Giliraja, NU Online Sumenep
Ikatan Keluarga Santri Alumni Nurul Huda (Iksanda) Giliraja menggelar Haul Pendiri dan Reuni Santri Alumni Nurul Huda. Acara dipusatkan di halaman utama Yayasan Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja Sumenep, Selasa (24/08/2021). Haul ini dimaksudkan untuk mendoakan Kiai Mahfudh Yahya, pendiri sekaligus pengasuh pertama pesantren setempat.
Kegiatan ini dihadiri oleh santri-alumni lintas angkatan dan simpatisan Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja. Pihak panitia menghadirkan KH Saifuddin Syam, seorang penceramah asal Pamekasan. Dalam kesempatan ini ia menjelaskan tentang pentingnya persatuan, berkumpul atau silaturahim.
“Forum acara semacam haul atau reuni santri alumni ini bagus sekali, Daripada melakukan acara yang kurang bermanfaat. Ini dalam rangka mendoakan guru-guru kita yang telah wafat, menjalin silaturahim dengan guru dan teman,” ungkap Kiai Saifuddin.
Lebih lanjut, ia mengutip ayat Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 14, yang artinya bahwa “Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”.
“Oleh karenanya, mari satukan visi untuk mendukung kegiatan pendidikan di Pesantren demi tegaknya Islam,” tambahnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Pamekasan ini juga menguraikan tentang pentingnya menghormati dan mempunyai kepercayaan tinggi terhadap guru atau kiai. Menurutnya, wajar saja kalau saat ini banyak orang atau santri yang cerdas tapi minim barokah, hal ini disebabkan karena kurangnya rasa kepercayaan terhadap guru atau kiai. Santri milenial masih banyak ragu terhadap kapasitas kiai.
“Coba contoh Sunan Kalijaga, beliau dengan penuh rasa percaya dan setia menunggu Sunan Bonang di pinggir sungai selama kurang lebih dua tahun. Hal seperti ini yang jarang dimiliki oleh santri zaman sekarang, tidak sabar menunggu guru saat pembelajaran, guru atau kiai datang terlambat ngajar sepuluh menit saja, santri zaman now sudah bubar,” tegasnya.
Kiai Saifuddin juga mengajak kepada para guru atau kiai agar tidak terlalu ruwet memikirkan santri. Karena tugas utama seorang guru hanya menyampaikan atau berusaha, selebihnya mendoakan dan tawakal.
“Kepada kiai atau guru, jagalah kesehatan, jangan terlalu ruwet memikirkan santri. Saya teringat perkataan almarhum Kiai Maimoen Zubair, kurang lebihnya begini, “Tugas seorang guru itu sekadar menyampaikan saja, mendidik dan mengajar. Setelah itu, doakan agar santri menjadi orang yang baik, urusan hasil kita tawakal kepada Allah,” imbunya.
Sebelumnya, Pengasuh Pesantren Nurul Huda, Kiai Abd Hafidh Yahya mengungkapkan rasa terima kasih kepada panitia, pengurus Iksanda dan seluruh peserta haul. Dirinya pun mengatakan bahwa kegiatan haul bukanlah semata mendoakan Pendiri Pesantren Nurul Huda, tapi juga untuk para muassis, leluhur para alumni dan simpatisan.
“Mari semuanya kita doakan, semoga diampuni segala dosanya. Dan untuk yang masih hidup, semoga tetap istiqomah di jalan Allah, semoga pandemi Covid-19 segera berlalu, agar tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari,” ujarnya.
Mustasyar MWCNU Giliraja itu berharap kepada seluruh simpatisan dan alumni untuk terus mendukung perjuangan Nurul Huda agar bisa memberikan manfaat lebih terhadap masyarakat.
“Sebagai penerus perjuangan almarhum Kiai Mahfudh Yahya, saya mohon dukungan kepada semua pihak, bantuan doa, pemikiran dan lainnya, agar Nurul Huda terus memberikan manfaat. Karena tujuan Kiai Mahfudh mendirikan pesantren adalah untuk membimbing masyarakat. Semoga ilmu yang didapatkan oleh alumni dan simpatisan bisa barokah serta bermanfaat. Insyaallah beliau juga merasakan manfaat di alam barzah,” tuturnya.
Sementara itu, Hosman Efendi, Ketua Panitia Pelaksana Haul Pendiri dan Reuni Santri Alumni Nurul Huda mengungkapkan, bahwa kepedulian alumni terhadap pesantren sangatlah penting. Dirinya pun berharap agar alumni menyempatkan hadir saat ada acara haul.
“Hari ini kita hadir untuk acara Haul almarhum Kiai Mahfudh, ini adalah secuil rasa peduli kita terhadap guru atau pesantren yang telah banyak berjasa membimbing kita. Ini adalah momentum silaturahim bagi alumni, kalau bukan sekarang, kapan lagi?” ucapnya.
Menurut Ketua Pengurus Ranting NU Jate Giliraja ini, sebagin alumni jarang bersilaturahim dengan guru. “Nah, minimal dengan kegiatan ini bisa hadir atau kalau tidak bisa setidaknya mendoakan dan memberikan dukungan terhadap eksistensi pesantren Nurul Huda,” pungkasnya.
Editor: A Habiburrahman

