Giliraja, NU Online Sumenep
Setiap bulan seluruh nahdliyin mengikuti sidang Bahtsul Masail di setiap kecamatan. Namun kali ini berbeda, yakni para musyawirin menghadiri sidang di kepulauan Giliraja.
Secara geografis pulau yang menawarkan keindahan alamnya dikatakan perairan Selat Madura. Jaraknya kurang lebih 9.86 km dari pelabuhan Cangkarman, Desa Aeng Baja Kene, Kecamatan Bluto.
Kepulauan yang kaya dengan kebudayaannya biasanya ditempuh kurang lebih 1 jam dengan menggunakan kapal motor nelayan. Jika air surut, maka para pelancong dan penumpang menaiki kapal kecil agar sampai ke kapal besar.
Gus Fatihul Abror menyampaikan kesannya bahwa sebelum naik kapal motor tersebut nakhoda tidak akan memberangkatkan kapalnya dari pelabuhan Cangkarman melainkan menunggu para penumpang lainnya.
“Ya Allah, hanya sesuap nasi warga pribumi bergantung pada laut,” ujarnya dengan mata melongo.
Wakil Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan tersebut menceritakan bahwa dirinya sampai ke pelabuhan pada jam 06.50 WIB sambil menunggu jajaran kiai di kapal motor yang bernama Bombay.
“Nakhoda mulai menjalankan perahu pada pukul 08.00 WIB,” curahnya. Isi perut mulai digoncang akibat arus ombak saat kapal belum berangkat, imbuhnya.
Kapal motor sampai ke pelabuhan Giliraja pada pukul 09.20 WIB. Sedangkan Perahu kecil tidak bisa menepi ke kapal besar karena air laut mulai surut.
“Terpaksa kami turun ke air yang memanjakan mata atau bening tanpa ada kotoran atau sampah,” ungkapnya dengan riang. Sarung basah karena tinggi air mencapai paha orang dewasa, tambahnya sambil melepas tawa.
Menurutnya, ada yang aneh saat berjalan menuju ke bibir pantai. Karena saat berjalan di atas pecahan batu karang, peserta Bahtsul Masail dihibur ubur-ubur mungil.
“Ternyata saat berjalan, kakiku terasa sakit karena menginjak ratusan karang,” keluhnya sambil berfoto selfie bersama teman-temannya.
Secara estetik Giliraja menawarkan keindahan yang berbeda dari kepulauan lainnya. Seperti halnya yang dialami oleh Hamdani yang tiba-tiba melihat gundukan pasir yang berada di tengah laut sehingga memunculkan rasa penasaran pada yang lainnya.
“Alhamdulillah, perjalanan pulang kami terobati dengan indahnya Sumber Daya Alam (SDA) di pulau Giliraja. Semoga teman-teman tidak bosa menghadiri acara Bahstul Masail di daerah kepulauan,” pungkasnya.
Kontributor: Firdausi
Editor: A. Habiburrahman

