Image Slider

Isra’ dan Mi’raj di Mata Perempuan

Oleh: Dr. Fathurrosyid, M.Th.I

Perempuan yang hebat dan tangguh, tidak cukup ditunjukkan di ranjang, kamar atau ruang privat, tetapi perlu dibuktikan di ruang publik. Belajar dari peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW, maka perempuan juga harus melakukan isra’. Kata Asra yang asalnya bermakna berjalan, tentu bisa digeneralisasi menjadi aktif, kreatif dan inovatif, sebab perjalanan itu membutuhkan keterlibatan jiwa dan raga.

Setelah Rasulullah SAW berhasil melakukan isra’, barulah kemudian ia mendapatkan mi’raj, naik menembus langit ke tujuh hingga mencapai Sidratal Muntaha, puncak segala kebahagian.

Begitupun dengan perempuan, ia akan memperoleh mi’raj, puncak segala kebahagiaan jika ia berhasil melaksanakan isra’. Artinya, jika perempuan berani melakukan isra’ yang berarti aktif berkreasi dan berinovasi, maka dipastikan ia juga akan berhasil mendapatkan mi’raj berupa prestasi. Prestasi terbaik yang bisa dipersembahkan buat suami, anak-anak dan masyarakat.

Urgensi peristiwa Isra’ Mi’raj bagi perempuan tidak sekedar sejarah yang di bingkai indah, tetapi lebih jauh, perempuan harus mampu menerjemahkan ke dalam aksi nyata untuk berkreasi (Isra’) agar ia mendapat prestasi (Mi’raj). Dengan begitu, kehadirannya dalam keluarga tidak selalu menjadi objek, penderita dan penerima, tetapi ia juga bersama-sama terlibat penuh menjadi subjek, pelaku dan pemberi.

Perempuan itu, sekalipun makhluk Allah SWT yang halus dan lembut, tetapi diam-diam ia juga bisa mematikan dan menghidupkan karya-karya nyata suami.

*) Dekan Fakultas Ushuluddin Instika Guluk-Guluk

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga