Image Slider

Sampai Kapan Problem Sampah Kelar? Berikut Penjelasan DLH Sumenep

Gapura, NU Online Sumenep

Sampah tak akan pernah habis di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bahkan kondisinya terkini di Batuan layaknya gunung.

Pernyataan ini disampaikan Arif Susanto saat mengisi Halaqah Ekopesantren yang dihelat oleh Pengurus Cabang (PC) Rabuthah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Sumenep, Kamis (27/10/2022) di Pondok Pesantren Al-In’am Gapura, Sumenep.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep menyatakan, sampah bisa menjadi momok dan rezeki bagi orang yang memahaminya. Terbukti banyak pemulung di Madura kaya. Karena mereka paham sampah itu mahal.

Untuk menghabiskan sampah di TPA butuh 2 milar. Untuk menguranginya, harus ada daur ulang sampah menjadi benda yang bermanfaat, seperti paving, genteng, tas, aksesoris, menjadi energi dan lain sebagainya. Sedangkan sampah organik dijadikan pupuk kompos.

Untuk sampah sayuran dan buah-buahan bisa dijadikan magot yang bisa dimakan. Di Indonesia, 1 kilogramnya 80 ribu. Di Surabaya bisa sampai 120 ribu. Bahkan diekspor keluar negeri untuk dijadikan bahan kosmetik.

“Ada juga cara yang dilakukan oleh beberapa pesantren dan sekolah yang melarang santrinya membawa sampah plastik. Setiap anak diwajibkan membawa botol dan kotak makanan sendiri,” ujarnya.

Arif mengatakan, pihaknya memiliki program sedekah sampah dan beasiswa sampah yang diperuntukkan bagi lembaga pendidikan. Untuk mendapatkannya, cukup dibutuhkan MoU.

“Bagi yang punya sampah di madrasah, silahkan kumpulkan dan pilah sampah itu sesuai dengan jenisnya. Hubungi kami, biar dijemput oleh petugas. Persemester kami kembalikan dalam bentuk uang yang bisa digunakan keperluan beasiswa,” ungkapnya.

Lebih lanjut, cara inilah yang paling arif ntuk mengurangi sampah, kendati menjadi beban berat. Bisa juga dengan mengadakan sosialisasi dan pelatihan di seluruh pesantren dan madrasah.

“Kami siap hadir jika dibutuhkan. Tak usah honor. Sebab cara ini mengetuk tularkan pencegahan dan pengolahan sampah. Mengapa demikian? Karena di Sumenep banyak tempat sampah yang isinya kosong. Sampah berserakan di luar tempat sampah,” tuturnya.

Dirinya memberikan tips agar membuat lubang biopori di halama sekolah yang biasa digenangi air hujan. Sebelum lubang ditutupi penutup paralon yang dilubangi, daun kering dan sejenisnya dimasukkan ke dalam lubang itu. Saat air hujan masuk, maka sampah organik itu menjadi pupuk.

“Untuk menjadikan bahan bakar dan energi, biayanya mahal. Kecuali kita menggunakan alat-alat semi modern, seperti menjadikan sampah plastik jadi tas, aksesoris, paving, itu semua relatif dijangkau,” terangnya.

Pria kelahiran Tuban itu menyayangkan aksi mahasiswa yang memojokkkannya. Padahal posisinya sebatas ahli semata. Persoalan kerusakan lingkungan, lanjutnya, pihaknya dihadapi dengan masalah regulasi.

“Yang memberi kewenangan adalah pusat. Misalnya, penambang fosfat perizinannya dikeluarkan oleh pusat, bukan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Ada regulasi yang mengatur kewenangan sehingga kami tidak bisa bergerak,” tandasnya.

Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga