Image Slider

Muhasabah di Pergantian Tahun

Oleh: A. Warits Rovi

Tiba-tiba tahun baru datangseolahbegitu saja, tanpa perputaran yang berarti, membuat diri ini merasakan waktu yang singkat dengan gambaran ilusif; seakan baru kemarin tangan ini memasang kalender tahun 2020, dan hari ini telah diganti. Kalender itu telah berubah predikat jadi kalender lama; digulung bersama segala bentuk peristiwa yang mewarnainya. Di beberapa bagian ada lingkaran dan tanda lain sebagai kode aktivitas atau kejadian yang berkaitan dengan dinamika hidup; semua telah sublim jadi kenangan, baik pahit ataupun manis. Jika mau berpikir kreatif, sejatinya pada kenangan tahun lalu itulah ada komposisi bahan ajar evaluatif untuk dijadikan bahan pertimbangan guna menentukan langkah dan planing hidup tahun ini dan berikutnya.

Sejenak, sebelum kita berbicara kalender baru yang masih mengkilat dengan kuar harum tinta percetakan itu, ada baiknya kita renungkan beragam kejadian di kalender lama; tahun 2020 identik dengan tahun masker dan tahun kekhawatiran. Sepanjang tahun itu dunia geger oleh merebaknya covid 19. Beragam aktivitas seketika bermutasi pada teknik baru yang serba darurat. Realitas tak terduga tersebut juga memunculkan solusi tak terduga pula yang tak pernah terbayangkan tetapi penuh hikmah. Work From Home jadi alternatif setiap kegiatan. Suasana tersebut memantik munculnya sua virtual yang menyatukan skema jarak antara yang satu dengan dengan yang lain dalam satu rajutan pertemuan di dunia maya dengan segala keterbatasannya, bahkan perayaan hari raya Idul Fitriyang lazim sebagai jalan pulang melepas kerinduan sekaligus momentum mengikat tali silturrahmidi tahun 2020 lalu hadir tidak seperti biasanya. Silaturrahmi virtual pun kembali jadi solusi; rindu dan sakralitas sebuah jabat tangan dan kata maaf tersampaikan dari jarak jauh, pun dalam kondisi batin yang masih diliputi kecemasan pada covid 19.

Di tahun itu, kepongahan modernitas beserta seluruh progresi pemikiran mutakhirnya seperti koyak hanya oleh serangan makhluk kecil bernama virus. Ada banyak kegiatan yang mogok dan tertunda. Hal itu berimbas pada yang lain sehingga membentuk efek domino dari satu sebab melahirkan bermacam akibat yang seperti paralel menarik roda kehidupan pada satu medan yang menyakitkan. Aktivitas perekonomian melemah dan mengalami banyak kerugian, baik kerugian sektoral maupun kerugian individual.

Sebagaimana yang dikutip dari berita Antara, Suryo Utomo dari Kementerian Keuangan mengungkapkan tiga dampak besar pandemi covid 19 bagi perekonomian Indonesia, antara lain: pertama, konsumsi rumah tangga atau daya beli menurun dari 5,02 % pada kuartal I 2019 menjadi 2,84 % pada kuartal I tahun 2020. Kedua, ketidakpastian pandemi yang berkepanjangan berimplikasi pada melemahnya investasi dan berhentinya usaha. Ketiga, seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyababkan harga komoditas turun dan ekspor ke bebepa negara terhenti. Selain perekonomian, aktivitas pendidikan dan lainnya juga berjalan tidak normal, dan di tahun itu pula, banyak ulama NU meninggal. Meski belum tentu karena serangan covid 19, setidaknya peristiwa sungkawa itu kian menjadi senarai buram perjalanan kalender tahun 2020.

Secara umum Tahun 2020 telah memantulkan warna gradasi hidup yang suram meski di balik itu tak menampik kenyataan terdapat hikmah yang bisa dipetik. Hikmah yang paling nyata adalah adanya gugahan positif bagi setiap orang untuk menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan yang selama ini mungkin sedikit diabaikan. Selain itu juga menstimulasi kesadaran spiritual bahwa kecanggihan teknologi dan daya pikir manusia tiba-tiba jadi tak berarti oleh gelombang ujian yang diturunkan oleh Allah. Padahal ujian tersebut hanyalah sebuah virus yang tak kasatmata, masih bukan material berwujud yang bisa dipastikan akan berdampak lebih signifikan.

Setelah kalender lama, tibalah kini kita berdiri di hadapan kalender baru setelah semalam, pada titik 00:00 ada titik pindah atau mungkin titik hijrah yang momentumnya kerap dirayakan dengan beragam selebrasi, mulai dari bentuk sederhana seperti sekadar mengirim ucapan selamat dan doa hingga yang dalam bentuk seremonial sebagaimana yang tersiar di beberapa media.

Kalender baru sebagaimana yang galib dimaklumi hadir menjadi peta masa depan yang memberikan serangkaian rencana-rencana terutama yang mengarah pada perbaikan diri atau secara umum yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup seseorang beserta keluarga dan lingkungannya. Wajarlah bila di penghujung tahun, seseorang membuat resolusi bahkan sampai ada yang ditulis di selembar kertas dan ditaruh di tempat yang mudah dilihat; demi memacu spirit untuk terus menyongsong hari depan dengan segala perubahan. Di titik ini, seseorang kadang lupa diri, seperti hendak hidup selamanya dan tak ada keraguan pada kekuatan lain di luar dirinya yang mungkin tiba-tiba saja datang merampas rencana itu atau bahkan merampas dirinya sendiri. Kealpaan itu yang sering mendorong seseorang tak lagi ingat pada jalan suci pengabdiannya kepada Sang Khaliq.

Dari pergantian kalender lama ke kalender kalender baru, ada makna tersirat yang mengandung pesan didaktis untuk dicermati, yaitu mengenai waktu atau masa. Pergantian tahun menunjukkan masa yang terus berjalan. Seiring berjalannya masa, kuota usia manusia kian pendek, mendekati titik akhir yang berupa kematian. Setiap tahun yang berganti, sejatinya telah terjadi pengikisan jatah usia yang dimiliki seseorang. Waktu pada tahun yang telah berlalu itu tak sepenuhnya digunakan dengan baik bahkan bisa mungkin malah digunakan pada hal yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Perjalanan waktu atau masa tersebut jarang disadari oleh manusia, padahal waktu adalah di antara sesuatu berharga yang tak bisa kembali.

Allah dengan tegas menyatakan dalam surat Al-Ashr bahwa Demi masa, sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Al Ashr, menurut pendapat yang terkuat adalah Ad-Dahr atau Az-Zaman yang bermakna masa. Dalam ayat itu, Allah menyebutkan masa sebagai landasan kerugian tersebut. Sejenak ketika berbicara masa, kita akan bersinggungan dengan sebuah kesementaraan, kalender lama segera berganti kalender baru, padahal seperti masih kemarin Januari 2020 tiba-tiba kini sudah Januari 2021. Bila ditarik kesimpulan analogis betapa perjalanan hidup ini begitu cepat, dan kecepatan tersebut berjalan di atas takaran umur manusia yang sudah ditentukan sejak di alam rahim, tidak bisa ditambah dan tidak bisa dikurangi.

Di tahun 2020 yang lalu, mungkin kita merasa banyak mengalami sebuah kerugian karena melemahnya kegiatan ekonomi oleh sebab terjangan covid 19, tetapi pada hakikatnya semua tak sadar bahwa kerugian materi itu sebenarnya tidak seberapa dibanding dengan kerugian waktu karena tidak digunakan pada hal-hal yang diridai Allah. Maka melalui tulisan ini, di momentum pergantian tahun ini, hal yang urgen dipertimbangkan atau diayak dalam pikiran adalah seberapa maksimal kita menggunakan jatah waktu dalam setahun untuk sebuah kebaikan. Maka pada lembar kalender yang sudah terganti itu, upayakan diri ini juga mengganti kebiasaan buruk yang hanya membuat waktu kita sia-sia dan malah berbuah dosa dengan kebiasaan baik yang diridai Allah.

Selamat tahun baru, semoga pergantian kalender ke yang baru bisa membarukan diri kita secara dinamis terutama dalam hal penggunaan waktu yang baik sesuai rambu-rambu yang diajarkan Islam.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga