Kota, NU Online Sumenep
Ada 5 masalah saat menyikapi isu Sumber Daya Alam (SDA) di Sumenep, antara lain: Migas, tambak udang, tambang fosfat, pembangunan tol trans Madura dan reaktifasi jalur kereta api.
Penegasan ini disampaikan oleh Badrul Arifin saat mengisi diskusi publik dengan tema ‘PMII sebagai Kontrol SDA’, Ahad (26/9/2021) di gedung Kopri Sumenep.
Alumni Korea Divolepment Institute Scool of Poticy and Management Korea Selatan itu mengajak kepada warga pergerakan untuk mengawal isu tersebut.
“Yang perlu dikawal adalah bagaimana warga yang berada di titik sumur Migas bisa menikmati pelayanan yang layak. Semestinya mereka yang berada di kepulauan mendapat kesejahteraan,” ujarnya usai mengikuti pelantikan Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) Sumenep dan launching kurikulum kaderisasi.
Dilanjutkan, isu tambak udang sudah familiar sudah lama didengar oleh khalayak.
“Kalaupun sudah dibangun, kalian bukan berarti kalah dalam pertarungan. Dalam gerakan sosial, tidak ada menang dan kalah. Yang ada adalah bangkit melawan dan membela yang tertindas. Ayo tetap optimis,” sergah mantan pengurus PMII Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu.
Tak hanya itu, dirinya meminta untuk mengevaluasi secara mendalam tentang isu tersebut.
“Apakah memberi manfaat pada warga? Apakah sesuai dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)? Yang kami takutkan adalah bisa merusak ekosistem laut,” tanyanya pada audien.
Pria kelahiran Bangselok Kecamatan Kota itu menjelaskan ulang bahwa, Pemerintah Daerah (Pemda) sudah menerima masukan dari para alim ulama, tentang tambang fosfat. Komitmen yang dibangun adalah melakukan penolakan terhdapap tambang fosfat itu.
“Berbeda dengan gonjang ganjing isu pembangunan tol Madura dan reaktifasi jalur kereta api. Berdasakan isu, jalur tersebut akan dipusatkan di jalur utara dan tengah. Namun narasi yang beredar, lebih banyak pada jalur utara. Jika terlaksana, maka maka akan mengorbankan tanah dan rumah warga,” ungkapnya saat dilive streaming di kanal YouTube TVNU Sumenep.
Untuk menyikapi isu tersebut, ia mengajak kepada seluruh warga pergerakan untuk menyikapinya bersama seluruh Ketua PC PMII se-Madura.
“Walaupun belum ada kajian akdemik, kita harus melakukan wacana tandingan. Sebab angka kesmiskinan di Jawa Timur cukup tinggi. Kita dorong Pemerintah Provonsi agar tidak fokus pada peningkatan infrasturktur,” pintanya.
Sebelum mengakhiri diskusi, dirinya berharap pada warga pergerakan agar lebih kreatif saat melakukan aksi. Bakar ban di jalan membuat warga antipatif dan memandang sinis pada aksi mahasiswa.
“Mari kita ubah dengan aski panggung kesenian, seperti musik tong-tong atau ul-daul demi menarik simpati publik. Namun jangan sampai melupakan esensinya. Lewat panggung itulah warga akan tau isu-isu yang ada di Indonesia,” pungkasnya.

