Nabi Ibrahim as adalah salah satu ulul azmi; nabi dan rasul yang tekadnya mendapat predikat luar biasa dibanding nabi dan rasul lainnya. Sebagian keterangan menyebutkan bahwa beliau hidup 2000 SM, yakni 20 abad sebelum Nabi Isa as alias 2500 tahun atau 25 abad sebelum Nabi Muhammad SAW.
Para nabi selama ini dikenal memiliki kecerdasan spiritual kelas kakap. Akan tetapi, jarang yang menyebut bahwa pemikiran para nabi sebenarnya juga mentereng nan hebat. Terbukti, buku-buku filsafat selama ini menobatkan Thales sebagai filsuf pertama di dunia. Thales ditahbiskan sebagai filsuf pertama oleh karena pertanyaan mendasar yang dia ajukan, yaitu apa bahan dasar alam raya ini? Jawaban hasil renungannya adalah air, karena materi yang satu ini dapat berubah menjadi 3 wujud, cair (sifat asli), gas (saat menguap) dan padat (saat membeku). Thales sendiri hidup dalam rentang waktu 624-546 SM, sekitar 6 abad sebelum nabi Isa as. Jadi, ia masih sangat belia dibanding nabi Ibrahim as.
Tulisan ini hendak menunjukkan bahwa jauh sebelum Thales, ada banyak filsuf besar yang bertebaran di muka bumi. Para nabi sejatinya adalah para filsuf, bahkan lebih dari itu, karena mereka tidak hanya mencengangkan secara intelektual, namun juga secara emosional dan spiritual. Di antara mereka, pemikiran filosofis nabi Ibrahim as diabadikan al-Quran. Berikut ayat yang membeberkan pemikiran beliau:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam, dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), Inilah Tuhanku. Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat. Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), Inilah Tuhanku. Ini lebih besar. Akan tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.
Rentetan ayat di muka memuat beberapa poin filosofis. Pertama, melihat fenomena bintang terbenam, nabi Ibrahim as berkata, Aku tidak suka kepada yang terbenam. Mengapa beliau menggunakan kata suka? Suka adalah rasa. Ini menyiratkan bahwa dalam bertuhan, manusia terlalu lemah jika hanya mengandalkan pikiran. Mereka juga mesti melibatkan perasaan. Pikiran semata rentan membuat manusia ingkar akan keberadaan Tuhan. Terbukti, beberapa filsuf dan ilmuwan Barat mengingkari Tuhan. Itu lantaran pikiran hanya mampu memikirkan apa yang pernah terlintas padanya melalui indera. Tak ayal, pembuktian sebagai asas kebenaran hampir menguasai seluruh lini kehidupan, sehingga sesuatu yang tidak terbukti wujud aslinya, semisal Tuhan, harus terbuang dari pengakuan. Tatkala Deddy Corbuzier berencana menjadi mualaf, dia bertanya pada Gus Miftah (K. Miftah Maulana Habiburrahman), Mengapa dalam al-Quran terdapat banyak peristiwa tidak masuk akal, seperti nabi Musa mampu membelah lautan? Gus Miftah menjawab, Mas Ded, cinta itu dari mata ke hati atau dari hati ke mata. Deddy santai menjawab, Anak TK pun bisa menjawab, ya dari mata ke hati. Gus Miftah menimpali, Jika begitu, maka kamu takkan pernah bisa mencintai Tuhan, karena Dia tidak bisa dilihat. Kau tidak bisa mencintai Nabi SAW, karena kamu tidak pernah melihat beliau. Orang buta takkan bisa mencintai istrinya, karena tidak bisa melihatnya.” Akhirnya, Deddy bungkam seribu bahasa. Beberapa waktu setelah itu, Deddy mantap menjadi mualaf. Dialog ini menegaskan bahwa mengimani dan mengenal Tuhan harus dengan perasaan dan pikiran, tidak cukup dengan pikiran semata. Ini bukan berarti Tuhan itu irrasional (tidak masuk akal), melainkan Dia suprarasional (jauh di luar jangkauan akal, sehingga harus melibatkan perasaan).
Kedua, melihat fenomena bulan terbenam, nabi Ibrahim as berkata bahwa seandainya Tuhan yang beliau cari tidak segera memberinya petunjuk, maka beliau akan tetap dalam kesesatan. Ini menunjukkan bahwa beliau sudah yakin Tuhan itu ada, namun secara konseptual, beliau masih bingung. Jadi, beliau tidak pernah ateis (berpengalaman mengingkari Tuhan). Hal tersebut menegaskan bahwa sebenarnya Tuhan tanpa dibuktikan pun akan tetap diyakini ada. Tak ayal, Erich Fromm, pakar psikoanalisis meneguhkan bahwa tak ada satu pun manusia yang ingkar Tuhan, sekalipun dia ateis. Ateis tidak mengingkari Tuhan, melainkan mengingkari konsepsi agama-agama tentang Tuhan. Tanpa disadari, ateis juga bertuhan, yakni menuhankan akal dan ilmu pengetahuan. Karenanya, Dr. Ach. Maimun, salah seorang kiai PP. Annuqayah menyebut adanya geliat saintisme (ilmu pengetahuan dituhankan). Mengapa Tuhan tak bisa diingkari? Pasalnya, yakin akan adanya Tuhan adalah watak dasar manusia. Karena itu, mengingkari Tuhan berarti mengingkari kodrat sebagai manusia.
Ketiga, setelah melakukan eksperimen berkali-kali tentang Tuhan, nabi Ibrahim as berkoar bahwa beliau bebas dari tuhan-tuhan kaumnya. Proklamasi ini menayangkan bahwa kebebasan sejati bukan saat kita menghamba kepada sesama ciptaan, seperti kenikmatan ala hedonisme, akal ala rasionalisme, ilmu pengetahuan ala saintisme dan lain-lain.
Kebebasan yang sejati adalah saat kita bertuhan pada Tuhan yang Maha Benar dan dengan cara yang benar. Tak heran, para rasul tidak pernah ditaklukkan musuh-musuhnya, meski sudah disiksa dan digoda dengan aneka kenyamanan. Berkat kebebasan sejati, mereka bahagia, meski disiksa oleh musuhnya dan nama mereka tetap dikenang sepanjang masa. Jadi, bebas bukan berarti berbuat semaunya, melainkan berbuat sesuai restu Sang Maha Kuasa. Berbuat semaunya justru melahirkan stress dan depresi. Tidakkah penyakit batin banyak menjangkiti negara-negara maju yang menganggap kebebasan sebagai bertindak semaunya? Ini adalah dalil realistis bahwa kebebasan tidaklah yang seperti mereka sangka. Sebaliknya, adakah para pencinta Tuhan stress dan depresi. Tidak ada. Yang ada mereka tidak tertekan oleh lingkungan. Mereka lantang menegakkan kebenaran. Demikian. Wallahu Alam.
*)Alumni PP Annuqayah Daerah Lubangsa. Diambil dari tulisannya di PhilosophyNegasi.

