Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Maraknya isu-isu kekerasan kepada anak di dalam keluarga. Seperti kekerasan fisik maupun verbal. Adanya tekanan-tekanan dari orang tua berdampak pada mental anak ketika remaja maupun dewasa.
Untuk menanggulangi hal tersebut, Balai Jhambar desa Guluk-Guluk melaksanakan Seminar Parenting dengan tema “Bahaya Toxic Parent Bagi Tumbuh Kembang Anak” pada Kamis (06/01/2022).
Kegiatan yang melibatkan 45 perwakilan guru dan wali murid yang ada di desa Guluk-Guluk ini diisi langsung oleh dua pemateri profesional yaitu Nyai Raudlatun, M.Pd dan Nyai Nur Diana, S.Si dengan dipandu oleh Neng Chairun Nisa’, S.Psi. Meskipun dalam keadaan diguyur hujan, namun kegiatan ini berjalan lancar dan antusias.
Nyai Raudlatun menyampaikan bahwa ada sembilan ciri keluarga maslahah an-nahdliyyah yang salah satunya adalah keluarga menjadi sumber ketenangan jiwa, kebaikan, dan kemaslahatan.
“Oleh karena itu orang tua dalam mendidik anak harus ekstra dengan berbagai karakter anak yang tentunya berbeda-beda pula. Maka dalam mengasuh anak dibutuhkan yang namanya Bahan Bakar Cinta (BBC) yaitu waktu untuk anak, sentuh fisik, kata-kata yang mampu menguatkan anak, pelayan, serta hadiah pula,” kata ketua LKKNU Sumenep ini.
Sementara itu, Nyai Nur Diana memaparkan mengenai dampak toxic parent yang diakibatkan dari trauma dan kecemasan masa lalu serta mengenai pola asuh pada masa lalu.
“Dalam hubungan antara orang tua dan anak harus terjalin komunikasi yang efektif agar tidak ada rasa yang ditutupi dan anak tidak menjadi pendiam karena takut untuk mengungkapkan takut untuk menceritakan,” jelasnya.
Putri almarhum Kiai Abd. Warits Ilyas itu menambahkan bahwa penting bagi orang tua untuk memberikan pengertian lebih pada anak dengan mendengarkan keluh kesahnya, kontak mata dan sentuhan untuk anak, sambil lalu memberikan tanggapan simple agar dapat memancing anak untuk lebih bebas berekspresi sehingga secara perlahan bisa menyelesaikan perasaan yang menggangu pada diri anak.
Mus’idah, Koordinator Balai Jhambar mengatakan semoga kegiatan ini bisa dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang tua bagi anak-anak dan tenaga pendidik bagi anak-anak didik.
Kegiatan ini sebagai usaha preventif (pencegahan) agar kasus-kasus tersebut tidak semakin melebar, apalagi sampai benar-benar anak merasakan akibat toxic tersebut.
“Menjadi orang tua yang dapat memahami anak sehingga anak dapat tumbuh dengan rasa aman dan nyaman. Sehingga generasi dapat menghasilkan generasi emas tanpa merasa harus ada yang ditakuti dan bahkan tersakiti,” pungkasnya.
Editor : Abdul Warits

