Image Slider

Dzurriyah Jelaskan Konsep Syaikhona Cholil dalam Membangun Peradaban

Batuan, NU Online Sumenep
Dalam memperingati usia satu abad dan menyambut abad kedua, Nahdlatul Ulama mengemban satu misi besar, yakni membangun peradaban. Kiai Muhammad Makki Nasir, Dzurriyah Syaikhona Muhammad Cholil Bin Abdul Latif Bangkalan menjelaskan bahwa dalam membangun peradaban hendaknya mengacu konsep yang pernah diajarkan oleh Syaikhona Cholil.

“Syaikhona Cholil ini bukan hanya perestu, melainkan juga konseptor daripada berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujarnya saat mengisi tausiyah Refleksi Kemerdekaan RI, yang dilaksanakan oleh Kolaborasi Lembaga dan Banom NU Sumenep, di Gedung Islamic Center, Batuan, pada Ahad (28/8/2022).

Ketua PCNU Bangkalan itu pun menyebutkan bahwa di dalam misi besar membangun peradaban, hendaknya NU meninjau kembali isyarat Syaikhona Cholil kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Bahwa dalam mendirikan Jam’iyyah, harus memiliki fondasi yang bisa menjadi titik temu antar semua perbedaan ulama dan pesantren.

“Ketika Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ingin mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, Syaikhona Cholil memberikan restu berupa isyarat tongkat. Bukan kitab dan sorban. Melainkan tongkat sebagai simbol komando, organisasi terpimpin. Menyatukan seluruh perbedaan pesantren dan melepas ego sektoral,” ujarnya.

Kiai Makki menambahkan, bahwa sebuah bangunan akan cepat roboh bilamana tidak bertumpu kepada fondasi yang kuat. Begitu pula Nahdlatul Ulama dalam membangun peradaban harus betul-betul memahami apa yang menjadi fondasi tersebut.

“Ahlussunah Wal Jama’ah adalah fondasi dari sebuah bangunan kokoh bernama Nahdlatul Ulama. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan titik temu dari setiap perbedaan kurikulum dan latar belakang pesantren dan ulama di Nusantara. Sehingga di dalam membangun peradaban, Ahlussunah Wal Jama’ah harus dijadikan sebagai tumpuan,” imbuhnya.

Dalam isyarat itu, Syaikhona Cholil juga menyertakan Qur’an Surat Thaha ayat 17-21. Lima ayat dalam surat itu mengisahkan tentang kesaktian tongkat sebagai tumpuan Nabi Musa yang menjadi seekor ular dan memangsa ular-ular Fir’aun.

“Tongkat itu adalah simbol komando dan kepemimpinan. Rais harus mampu mengontrol ketua, dan ketua harus mampu mengontrol seluruh elemen struktural di bawahnya. Baik lembaga yang bergerak di bidang ekonomi, pendidikan, dan sebagainya,” terangnya.

Sejatinya, menurut Kiai Makki, ular-ular Fir’aun hanyalah sebatas ilusi. Atau sihir Fir’aun yang menghipnotis orang-orang seolah itu adalah ular. Sehingga mereka takut dibuatnya. Namun tongkat Nabi Musa yang diubah oleh Allah SWT menjadi ular mematuk habis ular-ular Fir’aun tersebut.

“Jadi tingkat Nabi Musa yang diubah menjadi ular oleh Allah SWT itu hanya mematuk ular-ular Fir’aun. Tidak mematuk manusianya. Secara otomatis ular itu tahu siapa musuhnya,” ulasnya.

Kisah tersebut sebagai sebuah gambaran, bahwa pengurus NU harus memiliki kemampuan teknokrasi. Dimana segala kebijakan dan keputusan bisa dibuat sesuai bidangnya masing-masing. Sehingga mampu bergerak masif melakukan berbagai hal yang bermanfaat.

Bagi Kiai Makki, dalam membangun sebuah peradaban, harus berpegang teguh kepada fondasi agar apa yang dibangun mampu berdiri kokoh dan tak akan roboh. Lalu menejemen dan tata kelola organisasi harus mampu dilakukan dengan baik melalui kepemimpinan yang satu komando.

Selain itu, kemampuan teknokrasi harus dimiliki oleh setiap pengurus NU, sehingga mampu membuat kebijakan dan keputusan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Konsep yang demikian ini telah lama dibuat Syaikhona Cholil sebagai restu dalam mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga