Image Slider

Islam ala Walisongo

Oleh: Firdausi*

Kata wali berasal dari bahasa Arab yang berarti sangat tinggi dalam Islam. Warga Indonesia menerjemahkannya dengan sebutan orang suci. Dalam bahasa Jawa, wali diartikan sebagai rasul. Karena Walisongo seorang tokoh atau pelaku utama masuknya Islam ke tanah Jawa.

Sebelum tahun 1600, Walisongo memiliki peran yang sangat signifikan di bidang politik dan agama. Kisah yang mengakar ke telinga masyarakat bersumber dari sebuah cerita dan legenda. Uniknya kisah ini dipercayai sejak zaman dahulu hingga sekarang. Karena keunggulan semi legenda suci, dikaitkan dengan makam-makam para wali dan ramai dikunjungi oleh para peziarah.

Keunggulan lainnya, kekuatan ghaib dan peperangan; kesaktian dan pengalaman yang luar biasa dalam menaklukkan lawan maupun alam, menjadi daya tarik tersendiri yang mengukur legitimasi para wali sebagai pemegang simbol agama dan kekuasaan.

Clifford Geertz seorang antropolog menggunakan sosok Sunan Kalijaga yang melambangkan kegigihan dan keselarasan dengan memadukan budaya dan intelektualnya. Beliau tampak tekun bersemadi, bertafakur, dan merenung, tidak menghiraukan keduniawian, serta memberi contoh tradisional Yogi kuno. Di lain sisi, beliau membangun dinasti Adilangu dekat Demak, yang mempertahankan kedudukannya setengah berdaulat sampai paruh pertama abad 19.

Masa penarikan diri dari keduniawian seperti dilakukan Sunan Kalijaga, dilihat sebagai awal pemerolehan kekuatan ketika kembali dari pertapaannya. Karena perluasan kekuatan politik militer kesultanan Demak dihubungkan juga dengan Sunan Gunung Jati yang juga ikut membangkitkan kesultanan di barat laut Jawa, Cirebon dan Banten yang tetap berdiri selama berabad-abad sebagai negara yang berdaulat setelah kerajaan Demak berakhir.

Keberhasilan Dakwah Walisongo
Seorang pengelana dari Italia (Antonio Pigafetta) pernah datang ke Jawa di tahun 1522. Ia menyaksikan bahwa, penduduk pribumi di sepanjang pantai utara memeluk Islam. Namun masih ada kerajaan Majapahit yang sudah tidak berkembang. Mengapa dalam kurun waktu 40-50 tahun Islam di terima, padahal sebelumnya sulit berkembang? Dalam babad Jawa menyatakan bahwa, faktor kesuksesannya dilatarbelakangi oleh dakwah Walisongo dengan mengembangkan peradaban yang ditinggal Majapahit menjadi sebuah peradaban baru yang akarnya Majapahit tapi bercirikan Islam. Contoh mendasarnya adalah di awal era kerajaan Demak, masyarakat di bagi menjadi dua kelompok besar.

Pertama, golongan gusti, yaitu orang-orang yang tinggal di dalam keraton. Kedua, golongan kawula, yaitu orang yang tinggal di luar Keraton. Gusti artinya tuan, kawula artinya budak, yang tidak memiliki apa-apa, hanya miliki hak sewa, bukan hak milik, sebab yang punya adalah gusti. Jadi di era Majapahit, semua hak milik adalah milik keraton. Jika raja memberi seorang kawula yang berjasa, maka ia diberi tanah.

Sejarah mencatat bahwa Raden Rahmatullah menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata shalat diganti dengan sembahyang (sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai mushalla atau masjid, tapi langgar, mirip dengan kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri (orang yang tau buku suci agama Hindu). Siapapun mereka, bisa nyantri di Ampel Denta walaupun panganut mazhab Hanafi dan lainnya.

Dakwah Walisongo menggunakan pendekatan kebudayaan, sehingga memunculkan sinkretisme dan inkulturasi. Pendekatannya lewat pertunjukan tradisional, seperti wayang, macapat, lagu-lagu daerah, batik, ukiran, gamelan, dan kesenian rakyat lainnya demi menarik perhatian dan simpati masyarakat.

Dengan demikian, dakwah para wali dalam memperkenalkan Islam melalui konsep bilhikmah atau dengan cara yang bijak, tanpa memaksa. Artinya, tidak melakukan perlawanan secara frontal, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit demi sedikit lewat pendekatan kultur dengan memahami dan memodifikasi adat setempat yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Para wali sengaja menghanyutkan diri dalam arus masyarakat, tapi tidak tertelan arus, malahan beliau mampu merubah arus. Di era Walisongo lah Islam berkembang luas di Nusantara, dan hingga saat ini pun terasa bahwa ajaran Walisongo yang mengamalkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah masih dijalankan oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia.

*) Direktur NU Online Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga