Pragaan, NU Online Sumenep
Jam adalah alat penunjuk waktu. Umumnya jam terus bergerak, berputar dan terus berulang-ulang. Di lain sisi, jam menjadi saksi bisu perjalanan hidup manusia, mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, shalat, berangkat kuliah atau kerja, hingga terlelap kembali di malam hari. Bahkan jam merekam semua peristiwa atau fenomena yang dihadapi oleh setiap individu.
Berbeda dengan jarum jam yang sengaja diciptakan untuk menyesuaikan waktu dalam kumpulan menit dan detik. Meski jarum jam berbeda, yang satu tinggi dan satunya pendek. Keduanya saling melengkapi. Ia terus berdetak dan bisa saja mati. Entah karena rusak atau pun kehabisan baterai. Bahkan disaat-saat terakhirnya (baterai low), jam tetap berusaha dan memaksakan kehendak untuk berputar, walaupun arahnya terbalik dan bergetar.
Berdasarkan deskripsi di atas, Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH M Zainur Rahman Hammam Ali menganolgikan waktu seperti pedang. Menurutnya, seseorang harus mampu memanfaatkan waktu sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Tak hanya itu, jarum jam mencerminkan kehidupan manusia, karena setiap tahun usia seseorang akan bertambah tua dan terus berbuat sesuatu yang positif atau pun negatif. Namun tak ada yang tau berapa lama jarum jam tersebut berhenti.
Di usia yang semakin menua, pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh Prenduan itu menegaskan bahwa seseorang tidak bisa mengandalkan usia dan pengalamannya.
“Sepengalaman apa pun, berapa pun usianya, ia tetap butuh belajar. Jarum jam terus berputar di dalam kaca pembungkus jam tangan. Walaupun terus berputar, ia tetap menerima untuk dicocokkan atau disetel oleh pemiliknya,” tuturnya saat dikonfirmasi NU Online Sumenep, Jum’at (18/02/2022).
Dari pesan moral ini, waktu yang katanya berputar cepat, memotong dengan tajam, membelah kehidupan berkeping-berkeping, semestinya seseorang memanfaatkan kepingan tersebut agar bermakna dan tidak menjadi makhluk yang selalu merugi pada setiap potongannya.

