Image Slider

Masa Kelam, Kedudukan Perempuan Pra Islam

Pragaan, NU Online Sumenep

Sebelum datangnya Islam, wanita dijual. Kala itu orang Jahiliyah tabiatnya mengenal wanita najis. Pernyataan itu memiliki alasan, karena Nabi Adam as keluar dari surga disebabkan sifat wanita yang keinginannya harus dituruti. Yakni, memakan buah khuldi atas bisikan iblis.

Pernyataan ini disampaikan oleh Al-Habib Abd Qodir bin Zaid Ba’abud di acara podcast dengan tajuk ‘Ibu: Jimat Dunia Akhirat’. Acara ini disiarkan langsung oleh Al-Muqri TV, Rabu (29/06/2022) di studio setempat, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh Prenduan, Pragaan, Sumenep.

“Tabiat lainnya adalah di saat perempuan hadas besar, dianggap najis selama 1 hari. Tak hanya itu, baju yang mereka pakai dianggap najis, bahkan saat memegang wanita ataupun bajunya itu, adalah najis. Terlebih saat wanita haid, yang menyentuhnya harus mandi. Berbeda saat melahirkan anak laki-laki, najisnya 40 hari. Sedangkan saat lahir anak perempuan, najisnya 80 hari,” terangnya.

Alumni Darul Musthafa Tarim, Hadramaut, Yaman itu menjelaskan, pernikahan di zaman dahulu seperti jual beli atau pembelian budak, bahkan perempuan tidak menerima warisan sama sekali. Oleh karenanya, saat Islam datang, menghormati wanita termasuk dalam kesempurnaan iman.

“Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang baik pada wanita. Diksi iman di sini adalah Nabi Muhammad SAW memerintahkan pada umatnya agar lemah lembut pada wanita. Jadi, wanita dan anak yatim merupakan dua posisi yang sangat lemah sehingga diperlukan perlakuan yang lemah lembut dan penuh kasih sayang,” sitir dawuh Rasulullah SAW.

Habib Abdul Qodir menegaskan bahwa, Islam sangat mengangkat derajat perempuan. Walaupun kedudukannya dalam ibadah tidak sama, namun kedudukannya dalam pahala sama dengan laki-laki. Seperti halnya pribahasa, lebih baik banyak gelungan rambut daripada jenggot.

“Semua pintu gerbang surga terbuka untuk perempuna. Hal ini dikuatkan dengan kisah seorang wanita yang datang kepada Rasulullah yang iri melihat laki-laki ikut berperang. Lalu bertanya, apakah mereka lebih kuat daripada wanita? Karena wanita juga bisa berperang juga, bahkan pekerjaan yang berat sering dilakukan wanita. Sejak itulah nabi menggantinya dengan perkataan, pahala jihadnya laki-laki sama dengan perempuan yang tidak berperang. Sebab jihadnya perempuan ada di rumahnya masing-masing,” tandasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga