Oleh: A. Zainol Hasan
Semua berawal dari sebuah kegelisahan untuk mencari akar dari organisasi yang kami peluk saat ini; Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Gapura Timur. Melalui program jejak Ulama Nusantara yang dirintis oleh pengurus harian, maka tim menyusuri rimba perjalanan yang cukup panjang.
Dari satu narasumber ke narasumber yang lain. Dari satu cerita pada cerita yang lain. Tim terus menjahitnya menjadi satu kesatuan sebagai spirit serta pegangan dalam menjalankan roda organisasi. Hingga pada satu titik temu bagi kami untuk merenung. Akar; menghunjam dalam mencipta batang, ranting, daun, bunga, pokok dan buah yang ranum. Akar yang mesti kami munculkan kami suburkan.
Akar itu adalah muassis pertama. Seorang yang gagah dengan pikirannya dan keberaniannya membangun untuk pertama kali. Akar yang menghunjam ke bumi dan akhirnya akan menerbangkannya ke langit. Kami mencungkilnya ke mana-mana.
“Saya tidak tahu pasti siapa yang pertama kali merintis Ansor di Gapura, yang saya tahu dulu ada seorang tokoh yang penuh dedikasi dan memiliki semangat kepemudaan. Barangkali beliau!” Ujar Kiai Dardiri Zubairi selaku pembina Ansor Gapura Timur.
“Beliau adalah KH. Ja’far Marzuqi, tapi coba kamu telusuri ke KH. Asy’ari Marzid barangkali beliau lebih paham” lanjutnya.
Kami terus melangkah mengikuti gerak angin untuk membimbing kami menamukan akar yang kami maksud.
“Tidak tahu, saya sudah lupa. Kenapa tidak tanya di MWC NU. Mungkin disana ada data-data atau arsip yang menyimpannya” dengan suara agak serak KH. Asy’ari menuturkannya kepada kami saat kami menemui beliau di kediamannya.
“Saya sudah lupa, yang saya ingat hanya pendiri Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura yaitu K. Marzuqi, kalau yang Ansor saya lupa” tambahnya.
“Apakah KH. Ja’far, Pak Kiai?” Tanya kami.
“Dulu memang sempat KH. Ja’far bersama KH. Zubairi mendirikan Drum Band, karena saya yang membelinya ke Surabaya. Tapi, apakah itu untuk Ansor atau bukan saya lupa”
“Coba kamu tanya saja sama Zawawi (D Zawawi Imron; Sastrawan Nasional), dia itu karibnya Kiai Ja’far”
Rasa penasaran dan semangat kami semakin naik ke ubun-ubun. Saat matahari baru naik sepenggalah kami sampai di kediaman KH D Zawawi Imron, beliau baru saja mengantar tamu sebelum kami pulang.
“Mari silahkan duduk, dari mana ini?” Tanya beliau sambil mempersilahkan kami duduk.
“Kami dari Ansor Gapura Timur, Pak kiai”
“Yang mendirikan Ansor Gapura adalah “Bhindara” Amrawi atau yang sekarang dikena dengan KH. Zubairi Marzuqi, itu sekitar tahun 1954 menjelang pemilu pertama 1955″ Kiai Zawawi mulai bercerita.
“Pada waktu itu, beliau mendirikan bersama seorang Mantre Bujha (mungkin pegawai PT. Garam) orang Mandala. Saya tidak tahu namanya siapa, orang pada waktu itu mengenalnya begitu”
“Beliau membuat sendiri bendera Ansor, dari kain hijau segitiga, beliau melukisnya sendiri gambar bulan dan bintang. Kalau pengurus lainnya saya tidak tahu, biasanya kan yang diketahui hanya ketuanya saja”
Kami mulai menamui titik terang dari apa yang kami cari.
“Apakah Kiai Ja’far juga termasuk pengurus pada waktu, Pak Kiai?”
“Tidak, Kiai Ja’far itu satu angkatan bersama saya. Beliau menjabat di preode kedua. Saya jadi Ketua Ansor Batang-Batang, beliau di Ansor Gapura. Pada waktu masih belum ada seragamnya, jadi kami memakai baju putih, celana hitam pakai dasi. Kalau program-programnya, ya bagaimana anak-anak muda agar sama dengan NU”
“Terima Kasih, Pak Kiai” ucap kami saat pamit dari kediaman beliau.
Usai mengelana mencari seteguk harapan untuk kami melangkah. Kami berziarah ke maqbaroh muassis pertama dengan untaian khidmat doa dan ayat-ayat kauni.
Batin kami terenyuh saat kaki kami berpijak di area maqbaroh pimpinan Ansor kedua Almaghfirullah KH. Ja’far Marzuqi yang teronggok sunyi tak tersentuh sama sekali. Maqbarohnya hampir rata dengan tanah. Kami memperbaikinya dengan serta merta untuk mengharap barokah.
Inilah awal kami memulai dengan spirit baru, setelah kami tahu bahwa akar yang menumbuhkan kami begitu dekat sekali. Dalam dekapan, dalam relungan. Mungkin ini adalah hal yang kecil dan tidak seberapa, tetapi inilah upaya yang bisa kami lakukan untuk mengekalkan jasa-jasa yang telah mereka berikan.
Kepada KH. A. Zubairi Marzuqi dan KH. Ja’far Marzuqi… Alfatihah…
Inilah episode pertama Jejak Ulama Nusantara PR GP Ansor Gapura Timur, Hari Pahlawan, 10 November 2020.
Sumber: KH. Asy’ari Marzid, KH. D Zawawi Imron, K. A Dardiri Zubairi.

