perempuan yang telah berkeluarga memutuskan berhenti bekerja untuk mengutamakan perannya sebagai seorang ibu. Hal ini tentu menujukkan pilihan seorang perempuan untuk tidak menempuh jenjang karir lebih tinggi banyak dipengaruhi skala prioritas. Bukan kemampuan teknis dan kecakapan kerja,” imbuhnya.
Oleh karenanya, sambungnya, ia mengajak agar bekerja bersama membuka kesempatan seluas-luasnya bagi profesional perempuan untuk berkarir setinggi-tingginya tanpa harus menyampingkan perannya sebagai ibu.
“Kondisi tersebut memerlukan perubahan yang tepat agar keseimbangan dan keadilan gender bisa terpenuhi sekaligus dapat menciptakan sumber daya manusia yang memadai di masyarakat,” pungkasnya.

