Kota, NU Online Sumenep
Dalam rangka merefleksikan Hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Rabu (21/4/2021), Komunitas Gusdurian Sumenep menggelar kajian dengan tajuk “Merawat Bumi bersama Kartini” yang disiarkan langsung melalui platform media sosial Instagram @gusduriansumenep.
Bagi Gusdurian Sumenep, mengangkat isu keperempuanan dan lingkungan tepat pada momentum Hari Kartini ini merupakan sebentuk upaya merefleksikan sejarah untuk kemudian membangun semangat perjuangan ala Kartini era milenial, utamanya menanggapi seputar kondisi lingkungan yang kian memperihatinkan.
Guna mengupas tuntas persoalan lingkungan dalam perspektif perempuan, Gusdurian Sumenep menghadirkan Iffah Hannah, Founder Komunitas Perempuan Membaca, asal Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep.
Nur Faika, yang memandu kajian online tersebut menuturkan bahwa kegiatan tersebut penting dilaksanakan guna menumbuhkan kembali spirit Kartini di setiap pribadi perempuan milenial hari ini. Khususnya di Kabupaten Sumenep. Sehingga peranan perempuan dalam ranah kehidupan sosial lebih aktif.
“Harapan kami tidak lain untuk menumbuhkan kembali spirit Kartini pada banyak perempuan masa kini, khususnya di Sumenep,” ujarnya.
Oleh karena pentingnya peran perempuan, dirinya juga menyebutkan bahwa perlu menjawab persoalan lingkungan yang hingga saat ini masih memprihatinkan. Karena antara perempuan dan lingkungan juga tidak bisa dilepaskan.
Kondisi lingkungan beberapa tahun terakhir, menurut Ika, sapaan akrabnya, mengalami kekacauan, yang jika disadari lebih dalam hal tersebut merupakan akibat dari ulah atau perilaku manusia sendiri. Dan perempuan, sebagai bagian dari alam dan kehidupan juga mempunyai peran untuk bisa menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan,
“Perempuan secara kultural memiliki hubungan konseptual dengan alam, dari keduanya lahirlah kehidupan,” imbuhnya.
Sementara itu, Iffah Hannah, membahas tentang relasi manusia dengan alam dalam konsep ekofeminisme dan membandingkannya dengan konsep yang diusung oleh patriarkhi.
Dirinya menyebutkan bahwa dalam ekofeminisme, cita-cita besar yang diinginkan adalah kesetaran, sehingga melihat alam sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia itu sendiri, dan keduanya saling membutuhkan.
“Hal itu berbanding terbalik dengan hubungan manusia dan alam menurut budaya patriarkhi. Di dalamnya alam dianggap sebagai bagian yang liyan, tidak muncul kepedulian alih-alih pelestarian,” ungkapnya.
Kendati deminikian, dirinya yang juga Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ganding mengaku bahwa sejauh ini suara perempuan untuk penyelamatan lingkungan tidak begitu didengar.
“Karena situasi yang berkembang di masyarakat masih terhegemoni budaya patriarkhi tadi. Yang menganggap alam bukan satu bagian yang melekat dalam keberadaan manusia, akibatnya banyak orang abai dan acuh terhadap bahaya sampah, krisis iklim, cuaca tak menentu dan banyaknya bencana belakangan ini,” jelasnya.
Kondisi seperti itu, menurut Iffah, sapaan akrabnya, tentu saja tidak hanya menjadi permasalahan bagi perempuan, melainkan semua manusia pada umunya. Akan tetapi para perempuan bisa juga mengambil peran dan menjadi problem solver bagi permasalahan lingkungan yang marak terjadi.
“Satu perempuan yang mengurangi penggunaan sampah plastik, hemat listrik, melakukan penghijauan dan gerakan-gerakan kecil bersifat ekologis lainnya akan membawa perempuan-perempuan lain dalam kelompok sosial yang lebih besar untuk melakukan aksi yang sama. Sehingga perubahan signifikan akan bergerak ke arah yang lebih baik,” paparnya.
Di akhir acara, Iffah juga menyampaikan closing statement, bahwa kaum perempuan harus ikut andil dalam segala persoalan yang terjadi dalam kehidupan sosial. Tidak perlu takut untuk bergerak dan menyuarakan apa yang perlu disuarakan.
“Jangan takut mengaku feminis. Feminis punya konsep dasar menyetarakan, bukan anti laki-laki apalagi ingin melawan,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

