Cerpen: Anwarsyah
Sepeninggal suami yang kaya itu, ia sering didekati laki-laki. Termasuk seorang pemuda, artis dangdut ‘papan sedang’–tidak terlalu buruk dan tidak terlalu terkenal, teman suaminya kala hidup dulu. Seperti ikhlas: ia menemani, dan membiasakan omg anak-anak dengannya. Cara ekstrak yang menjerat. Mendekati, perhatian, seolah-olah tahu dengan kepedihan Meiga. Lunak, tapi menggaet hatilah sasaran tembaknya.
Benar kiranya. Laki-laki itu mendapatkan hati Meiga. Padahal ia ada niat terselubung–nikahi, lalu buat pesta mewah. Artis-artis hadir, media-media memberitakan: dari yang kecil sampai besar; dari tanpa iklan sampai ber-iklan. Dari penulis jendela, dinding, buku harian, sampai pada penulis beribu lembar. Dari yang celoteh di medsos, miskin like, miskin komen, dan miskin bayaran sampai pada penulis berlimpah nobel, tentu akan hadir. Ia akan terkenal di seantero negeri–namanya akan melambung. Dia tersenyum bahagia–ketawa sana-ketawa sini, hakhak sana-hekhek sini, sapa sana-sapa sini.
Sebenarnya, pernikahan yang membuat laki-laki itu terkekeh, bagi Meiga hal yang biasa saja. Mengeluarkan uang segitu, hanya seperti membuang satu di antara ribuan kelereng. Kesan wajahnya: antara bahagia dan tidak. Biasa saja! Miskin ekspresi, atau malah cenderung dingin. Sering Naivar memancing, merayu, mencolek, bahkan sesekali terlihat menggelinjang-gelinjang agar mereka berdua terlihat bahagia, tapi tak berhasil. Bagi Meiga: berada di tengah perhatian orang banyak; kilauan sorot kamera; bermanis muka dan terkesan bahagia, hal yang tidak biasa ia lakukan.
Setahun pernikahan mereka. Meiga tetap terkesan biasa juga. Tidak pandai cantik di depan kamera, apalagi centil seperti yang diharapkan. Kalau para seleb membuat terebosan dengan dandanannya, goyangan, mobil mewah, perkelahian, terlibat narkoba, menjatuhkan harga diri, itu demi menggenjot nama. Naivar dengan menikahi janda kaya, tetapi ketenarannya tetap begitu-begitu juga. Sensasi yang dia buat tidak membuat perhatian produsen, rekaman, dan kontrakan media padanya. Seperti wajah Meiga tanpa ekspresi dingin tiada pengaruh apa-apa pula.
Melihat Meiga tidak berubah, Naivar tidak senang. Ia ingin mengatur kebiasaan Meiga, sementara Meiga ingin pula mengatur Naivar. Rumah tangga baru Meiga tidak berumur panjang. Setahun pernikahan, Naivar mencerai gugat. Dulu bergegas minta menikah, sekarang dia pula yang minta menceraikan; hakim agama pun memutuskan mereka bercerai.
Meiga ditinggal. Sehari-dua hari biasa-biasa saja, tapi ketika melewati bulan, rasa kehilangan mulai terasa. Kesal, marah bercampur dendam. Dibujuk hati dengan yang sudah dimiliki: harta berlimpah, rumah, kendaraan mewah, dan kasih sayang keluarga, tapi semua itu tidak membuat kesal di hati terobati.
Saat hari-harinya seperti itu, ada artis muda menawarkan bisnis, ia menyetujuinya. Mereka pun sering bertemu, dekat dan akrab. Pengajaran Naivar mulai terlihat, ia sudah bisa bertingkah manja di depan teman artisnya. Sudah pandai ber-muke up dan kesan genitnya mulai tampak. Dia berubah buruk: tidak sungkan, pandai mengejar. Dulu tidak tertarik dengan rekan bisnis sekarang ingin nikah dengan rekan bisnisnya. Dulu tidak pandai memulai mendekati, sekarang malah pandai menggaet. Pandai pula memperlihatkan signal-signal centil; pandai mengajak makan siang; bertemu dan berdekatan. Ketika lelaki itu mengajak nikah, Meiga pun mau dan itu yang dinanti.
Kali ini, rumah tangga Meiga juga tidak lama. Mereka bercerai: bukan sekadar menjelma seperti dirasuki kejahatan, tapi kejahatan itu sendiri. Ketika ingin bule, dia mengejarnya, nikah dengan bule. Ingin laki-laki Cina, dia pun menikahi laki-laki Cina. Karena tingkahnya yang buruk itu, ia dinasihatioleh keluarganya.
“Perhatikanlah keluarga dan bisnismu. Berhentilah berpetualang jahat; berhentilah menikah-cerai! Yang dicari apa? Sudah sering menikah, tapi tidak ada yang bertahan. Sosok suamimu takkan pernah tergantikan; atau kau takkan pernah puas. Oleh karena itu sadarlah!” Tapi Meiga tidak berhenti. Sampai pada suatu ketika begitu ingin menikah dengan laki-laki dari Jerman, semuanya melarang. Dia tidak mau. “Apa yang Kau cari?” Dengan sombongnya dia menjawab. “Saya ingin mengoleksi laki-laki.” Habis akal untuk menegurnya. Sudah banyak cara dicoba, tapi tidak didengar. Kini ia ditinggalkan.
Bahkan, orang kampung pun mulai muak: melupakan kebaikan almarhum suaminya dan mengusir dari kampung. Ia pun tak pulang-pulang. Permainannya sekarang Jakarta dan luar negeri; infotaimen pun memberitakan tentang permainan dan bisnisnya. Dan sampailah pada saat dia sakit tak terobati, berobat ke sana-sini bahkan sampai pula ke luar negeri, hartanya sudah mulai habis, tapi tak juga sembuh. Akhirnya sekarang dia pulang kampung.
*
Kampung ini terletak di tepi sungai. Rumah berderet bertepian landai. Gemercik air, kicau burung; tiupan angin berderik di dahan kayu; hijau terpancar dari pohon manggis, langsat, rambutan, kelapa, durian dan daun kapas. Semuanya terlihat asri. Penghasilan terbesar penduduknya adalah kapas. Kualiatas kapas mereka terkenal di tingkat nasional bahkan sampai ke luar negeri. Siapa yang mengembangkan tanaman kapas di kampung ini? Ia adalah Rizal suami Meiga. Bos, dan pengembang tanaman kapas. Laki-laki sederhana, ramah dan jujur. Tidak ada harga yang ditekan rendah untuk mengeruk untung. Transparan: tidak tipu-tipu; tidak curang-curang. Karena perjuangannya, kampung ini sudah diaspal dan ber-PLN sebagus kota.
Di ujung sana ada sebuah pesantren. Satu-satunya sekolah agama di daerah ini dan sekarang banyak kedatangan santri. Kiai Shadiqi kesusahan menggerakkan perjalanan sekolahnya. Kekurangan ruang belajar dan biaya operasional. Sementara bantuan Pemda setempat sangat minim. Orang yang menyumbang untuk fisik dan menggratiskan anak penduduk selama ini pun sudah meninggal dunia–dia adalah Pak Rizal.
Kita ketahui, dalam keadaan sakit, Meiga sekarang berada di kampungnya ini. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan, masyarakat pun semuanya pada heran. Karena dalam keadaan sakitnya ia ingin dinikahkan dengan Kiai Shadiqi. Katanya ingin bertobat, dia ingin merubah keadaan hidupnya. Bapak, ibu, anak-anaknya dan orang-orang melarang.
“Manusia kotor tidak boleh nikah dengan Kiai.”
“Kau dalam keadaan sakit, pikirkan saja kesembuhanmu!”
“Kami tidak rela, seorang guru, tokoh agama, menikah dengan orang yang harga dirinya sudah tercemar.”
“Tak mungkin Kiai akan suka,” demikian kata keluarganya dan masyarakat.
“Biarlah, yang penting niat saya harus sampai. Pertaubatan ini belum cukup sebelum saya bersuamikan seorang yang mampu membimbing, dan saya anggap baik selama ini. Sekolahnya itu adalah aset kampung ini, bahkan aset negara ini. Semua kita harus merasa memiliki. Siapa lagi kalau bukan kita. Harus dibantu, dijaga, dikembangkan dan dipertahankan. Saya akan sumbangkan sebahagian besar harta peninggalan suami saya yang tersisa pada pesantrennya.” Meiga menerangkan niat, walaupun orang-orang tidak percaya, lagi pula Kiai dapat dipastikan tidak akan menerima.
Seringkali Meiga meminta keluarganya agar menyampaikan maksudnya itu tapi tidak ada yang mempercayai, dia pun berkata, “Saya akan pergi sendirian untuk mengutarakannya, tapi apakah tidak akan merusak martabat Kiai dan keluarga kita dengan datangnya saya sendiri, sementara niat saya halal dan baik padanya?”
Melihat kenekatan Meiga, ayah dan ibunya menemani untuk menyatakan niatnya menjadik istri Kiai itu.
Setelah semuanya disampaikan, kiai Menjawab. “Saya bersedia menjadikanmu istri, dengan syarat: pertama, engkau harus bertobat. Kedua, engkau harus bicara degan istri saya dengan baik, minta izin, maklumkan dia–dari hati-ke hati. Jika ia menginzinkan, maka saya akan terima. Ketiga, untuk beberapa bulan ini, engkau tinggal di rumahmu dulu. Dan setelah itu, engkau harus tinggal di komplek pesantren. Keempat, untuk sementara kau harus menutup diri dari media, dan bila sudah selesai masanya, secara berdua kita pilah informasi yang akan disampaikan. Kelima, kau harus menambah pengetahuan agama, belajar padaku, dan mengikuti majlis ilmuku.”
Meiga menerima syarat itu. Setelah mendapat izin dari istri pertama Kiai, Meiga menikah dengannya, sederhana dan tanpa pemberitahuan media. Karena serius memperbaiki diri, dia selalu mendekatkan diri pada Tuhan sesuai bimbingan. Kondisinya membaik. Meiga mendapatkan ketenangan. Penyakitnya yang tak terdeteksi itu, kian hari bertambah pergi dan sehat seperti sedia kala.
Suatu ketika ia bertanya, “Bang, kenapa engkau memberikan lima syarat, untuk menjadi istrimu?” Tanya Meiga pada Kiai dengan panggilan abang karena sudah menjadi suaminya.
“Syarat pertama, engkau harus tobat, penyakit engkau tidak akan sembuh selain pertaubatan, karena memang ada penyakit dapat disembuhkan dengan betobat. Kedua, saya tidak mau terlalu menyakiti hati istri saya, jika tidak diizinkan, maka saya tidak akan menikahimu, walaupun di sebalik izinnya ada rasa sedih. Ketiga, pernikahan adalah ikatan suci, harus terus terkesan suci dan harus tahan uji. Dengan beberapa bulan engkau masih tinggal di rumahmu–tidak terlihat tergesa-gesa dalam pergaulan kita. Apa lagi bila sudah diketahui media, maka akan terbuka besar penilaian saya memanfaatkanmu, hanya menyukai hartamu dan penilaian negativ lainnya. Dan setelah itu Kau harus tinggal di kompelks pesantren, pergaulan engkau akan lebih terjaga, bergaul dengan orang yang baik–para penuntut ilmu dan proses pertaubatanmu lebih mudah. Keempat, tidak semua harus di mediakan, bermedia harus bijak, dalam rangka itu engkau harus menutup diri sementara, setelah Kau pandai, maka kita harus sama-sama menyaringnya. Kelima, pertaubatanmu harus disempurnakan dengan menuntut dan menambah ilmu pengetahuan, agar kelak menutup mata setelah Kau punya kebajikan dengan ilmu pengetahuan.” Senangnya hati Meiga mendengar ungkapan kiai yang sekarang sudah menjadi suaminya.
“Kenapa Engkau memintaku untuk menikahimu?” sekarang kiai yang punya pesantren itu bertanya.
“Pesantren dan kesalehan adalah aset umat, tidak semua orang mampu. Ia harus dijaga dan dikembangkan. Aku seorang janda kaya. Aku hanya ingin memastikan harta peninggalan suamiku yang banyak itu, dimakan oleh seorang laki-laki shaleh, pilihanku adalah dirimu, dan tentunya dia adalah suamiku. Pesantren ini pun adalah milik bersama, maka dia harus diperhatikan, di bantu, dan disemarakkan oleh semua masyarakat. Maka di sisa umur ini, semoga saya dapat berbuat pada sekolah milik semua umat ini.” Jawab Meiga.
Anwarsyah, lahir di Kampung Kapas, Kuruak Kubang Putiah Kec. Banuhampu Kab. Agam Bukittinggi Sumatera Barat pada tanggal 10 November 1977. Wakil Kepala Bid. Kurikulum di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin Lasi Kab. Agam Sumatera Barat (salah satu pesantren Aswaja di Sumatera Barat).

