Kota, NU Online Sumenep
Pimpinan Cabang (PC) Jam’iyatul Qurra’ Wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Sumenep menggelar Pendidikan dan Latihan (Diklat) baca tulis Al-Qur’an dengan metode Tartila. Sebuah kolaborasi antara metode baca dan menulis Al-Qur’an. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari di Aula Kemenag Sumenep, Jum’at – Ahad (5-7/8/2022).
Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Qur’an (LP4Q) JQH NU Sumenep, Mistari menyebutkan, bahwa metode Tartila dirumuskan oleh para ulama-ulama NU pada tahun 1998. Tepatnya di Pondok Pesantren Al Ihsan Jampes, Kediri.
“Tepatnya pada era kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid sebagai Ketua PBNU. Para ulama Qari’ berkumpul dan menyusun sebuah metode ini,” ujarnya kepada NU Online Sumenep.
Sanad keilmuan metode Tartila, menurut Mistari bersambung dengan beberapa ulama terkemuka, termasuk KH. Basori Alwi, Pengasuh Pesantren Ilmu Qur’an (PIQ) Singosari, Malang. Sehingga
Oleh karena itu, ia bersama kepengurusan lainnya bertekad untuk membumikan metode Tartila dalam kehidupan masyarakat. Utamanya bagi para anak-anak muda yang masih kurang fasih dalam membaca Al-Qur’an.
Dalam pendidikan dan latihan metode Tartila, peserta terdiri dari para guru dari berbagai lembaga pendidikan. Mereka dilatih mengenal metodologi pengajaran serta menejemen mengajar baca dan tulis Al-Qur’an.
“Sehingga ketika mereka mengajar ke muridnya, sudah ada lisensi atau sanad yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” tambahnya.
Ia menyebutkan bahwa untuk memudahkan belajar metode baca dan tulis Al-Qur’an tersebut, terdapat buku panduan yang secara khusus mengajarkan secara bertahap. Di awal metode ini dicetuskan, terdapat 6 jilid buku yang membahas tata cara bacaan Al-Qur’an saja.
“Kemudian diperbarui lagi dengan menggabungkan antara metode membaca dan menulis. Iqra’ Bil Qolam. Mengkolaborasi antara menulis dan membaca,” terangnya.
Dalam pembaruan ini, panduan belajar metode Tartila di sajikan dalam 4 jilid buku. Mulai dari pembelajaran untuk pra-sekolah, dalam hal ini anak-anak PAUD dan TK. Dengan media bernyanyi. Sampai kepada menulis Al-Qur’an 30 juz, di tingkatan Madrasah Tsanawiyah (MTs.).
Disebutkan Mistari, bahwa buku panduan belajar metode Tartila itu bisa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. “Misalkan satu buku satu semester. Atau kalau terlalu berat, satu buku bisa satu tahun,” paparnya.
Di hari terakhir Diklat, ada sesi munaqasah. Dimana materi yang telah diajarkan selama tiga hari oleh pemateri, akan diujikan kembali kepada masing-masing peserta. Kemudian ditentukan lulus atau tidaknya. Bagi yang lulus akan mendapatkan ijazah khusus dari pengajar.
Diklat Metode Tartila ditargetkan dapat membentuk kader yang bisa memberikan pelatihan lanjutan ke sektor yang lebih luas. Baik di berbagai lembaga pendidikan Islam maupun di elemen struktural NU.
“Kita ini sedang menyiapkan kader yang nantinya diharapkan mampu mengajarkan metode ini. Baik itu ke lembaga pendidikan maupun ke MWCNU bahkan PRNU,” tegasnya.
Dengan demikian, cita-cita besar untuk mewujudkan masyarakat Qur’ani tahap demi tahap dilakukan. “Kita bertekad bagaimana warga NU khususnya masyarakat Sumenep fashih membaca Al-Quran. Membumikan Al-Quran,” harapnya.
Diketahui, kegiatan tersebut diikuti puluhan utusan lembaga pendidikan dan sejumlah pengurus JQH NU Sumenep. Peserta yang diikutkan tidak terlalu banyak, hal itu guna menjaga kondusifitas dalam pembelajaran.
“Kita memang tidak terlalu banyak, agar lebih kondusif. Semoga upaya membumikan metode Tartila ini lebih maksimal. Memakai produk sendiri yang tentu sanadnya jelas hingga Rasulullah SAW,” pungkasnya.
Editor: Moh. Khairus Shadiqin

