Kota, NU Online Sumenep
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan selama ini tetap istiqamah mengawal kemajuan peradaban. Hingga kini saat usianya hampir menginjak 1 Abad, NU bertekad untuk merumuskan kosep berbangsa dan bernegara. Hal itu diwujudkan dalam seri Halaqah Fiqih Peradaban yang dilaksanakan lebih dari 250 titik di seluruh Indonesia.
Wakil Ketua Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) PBNU, KH Hodri Ariev menjelaskan bahwa Halaqah Fiqih Peradaban ingin melakukan konspetualisasi isu yang berkembang tentang negara bangsa. Sehingga nantinya bisa dijadikan rekomendasi bagi negara-negara lain.
“Fiqih peradaban ini ingin melakukan konseptualisasi isu-isu yang berkembang. Sehingga nanti bisa dijadikan rekomendasi tentang acuan konsep berbangsa dan bernegara,” ungkap Kiai Hodri saat menyampaikan sambutan dalam acara Halaqah Fiqih Peradaban di Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, pada Kamis, 22 Desember 2022.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep itu kemudian menyebut bahwa Nahdlatul Ulama sudah sampai pada tingkatan NKRI Harga Mati. Tetapi mengapa masih harus melakukan konseptualisasi negara bangsa.
Kiai Hodri menjelaskan mengapa penting dilakukan konseptualisasi negara bangsa. Menurutnya, dulu masyarakat Arab bisa berhasa Arab dengan sangat fasih dan baik. Tetapi kemudian Ilmu Nahwu baru dirumuskan kemudian.
“Jadi Ilmu Nahwu ini belakangan menjadi rujukan orang lain yang ingin belajar Bahasa Arab. Nah di sinilah pentingnya kita mengonsep negara bangsa agar nantinya bisa diterapkan di beberapa negara lain,” pungkasnya.

