Oleh: Moh. Fathor Rois*
Tidak lama lagi umat Islam Indonesia dan dunia akan menjalankan ibadah puasa Ramadan 1445 H. Diperkirakan puasa Ramadan tahun ini akan dimulai pada Selasa, 12 Maret 2024. Hal itu didasarkan pada data astronomi yang menunjukkan ijtima’ akhir Sya’ban 1445 H terjadi pada Ahad, 10 Maret 2024 pada pukul 15:58 Wib. Ketika matahari terbenam di wilayah Indonesia bagian barat, tinggi hilal haqiqi hanya sekitar 1°, sehingga tidak mungkin dapat dirukyat. Konsekuensinya adalah istikmal, yaitu menjadikan malam dan hari Senin, 11 Maret 2024 sebagai hari ke-30 dari bulan Sya’ban 1445 H., sehingga 1 Ramadan 1445 H jatuh pada hari Selasa, 12 Maret 2024.
Bahwa tinggal hilal 1° tidak memenuhi kriteria imkanur rukyah, itu berdasarkan pada kesepakatan Menteri Agama dari empat negara tetangga, yaitu Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Indonesia. Kesepakatan Menteri Agama empat negara tersebut lebih dikenal dengan sebutan MABIMS yang diperbaharui pada tahun 2021 lalu menjadi Neo MABIMS.Kesepakatan itu adalah bahwa hilal bisa dilihat kalau mencapai tinggi toposentris minimal 3° dan elongasi geosentris minimal 6,4°.
Berbeda dengan perkiraan di atas, Muhammadiyah sudah memastikan memulai puasa Ramadan tahun ini dari hari Senin, 11 Maret 2024. Hal itu didasarkan pada prinsip wujudul hilal. Karena pada saat matahari terbenam pada 10 Maret 2024, hilal sudah wujud walaupun tidak bisa terlihat, dan itu dianggap sudah cukup untuk mengakhiri bulan lama dan memulai bulan baru.
Mungkin sebagian dari kita juga akan membandingkannya dengan negara-negara lain seperti Arab Saudi. Kalau misalnya mereka memulai puasa lebih awal, itu sangat logis, mengingat letak geografis yang berbeda dan mazhab fikih yang mungkin juga berbeda.
Pesan kami kepada umat Islam Indonesia, mari kita jalankan ibadah puasa ini dengan fokus pada peningkatan kualitas puasa itu sendiri, dan tidak terlalu mempersoalkan perbedaan-perbedaan dengan negara lain atau kelompok lain.
Wallahu a’lam
*Ketua LFNU Sumenep

