Di Pesantren
Di pesantren
aku belajar banyak hal,
bukan hanya dari kitab-kitab kuning
yang dibaca berulang-ulang
sampai mata berkunang.
Aku belajar dari kesederhanaan.
Dari sarung yang tak pernah malu
menjadi pakaian harian.
Dari sandal jepit
yang setia menemani langkah demi langkah
menuju langgar kecil
yang lampunya kadang temaram.
Masih kuingat dawuh kyai:
ilmu bukan hanya yang kau hafal,
tapi yang menjadikan hatimu
tidak merasa paling benar.
Di bawah langit yang sama
para santri mengulang doa-doa lama—
doa yang diwariskan para ulama
yang mencintai negeri ini
seperti mencintai rumahnya sendiri.
Orang-orang kerap menyebutnya
Nahdlatul Ulama.
Tapi bagi kami
ia hanya jalan sunyi
untuk tetap tawadhu’
di tengah dunia
yang penuh hiruk-pikuk.
Di pesantren
kami belum tentu menjadi alim,
tapi setidaknya
kami sedang belajar
menjadi manusia.
Nelly Fauzia lahir di ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Sumenep, pada 12 Februari 2004. Ia mulai menyukai dunia literasi sejak bangku SMA. Kegemarannya menulis melahirkan beberapa karya puisi yang kemudian dimuat dalam berbagai buku antologi puisi. Saat ini, ia mengabdikan diri di dunia pendidikan sebagai pengajar materi Aswaja dan Ke-NU-an di MTs Nurul Yaqin.

