Lenteng, NU Online Sumenep
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. KH. A. Bakir Ihsan, M.Si mengungkapkan bahwa prestasi di bulan Ramadhan bukan semata-mata soal piala dan gelar juara yang diraih seseorang, tetapi prestasi tersebut bermakna keberhasilan untuk membentuk ketakwaan serta konsistensi dalam ketaatan pasca Ramadhan.
Pernyataan tersebut disampaikan secara virtual oleh Kiai Bakir Ihsan saat mengisi tausiyah pada kegiatan Pondok Ramadhan yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Yayasan Nurul Yaqin Lembung Barat Lenteng Sumenep, Jum’at (27/02/2026) di masjid Nurul Yaqin.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Bakir mengangkat tema besar “Prestasi di Bulan Ramadhan” di hadapan para santri dan guru. Dalam pemaparannya, Kiai Bakir menegaskan bahwa prestasi di bulan suci tidak selalu identik dengan gelar juara atau simbol piala.
“Prestasi itu bukan hanya mereka yang juara lomba lalu membawa pulang piala. Anak-anak MI yang sudah naik atau diterima di tingkat MTs itu sudah prestasi. Anak-anak MTs yang naik atau diterima di SMAI itu juga sudah prestasi,” ujar Guru Besar Bidang Ideologi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Ia mengungkapkan, makna prestasi di bulan Ramadhan harus dikembalikan pada tujuan utama puasa, yakni membentuk jiwa yang bertakwa dan mampu menundukkan hawa nafsu.
Menurutnya, keberhasilan seseorang dalam mengendalikan diri dari dorongan nafsu merupakan capaian spiritual yang jauh lebih bernilai daripada sekadar penghargaan lahiriah.
“Seorang yang berpuasa hendaknya mampu bertahan dari semua bujukan nafsu. Karena bujukan itu dapat mengurangi bahkan menghapus pahala puasa. Ini kesia-siaan yang harus kita hindari,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Yaqin Lembung Barat ini menyampaikan bahwa prestasi Ramadhan tidak selalu terasa seketika. Ada kalanya buah dari latihan spiritual selama sebulan penuh itu baru dirasakan setelah Ramadhan berakhir.
“Konsistensi dalam kebaikan menjadi indikator utama keberhasilan tersebut,” jelas alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini.
Kiai Bakir juga menekankan bahwa kategori berprestasi tidak terbatas pada ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa. Aspek hablum minannas juga menjadi bagian penting dari prestasi Ramadhan.
“Membantu sesama, mengambil duri di jalan, menjaga kebersihan lingkungan, mematuhi aturan pondok Ramadhan, itu semua bagian dari prestasi. Apalagi jika dilakukan terus-menerus setelah Ramadhan,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberlanjutan menjadi kunci utama. Seseorang baru benar-benar disebut berprestasi di bulan Ramadhan apabila kebiasaan baik yang dilatih selama sebulan penuh tetap istiqamah pada bulan-bulan berikutnya.
“Kalau setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, berarti madrasah Ramadhan belum berhasil,” ujar alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Kiai Bakir juga menekankan pentingnya landasan ketakwaan dalam setiap karya dan usaha. Ia menegaskan bahwa setiap prestasi yang dibangun di atas prinsip pengabdian kepada Allah akan melahirkan kemaslahatan yang luas.
“Jika setiap karya kita dilandasi ketakwaan, maka prestasi itu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi akan membuahkan kesejahteraan bagi umat manusia di dunia dan akhirat,” jelasnya.
Menutup tausiyah, ia mengajak para peserta Pondok Ramadhan untuk memaknai Idul Fitri bukan sekadar perayaan lahiriah.
“Bukan dinamakan hari raya jika hanya berhias dengan pakaian baru. Hari raya yang sesungguhnya adalah ketika ketaatan kita semakin bertambah, penghambaan kita semakin kuat, dan akhlak kita semakin baik,” pungkasnya.
Kegiatan Pondok Ramadhan Yayasan Nurul Yaqin tersebut diharapkan menjadi momentum pembentukan karakter bagi para santri, agar Ramadhan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi ruang lahirnya generasi yang berprestasi dalam makna yang hakiki, yakni prestasi ketakwaan yang berkelanjutan.

