Image Slider

Ranting NU di Lenteng Gelar Ziarah Muassis: Merawat Sanad Keilmuan, Meneguhkan Spirit Perjuangan

Lenteng, NU Online Sumenep

Dalam rangka merawat sanad keilmuan, meneguhkan spirit perjuangan, serta mempertebal rasa cinta kepada pendiri jam’iyah, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Lembung Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, menggelar kegiatan ziarah muassis NU dan auliya’ pada Rabu (31/12/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus, kader muda, perwakilan badan otonom, serta sejumlah tokoh masyarakat yang hadir secara penuh antusias.

Rombongan berangkat sejak tadi malam setelah Shalat Isya’. Sebelum keberangkatan, dipimpin oleh K. Hesbullah, rombongan terlebih dahulu membaca doa safar dan tawassul kepada para ulama pengasuh pesantren Annuqayah, Tebuireng, Tambakberas, hingga Denanyar.

Dalam sambutannya, Rais PRNU Lembung Barat itu mengingatkan bahwa ziarah bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bagian dari adab murid kepada guru-guru rohani yang telah menanamkan fondasi keilmuan Islam di Nusantara.

“Kita tidak hanya datang, menabur bunga, lalu pulang. Kita datang untuk mengingat sejarah, meneladani perjuangan, dan meneguhkan hati bahwa jalan Ahlussunnah wal Jama’ah harus kita rawat dengan sepenuh kesadaran,” tutur beliau.

Rombongan berhenti pertama kali di makam Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan inisiator berdirinya NU.

Setelah itu, bergeser ke Tebuireng, Jombang, berziarah ke makam Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama yang berperan besar dalam menggerakkan pesantren sebagai pusat dakwah moderat.

Ketua PRNU Lembung Barat, K. Moh. Ilyas Naufal menuturkan bahwa perjalanan spiritual ini menjadi pengikat batin antara kader NU masa kini dengan para pendahulu.

“NU berdiri bukan hanya karena gagasan dan organisasi, tetapi karena darah perjuangan, ketulusan dakwah, dan ketinggian ilmu para muassis. Dengan ziarah ini, kita seperti memasuki kembali ruang sejarah tempat napas perjuangan itu bermula,” ungkapnya penuh haru.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Sunan Ampel. Di sana rombongan membaca tahlil, yasin, dan doa-doa munajat.

Sekretaris PRNU Lembung Barat, Rusdiyanto, menegaskan bahwa ziarah ini menjadi ruang kaderisasi ideologis yang tidak tertulis, tetapi sangat terasa.

“Bisa saja kita belajar sejarah dari buku, tetapi berdiri di sisi makam muassis NU menghadirkan nuansa ruhani yang berbeda. Di sini kita merasakan bahwa perjuangan mereka bukan hanya teks, tapi napas, darah, dan air mata. Spirit itulah yang harus menjadi cahaya bagi gerakan ranting,” tuturnya.

Bagi Ust. Bakri, salah satu pengurus muda yang aktif di PRNU, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama bertemu secara rohani dengan para pendiri NU.

“Saya merasa sedang berdialog dengan sejarah. Kita seperti sedang mengatakan kepada para pendiri: ‘Kami akan menjaga apa yang kalian bangun.’ Itu menggetarkan,” ujarnya.

Di sela perjalanan, pengurus ranting menyempatkan diri menggelar diskusi reflektif di dalam bus tentang arah program PRNU 2026 ke depan.

Pokok-pokok pembahasan meliputi penguatan jamaah dan jam’iyah, revitalisasi masjid, literasi keagamaan moderat, serta pemberdayaan ekonomi umat berbasis desa.

“Ziarah ini bukan terminal akhir. Ini adalah titik awal. Semangat muassis NU harus menjadi bahan bakar program-program kita di tingkat ranting,” tegas Ust. Bakri menutup perjalanan.

Ia juga berharap PRNU Lembung Barat menjadi wadah rahmat bagi masyarakat.

“Bukan hanya bendera organisasi yang berkibar, tetapi nilai-nilai yang menjadi nyata,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga