Pragaan, NU Online Sumenep
Pimpinan majelis shalawat Nahjul Musthofa, Kiai Muhammad Tibyan Syuja’ menjelaskan profil grup hadrah banjari yang ia didirikan pada tahun 2012, Senin (6/12/2021) malam.
“Awalnya kami ingin memberikan hiburan yang bernuansakan islami. Biasanya saat santri boyong dari pondok, pasti mengundang teman-temannya ke acara di malam hari. Saat itu muncul keinginan untuk memberikan hiburan lewat shalawat,” ucapnya saat acara Milad ke-9 Nahjul Musthofa dan Hari Lahir (Harlah) ke-7 Ikatan Pemuda Sarkoju’ (IPS) di halaman mushala As’adiyah Dusun Cecce’, Desa Prenduan, Pragaan, Sumenep.
Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qarorul Makien Prenduan itu menceritakan, saat dirinya boyong dari pesantren Sidogiri Pasuruan, ia meminta masukan pada grup hadrah banjari yang ada di sana kendati tidak memiliki pelatih dan tidak menguasai rumus musik islami tersebut.
“Pada tahun 2010, grup itu kami dirikan tetapi memakai versi sendiri atau tidak menggunakan rumus hadroh banjari. Wajar pukulannya amburadul. Bahkan sebagian orang mengatakan pukulan albanjan, ada pula juga mengatakan hadrah bug-gebug (Red. Madura),” curahnya lewat video yang ditayangkan di videotron.
Pada tahun 2011, lanjutnya, beliau bertemu dengan temannya yang paham pada rumus. Namanya ustadz Husnan, pria asal desa Karduluk Pragaan yang berkeluarga ke Banjar.
“Kami meminta pada beliau untuk melatih santri tim kami walaupun beliau hanya sebentar memberikan rumus pukulan hadroh banjari. Alhamdulillah, santri kami mengetahui rumus kendati kurang fasih,” imbuhnya di acara yang bertajuk ‘Lempager Bershalawat’.
Tak sampai di situ, berhubung saat itu lagi viral YouTube, anggotanya mencari rumus sendiri secara mandiri lewat internet. Di tahun 2012, Kiai Tibyan meresmikan grup tersebut.
“Lagu Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf mulai dikenal saat itu dengan nama grup Ahbabul Musthofa. Bahkan abah kami sering mendengarkan lagu-lagunya. Pada suatu waktu, ummi kami berandai, seandainya memiliki grup hadrah banjari, maka akan diberi nama Nahjul Musthofa, disingkat Namus,” kenangnya.
Kiai muda yang kini menjabat di pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Sumenep tersebut menegaskan bahwa, penamaan grup hadrohnya mengambil dari wahdina nahja sabili, yang dinukil dari penggalan di bait Simtudduror.
“Visi misi dari grup kami adalah mengajak warga cinta pada nabi, suka bershalawat melalui musik islami. Hadrah al-banjari genrenya universal. Mencakup semua apa saja, tergantung cara mengemasnya. Banyak nada di dalamnya, ada yang ala India, Jawa, Arab, dan Madura,” terangnya.
Dijelaskan pula, ia menyitir dawuh salah satu ulama yang mengatakan, memancing itu umpannya jangan pakai yang ia sukai, tetapi memakai apa yang mereka suka.
“Dengan demikian, lagu dan nada apa saja boleh kita suguhkan pada warga. Yang terpenting lirik dan isinya mengajak kebaikan dan tidak mengejek orang lain, serta tidak norak. Semoga Nahjul Musthofa istiqomah membumikan shalawat, cinta pada nabi, habaib, dan ulama,” pungkasnya.
Editor: Ibnu Abbas

