Image Slider

Gaya Pesantren Mengelola Sekolah

Judul Buku      : Pengembangan Kompetensi Guru

Penulis             : Saeful Kurniawan

Penerbit           : Literasi Nusantara

Cetakan           : Oktober, 2019

Tebal               : 262 halaman

ISBN               : 978-6230-009-549   

Presensi           : Habibullah*

Pesantren adalah basis pendidikan Islam yang selama beberapa dasawarsa menyumbangkan jasa perjuangan ke negeri ini.Hal itu bisa dilihat dari perjuangannya membantu meraih kemerdekaan lewat perjuangan fisik, menumbuhkan kesadaranakan haramnya kolonialisme Belanda, hingga jihadnya merajut persatuan lewat adonan kompromistis suara nasionalis dan golongan Islam.

Dari sisi pendidikan, bersama dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan bangsa, pesantren juga membuka diri tanpa kehilangan jati diri. Buku ini mencoba meneliti sekolah di tiga pesantren besar, yakni Sidogiri, Salafiyah Syafi’iyahSukorejo, dan TMI Bondowoso. Pesantren yang terakhir adalah pesatren modern.Sedangkan dua pesantren sisanya adalah model salaf.

Pesantren Sidogiri sudah dikenal luas oleh masyarakat dari segi pengembangan ekonomi berbasis swalayan.Namun, sedikit sekali mengenal seluk beluk pendidikan yang dikembangkan di pesantren tertua ini. Basis ekonomi yang kuat membuat pesantren ini independen dari cengkraman bantuan financial pemerintah.Tidak hanya menegasikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tapi juga tunjangan sertifikasi danfungsional bagi guru. 

Penulis buku ini, Saeful Kurniawan, melihat satu “keanehan” dari segi kebijakan honorarium yang diberikan kepada para guru di sana. Sebagai pesantren kaya, Sidogiri tidak menggelontorkan honor besar kepada para dewan guru. Anehnya pula, para guru tidak merasa keberatan dengan hal itu.Prinsip barakah mendominasi pemahaman mereka. Bukan nominal yang dikejar.Tapi barakah. Pemahaman ini begitu mantap diyakini sehingga kecilnya nominal honor tidak mengganggu semangat mereka mengajar.

Kendatipun mempertahankan pembelajaran kitab kuning semata, menurut SaefulKurniawan, metode pengajaran tetap update dengan perkembangan zaman.Para guru diikutkan beragam lokakarya, seminar, pelatihan,dan beragam program lain untuk meningkatkan kompetensi mereka.Hanya guru sepuh yang bersikukuh dengan metode pengajaran lama.Kelas mereka senyap.Guru-guru muda  sebaliknya merasa terbantu dengan beragam pelatihan sehingga mereka mengetahui dan mengaplikasikan beragam metode pengajaran. Implikasinya terasa.Siswa kerasan di kelas.

Media teknologi juga intens diterapkan di Sidogiri. Guru dan karyawan tidak gaptek. Media tersebut juga sangat membantu efektifitas pembelajaran.Satu keunggulan unik dari metode pembelajaran Sidogiri adalah tawasul.Berdasarkan penelusuran Saeful Kurniawan, tawasul ini dilakukan di makbarah para kiai pendiri pesantrenc Sidogiri. Dan ini ampuh membantu efektifitas pendidikan di sana. Pasalnya, jika ada persoalan yang tidak bias dipecahkan dengan cara yang lumrah, arwah para kiai ini hadir memberikan solusi.

Kendatipun sama-sama pesantren salaf, Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo berbeda dalam merespons terhadap bantuan pemerintah.Bantuan dana BOS diakomodasi. Begitupula tunjangan fungsional dan sertifikasi diambil.Implikasinya positif. Menuruf SaefulKurniawan, sejumlah guru yang menerima tunjangan sertifikasi lebih aktif dan efektif mengajar karena memiliki tanggungjawab moral sekaligus tangungjawab finansial.

Menurut Saeful Kurniawan,  pesantren dituntut mengembangkan kompetensi gurunya karena pemerintah bertindak diskriminatif. Ini bias dilihat dari kurang meratanya guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) – yang lumrahnya ahli dankompeten dalam satu bidang pengajaran – di lembaga pendidikan swasta, termasuk di pesantren.Ini juga sebagai kritikan.Sebab, jika pemerintah hanya focus mengembangkan sekolah negeri, maka ada diskripansi pendidikan dan kesenjangan sosial.Jika lembaga swasta terbukti mampu mengembangkan potensi gurunya secara mandiri, bukan tidak mungkin ia akan semakin tidak menerima kehadiran pemerintah dengan seluruh iktikad baiknya.

Sebagai sebuah disertasi, pada dua bab pertama buku ini kaya dengan sajian teori pengembangan kompetensi guru yang diciduk dari beragam literatur.Membaca kekayaan gagasan tersebut, pembaca bias merasakan betapa penulis yang berprofesi sebagai dosen ini sangat menguasai tentang seluk beluk pendidikan.Tidak hanya berhenti di situ, Saeful Kurniawan juga,memadukan sekarung idenya itu  dengan kompetensi praktis yang diterapkan para guru di tiga pesantren yang ditelitinya tersebut.

*Habibullah, Guru di Pesantren Annuqayah, Sumenep. Aktif bergiat di Literature Circle Club.

 

 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga