Image Slider

Ketua Himpsi Sumenep Ungkap Solusi Atasi Nomofobia pada Anak

Manding, NU Online Sumenep
Kecanduan pada gadget atau yang sering disebut dengan Nomofobia adalah problem yang sering dialami oleh manusia di era modern saat ini, utamanya bagi anak di bawah umur. Hal tersebut disinyalir karena kurangnya peran orangtua dalam pengasuhan anak yang baik dan benar.

Kiai Zamzami Sabiq, Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Cabang Sumenep mengatakan, bahwa umumnya Nomofobia ini bisa menimpa siapa saja. Termasuk mereka yang sudah dewasa atau tua sekalipun. Namun yang paling berbahaya ketika dialami oleh anak di bawah umur.

“Idealnya, anak usia 0-2 tahun ini belum sampai pada usia untuk dikenalkan ke gadget. Tapi justru banyak kita temukan problem saat ini, anak usia dini bukan hanya kenal gadget, tapi sudah kecanduan,” ungkapnya saat mengisi Seminar Parenting di acara Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Manding dan Pimpinan Ranting (PR) Fatayat NU se-Kecamatan Manding, Sabtu (29/1/2022) lalu.

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep itu menyampaikan bahwa salah satu dampak ketika anak Nomofobia adalah ia rentan terhadap ledakan emosi, atau tantrum. Maka hal pertama yang harus dilakukan orangtua, utamanya ibu adalah dengan memeluknya.

“Karena pelukan ibu dapat meredakan emosi sang anak,” imbuh Kiai Zamzami, sapaan akrabnya.

Mendidik anak dengan baik, menurut Kiai Zamzami, adalah cara untuk menekan ketergantungan anak pada gadget. Namun demikian, mendidik anak yang benar bukan dengan banyak disuru, melainkan diajak. Cara ini dianggap efektif untuk menumbuhkan rasa keinginan yang tinggi dibanding dengan cara disuruh.

Lebih dari itu, seorang anak, lanjut Kiai Zamzami, harus diberikan penghargaan atau reward ketika melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Namun juga harus diberikan hukuman atau punishmant ketika melakukan pelanggaran. Keduanya sangat penting sebagai upaya penanaman karakter kepada anak. Mengajari mereka untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

“Keduanya harus seimbang. Sangat tidak baik apabila hanya hukuman saja yang didapat sang anak. Namun penghargaan tidak sama sekali,” pintanya.

Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu mengimbau kepada para ibu-ibu Fatayat yang hadir untuk senantiasa melontarkan ucapan-ucapan yang tidak baik. Apalagi sampai mendoakan sesuatu yang tidak baik pula terhadap anaknya.

“Semarah-marahnya ibu hendaknya mengeluarkan kata-kata baik yang dengannya suatu saat itu bisa menjadi doa bagi anaknya. Jangan khawatir, doa ibu-ibu ini pasti diijabah,” tandasnya.

Seminar Parenting dengan tema “Pola Pengasuhan Anak di Era Digital dalam Perspektif Islam” itu diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mendidik anak, khususnya mendidik dengan cara Islam Ahlussunah Wal Jama’ah an-Nahdliyah. Hal ini disampaikan Ketua PAC Fatayat NU Manding, Masturo.

“Acara pelantikan ini memang sengaja dikemas dengan seminar parenting, agar para pemudi utamanya para ibu bisa bertanggung jawab mendidik anak sesuai zamannya dan tetap berpegang teguh dalam Islam,” ujarnya kepada NU Online Sumenep.

Dirinya pun berharap setelah mendapatkan ilmu dari pemateri, dapat diimplementasikan dalam kehidupan rumah tangganya, lebih-lebih pola asuh anak yang baik.

“Di sini pemudinya kebanyakan adalah kaum ibu. Tentu sangat butuh tambahan wawasan tentang bagaimana cara mengasuh anak yang baik sesuai zamannya, dan menjadi orang tua yang baik,” pungkasnya.

Acara yang bertempat di Gedung BUMDes Manding Laok, Mading, Sumenep otu dihadiri oleh Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimcam) Manding, Rais dan Ketua MWCNU Manding, Badan Otonom (Banom) serta kader PAC dan Ranting Fatayat NU se-Kecamatan Manding.

Pewarta: Aminah Rosyidah, S. Ag
Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga