Image Slider

Turba LDNU Sumenep di Manding, Pertegas Ciri Mendasar NU

Manding, NU Online Sumenep

Ahad (07/02/2021) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep turba ke Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Manding dalam rangka menghadiri kegiatan Bahtsul Masail dan Konsolidasi Organisasi MWCNU Manding.

Acara yang bertempat di kediaman K. Nardi Mushalla Nurul Hadis Desa Manding Dajah Kecamatan Manding Kabupaten Sumenep itu dihadiri pengurus ranting dan MWCNU serta badan otonom (banom) NU. Kegiatan itu juga dikemas dengan santunan bagi anak yatim dan dhuafa oleh NU-Care Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZISNU) Manding.

K Asmuni Hasan, Rais MWCNU Manding berharap bahwa kehadiran LDNU Sumenep kali ini dapat menambah pencerahan bagi pengurus yang hadir. Beliau menjelaskan di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung berkesudah ini, dirinya tetap berupaya memajukan kegiatan NU dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Sebagai wujud dukungan terhadap kajin-kajian ngaji kitab kuning setiap setiap malam Kamis yang digagas anak muda NU itu, karena menurutnya salah satu tujuan NU menggali pemahaman kitab kuning untuk mendalami agama dengan benar.

“Setiap ada pertemuan NU, mari kita dalami kitab kuning seperti Sullam at-Taufieq agar semakin memahami agama kita, dan tidak mudah mengafirkan orang lain”, ujarnya mencermati fenomina takfiri dewasa ini.

Selain itu, kata beliau, perlu banyak mendoakan keselamatan warga NU di masa pandemi Covid 19 dengan memperbanyak doa, dzikir, bacaan shalawat burdah dan amailyah-amaliyah lainnya. Doa keselamatan itu, menurutnya tidak harus berpusat di satu tempat, melainkan bisa menyebar di berbagai mushalla, masjid dan pesantren.

Beliau juga meminta, yang baru pulang dari pondok pesanyren agar segera ditampung di kumpulan NU.

Pengarahan dari Pengurus LDNU Sumenep, K. Surya Fajar Rasyid mengungkapkan bahwa semua kegiatan lembaga periode ini diorientasikan guna memperkuat ranting NU.

Beliau memulai penguatan dengan bertanya, kenapa kita berorganisasi NU?, karena Allah yang memerintahkan kita agar ada diantara hambanya yang mengajak kepada kebaikan, menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran.

“Mengajak kebaikan itu artinya mengajak kepada agama Islam. Kalau tidak berorganisasi, bagaimana kita sistematis dapat mengajak kebaikan. Jika tak berorganisasi, maka kita akan kalah dengan kelompok lain. Maka dakwah itu harus ada wadahnya, salah satunya Nahdlatul Ulama”, ujarnya penuh nasehat.

Beliau juga menyebut NU didirikan oleh ulama waliyullah yang sanad keilmuannya nyambung kepada baginda Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam.

“Karenanya, maka bantu perjuangan ulama NU. Kata pendiri NU, siapa yang membantu perjuangan NU akan dianggap santrinya. Siapa jadi santri NU, maka akan didoakan husnul khatimah dirinya dan anak cucunya”, ujarnya menyitir dawuh Hadratus Syekh KH. M. Hasyim Asyari.

Selain yakin dengan NU, katanya, kita harus tahu sejarah NU, sejarah berdirinya NU, sejarah lukisan inspirasi langit lambang NU, dan juga faham sumber hukum islam di NU.

“Sumber hukum kita Al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Kalau hanya ansih menyandarkan pada Al-Quran Hadis dan mengabaikan ulama, niscaya kita tak mungkin tahu praktek shalat, karena prakteknya ada di kitab kuningnya ulama”, tambahnya lagi makin khusuk.

Beliau tambahkan bahwa NU menggunakan cara bermadhab dalam memahami agama. Di bidang Aqidah bermadhab pada Ulama Abul Hasan Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi. Di bidang Syariah, bermadhab kepada salah satu imam yang empat Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali. Dan di bidang tasawuf bermadhab pada Imam Al Ghazali dan Imam Junaidi Al Baghdadi.

Selain itu kita harus tahu ciri dan prinsip NU. Yaitu Tawassuth, selalu memiliki pandangan tengah menyikapi keadaaan. Tak seperti faham lain yang kadang ekstrim kanan atau ekstrim kiri.

Selain tawassuth juga tawazun, seimbang antara dalil aqli dan naqli. Warga NU, tambahnya juga harus memahami Tasamuh, tolerans, menghargai perbedaan,

“Ketika berhadapan dengan yang berbeda agama, NU tak memusuhinya sepanjang dia tak memusuhi dan merongrong kita”, tuturnya lembut.

Sikap Tasamuh itu, imbuhnya digambarkan seperti prilaku Nabi Muhammad SAW saat hidup di Madinah. Nabi di Madinah hidup berdampingan dengan orang di luar Islam Yahudi dan Nasrani dengan damai jauh dati konflik.

Contoh tokoh yang dikagumi dunia karena mampu menghargai perbedaan agama dan keyakinan yang beragam adalah seperti Gusdur. Beliau berkawan dengan jenis agama apa saja tanpa sekat. Saat beliau meninggal, maka yang menangis dengan kepergiannya bukan hanya umat Islam tapi juga non muslim bersimpuh di pusaranya karena sepanjang hidup beliau pluralis dan menerapkan toleransi dengan sebenarnya toleransi.

Harokah kebangsaan NU, tambah beliau, tak ada sejarahnya NU memberontak kepada negara. NU tak senang mengunakan cara parlemen jalanan dalam menyuarakan keadilan. Mengkritik ketidak adilan bagi NU harus menggunakan cara-cara konstitusi. Menjadi warga NU juga jangan abu abu. Harus faham NU secata amaliah dan gerakan.

“Menjadi warga NU jangan rasa-rasa, amaliahnya NU tapi harokah kebangsaannya seperti rasa wahabi, atau rasa HTI. Jangan!”, Singgungnya mendalam.

Beliau juga meminta agar mengamalkan ajaran islam, binahdlatil ulama. Amaliah NU, katanya seperti tarawih dan witir 23 rakaat, bukan 11 rakaat. Ciri shalat subuh NU rajin membaca Qunut.

Yang terakhir, ciri mendasar NU itu berdakwah binahdlatil ulama. Sekarang tuntutan dakwah bukan hanya billisan tapi juga bilkitabah atau bil medsos. Startegi dakwah hari ini tak cukup billisan tapi juga harus menguasai media.

“Menjadi warga NU harus meramaikan stasiun tv dan radio milik sendiri, chanel digital milik sendiri, agar tak terombang- ambing oleh ptovokasi medsos dari kelompok lain”, ujarnya lagi.

Yang paling akhir, tambahnya, Asshabru binahdlatil ulama. Menjadi warga NU itu harus sabar. Di NU banyak sumbangan, harus sabar, karena kata K As’ad Syamsul Arifin, jadikan NU sebagai istri jangan jadikan sebagai suami.

“Artinya apa, menjadikan NU sebagai istri kita harus membiayai NU dari kantong kita sendiri. Jangan malah meminta biaya pada NU atau mencari penghidupan di NU”, pungkasnya.

Acara selanjutnya diteruskan dengan sidang Bahtsul Masail yang membahas masalah vaksin.

Editor : A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga