Risalah Tongkat yang Membelah
dan ibumu; yukabad menaruh tubuh mungilmu
di peti dalam perasaan cemas. ia tahu kau akan
baik-baik saja. nil akan menjagamu dari amuk
ramses yang tidak mengampuni tiap bayi laki-laki lahir
di tanah mesir. ia percaya rasa takut yang menjalar
hingga memenuhi dadanya akan tumbuh sebatang kurma
sangat manis. menghalau rasa lapar akan kerinduannya kepadamu.
dan wanita yang menyelamatkanmu; adalah mawar gurun.
asiyah mendekap dalam wangi cinta di tepi nil
yang tenteram. ia mengembalikan kehangatan
air susu yukabad kepadamu. melindungimu sebagai perisai
meski raja firaun pada sekali waktu murka
karena kau satu-satunya anak kecil yang berani
menarik janggut kebesarannya. bahkan ketika kau tumbuh
lebih dewasa, ia semakin jatuh hati kepada Dia.
sang maha indah yang kaukabarkan. tidak peduli
badai pasir di dada ramses akan menelan seluruh mesir.
dan para penyihir itu; utusan firaun yang mengirimimu
ular-ular berbisa. mengaku kalah setelah ular besar
yang tercipta dari tongkatmu menelan seluruh sihir.
ia kian durjana dan berusaha membunuhmu
dengan segala cara, menahan para budak dan makin gencar
menahbiskan diri sebagai tuhan yang agung.
betul-betul menjadi raja yang gelap dan tidak terampuni.
kebenciannya telah menciptakan ombak
yang menggulung dadanya sendiri.
dan laut merah terbagi dua; ketika orang-orang
yang mengikuti langkahmu mulai dilanda rasa takut
hilang keyakinan. setidaknya mereka sungguh
tidak ingin mati sebagai budak firaun yang terkutuk.
maka tongkat yang terahmati itu pun menitahkan
kepada laut untuk membelah dirinya, menciptakan
jalan panjang keselamatan ke tanah seberang.
sungguh, demi Dia yang memberimu anugerah
membawa kebaikan yang tidak mudah diterima,
keteguhan hati telah menumpas kesombongan.
ramses beserta seluruh kedigdayaannya tenggelam
dalam amarah di laut merah. laut yang mengekalkan risalah
sebuah tongkat yang membelah, yang ingkar kepadaNya.
Kamar Alegori, Juni 2020
Api yang Memelihara
dan ketika azar memahat tuhan-tuhan mereka
dari pohon palma, ivory, dan zaitun. kau terus
bertanya pada ayahmu itu. kenapa tuhan harus
diciptakan dari kayu sementara pohon-pohon
tidak menciptakan apa pun selain buah yang manis
dan ranting kering sebagai kayu bakar. tidakkah tuhan
saling berebut hamba apa bila mereka kian bertambah
banyak. kau tidak pernah berhenti memikirkan
siapa gerangan yang merancang kehidupan.
tidak pula tebersit jadi hamba sebuah patung.
lalu kau pergi mengembara kepada bintang-bintang di langit
dan menaruh harapan padanya. berpikir ia tuhan
semesta alam. tapi segera pula kau patah hati.
sebab tuhan tak mungkin pergi dan datang begitu saja.
pun demikin tatkala kautemui rembulan juga matahari.
keduanya tak pernah mampu memberimu pemahaman.
sampai Dia datang, masuk ke dalam dadamu yang senantiasa
dipenuhi rasa ingin tahu serta keraguan. dan akhirnya
kau merasa lebih sempurna. mengimani Dia
yang tidak pernah tampak namun lekat di semesta hatimu.
dan kemudian kau menasihati ayahmu dengan lembut.
meminta ia berhenti menebang pohon-pohon dan menciptakan
tuhan. begitu pula kepada mereka yang menyembahnya.
kau tahu tidak mudah untuk menghapus pahatan wajah
tuhan palma, tuhan ivory, dan tuhan zaitun di kepala
orang-orang babilonia yang tunduk pada namrud yang zalim.
berulang kali kau gagal dan menerima hal hina
bahkan dari pria pemahat tuhan patung yang kaukasihi.
sampai pada suatu malam perayaan kota, kauhancurkan
seluruh patung dan menyisakan satu yang paling besar.
kau betul-betul ingin tahu bisakah tuhan terbesar di kota itu
membela dirinya sendiri dari tuduhan atas semua kerusakan.
sebagian orang pada akhirnya memercayai patung-patung
tak pernah bisa bicara dan tidak ada siapa-siapa dalam
benda yang mati. namun namrud lebih menginginkan kau hangus
dalam kobaran api membara dari dadanya yang angkuh.
ia mengikatmu di pusat kota dan menyulut murka di sana.
lalu api mulai melahap seluruh kayu yang mengepungmu.
tapi tidak sedikit pun kau merasa cemas. sebab Dia memerintahkan
nyala terang itu memeliharamu dengan cinta dan kekuasaan
Kamar Alegori, Juni 20
Jabal Rindu
dan ketika mereka diusir dari firdaus
dada mereka terbakar api muslihat. untuk pertama kalinya
ketakutan menjelma ombak jahat yang mengacaukan
ketenangan sungai anggur. tubuh mereka yang makin
sempurna basah oleh air mata nasuhah. namun mengalir
sia-sia. nafsu telah berdebur memecahkan
kesucian diri sendiri yang semula tidak mudah runtuh.
teguh laksana qaf yang agung.
dan demi khuldi yang terlarang, musabab patah hati
paling menyedihkan di seluruh lapisan langit
iblis gembira. menjadikan kemurkaan Tuhan
sebagai perayaan. tiada peduli kobaran api hitam di jahanam
kelak menghanguskan tubuhnya berkali-kali meski ia
juga tercipta dari api yang panas. ia telah menaruh
sumpah, dendam paling ijabah. melempar sebanyak mungkin
tanah-tanah yang tersesat sebagai bahan bakar
tujuh lapis neraka, rumah abadi bagi para pembangkang.
ialah adam yang tampan dan semesta berlutut padanya
juga hawa belahan jiwa yang tercipta dari rusuk kesepian.
mereka menangisi penyesalan tapi hukuman
tak pantas ditawar. keduanya bergelimang rasa cemas
tatkala turun terpisah ke daratan yang asing mencekam.
matahari bersinar terik dan malam terlalu gelap
untuk pergi mencari. dari bukit ke bukit, padang ke padang,
sungai ke sungai, gunung ke gunung, lelah ke lelah
mereka mengembara bertahun-tahun untuk saling
menemukan. sampai pada satu ketika
di puncak bukit batu yang tenang mereka saling mengemas
tatapan untuk perasaan yang sulit ditahan.
di sini, di jabal rindu Tuhan telah menulis sebuah pertemuan
bagaimana kasih dan sayang bekerja untuk mengobati
semua luka perjalanan dan mengubah rasa pahit kehidupan
jadi manis hingga ratusan ribu tahun mendatang.
sebagai cerita suci untuk memercayai bahwa beriman bukan
sebuah pilihan. meski mereka tahu tidak mudah untuk bertahan.
sebab dendam iblis membara sampai ujung zaman.
Kamar Alegori, Juni 2020
M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020) Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, dll. AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Kelas Puisi Alit.

