Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Pesantren tidak hanya mengajarkan keagamaan saja. Lebih dari itu, dianggap penting berdirinya lembaga yang fokus dalam dunia literasi sebagai sarana untuk merangkul santri yang mempunyai minat khusus di bidang itu. Karena tidak dapat dipungkiri, salah satu potensi besar milik pesantren adalah santri-santri berjiwa puitis dan jurnalis.
“Atas dasar itulah, Ketua Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk Masa Bakti 2017-2018 yang saat itu dijabat oleh Faizatin menggagas berdirinya lembaga tulis menulis, dengan melibatkan pengurus Pengembangan Pers sebagai pusat pengendali kegiatan tulis menulis,” kata Maria Ulfa, Ketua Forum Literasi Santri (Frasa) Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk kepada NU Online Sumenep, Senin (25/04/2022) di kediamannya, Desa Andulang, Gapura.
Dirinya menyebutkan, terhitung sejak tanggal 27 Maret 2018, lembaga ini secara lisan mendapatkan persetujuan dari pengasuh pesantren. Tetapi secara resmi disahkan pada tanggal 07 Mei 2018 bersamaan dengan pelaksanaan Haflah Akhir Sanah 2018 dan Peresmian gedung baru Annuqayah Lubangsa Putri.
“Ketua pertamanya adalah Fadhilatul Aini yang saat itu juga menjabat sebagai koordinator pengurus Pengembangan Pers,” curahnya.
Mahasiswi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini menegaskan, sejak awal mula berdiri, lembaga ini lahir dengan tanpa nama. Sebelum itu, digunakanlah nama Lembaga Kepenulisan sebagai pengenal lembaga sebelum nama resmi ditetapkan.
“Baru pada bulan Maret 2019 nama Forum Literasi Santri (Frasa) disahkan sebagai nama lembaga melalui persetujuan pengasuh. Frasa adalah akronim dari Forum Literasi Santri juga merupakan istilah yang mewakili tujuan dan visi misi lembaga,” tegas Pustakawan Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk ini.
Menurutnya, dalam kaidah tata bahasa Indonesia, Frasa berarti kalimat yang tersusun atas beberapa satuan kata atau lebih yang menempati fungsi tertentu.
“Makna ini kemudian kami transformasikan dalam bentuk komitmen yang akan dipegang lembaga, yakni sebagai wadah yang mempersatukan kecenderungan beberapa orang melalui visi yang dibangun oraganisasi, menuju tujuan konkret yang menjadi sasaran lembaga yakni memajukan dunia membaca dan menulis di pesantren sejak dini,” ungkap Maria Ulfa.
Pengurus Komisariat (PK) Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Guluk-Guluk ini menyatakan, susunan satuan kata dalam definisi tersebut diterjemahkan dalam bentuk beragam kecenderungan anggota.
“Kemudian kami satukan melalui kesamaan visi dan misi yang mesti didukung bersama. Sedangkan fungsi dalam pengertian itu kami maknai sebagai visi lembaga, yakni sebuah upaya menghidupkan tradisi membaca dan menulis,” terang Pengurus Persatuan Santri Gapura (Pasra) Annuqayah Lubangsa Putri ini.
Lebih dari sekadar alasan ideologis, lanjut alumni Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri ini, dirintisnya Frasa juga bagian dari upaya tabarrukan terhadap masyayikh Annuqayah.
“Konon, penggunaan kata Annuqayah sebagai nama pesantren ini merupakan bentuk tabarrukan kepada Syaikh Jalaluddin As-Suyuti, ulama kharismatik yang terkenal keproduktifannya dalam menghasilkan banyak karya melalui pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan,” tuturnya.
“Tabarrukan yang dimaksud adalah sebuah harapan besar para perintis pesantren, bahwa kelak santri Annuqayah diharapkan dapat meneladani kreativitas dan produktivitas Syaikh Jalaluddin As-Suyuti, dengan senantiasa aktif menjadi penulis produktif, bersyi’ar dan berdakwah menyerukan kebenaran melalui tulisan,” tambah pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika Instika itu.
Lantas, ia meneruskan, pihaknya akan terus berupaya memperbaiki diri dari hari ke hari, tanpa lelah mengawal setiap i’tikad baik segenap anggota lembaga, mewujudkan apa yang hanya ada dalam angan, hingga menjadi sesuatu yang membanggakan.
“Dari itu, kami mencanangkan beberapa program di Frasa yaitu pengayaan, pengembangan diri, dan publikasi. Program pengayaan meliputi, kegiatan yang sifatnya menunjang pengetahuan anggota di bidang literasi dan ada tutor khusus, seperti kelas membaca, kelas fiksi (cerpen dan puisi), kelas non fiksi, dan kelas pendalaman bahasa Indonesia,” tutur Pengurus Ikatan Santri Timur Daya (Ikstida) Annuqayah Lubangsa Putri itu.
“Untuk program pengembangan diri meliputi kegiatan wajib menulis setiap satu minggu tiga kali, wajib khatam buku satu minggu satu kali, diskusi ilmiah, diskusi buku, kajian tokoh, dan hakim karya. Sedangkan dalam hal publikasi, ada tiga yaitu show up karya di media massa, dan penerbitan selebaran (catatan generasi),” pungkasnya.
Catatan Prestasi yang Diraih Frasa Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk
- Faizatin: 50 terbaik Internasioanal Poetry Writing Competition Chapter 3 and Contributor in Poertry Anthology “Iridescent”, yang diselenggarakan oleh Edusastra, tingkat internasional; Penulis Terpilih pada Event Kreasindo Fest, yang diselenggarakan oleh IDN Creation Sayrmbara Cipta Sekaligus Penerbitan Puisi dan Cerpen, tingkat nasional; dan 150 penulis terbaik dalam lomba cipta puisi nasional tema “Muhasabah Cinta”, yang diselenggarakan oleh Penulis Pustaka, tingkat nasional.
- Zakiyatul Miskiyah: Juara 1 Menulis Surat Pendididikan, yang diselenggarakan oleh Rayon Ki Hajar Dewantara Universitas Wiraraja (UNIJA), tingkat se-Madura; Terbaik Esai Nasional yang diselenggarakan oleh Apajake.id 2021; dan Menulis Surat Gugatan Nasional, Dema-F Syariah Instika.
- Maria Ulfa: Terbaik Cerpen Nasional pada Februari 2021, yang diselenggarakan oleh Apajake.id.
- Mil’atus Sa’diyah: Juara Terpilih Cipta Cerpen Nasional Safana Media Loka 2021; Juara Terbaik Dalam Event Cipta Puisi Nasional Pada Agustus 2021, yang diselenggarakan oleh Sinar Aksara Indonesia; Juara Harapan 3 Cipta Puisi Nasional pada Oktober 2021, yang diselenggarakan oleh Cahaya Pelangi Media; Penulis 25 Terbaik dalam Event Cipta Puisi Pada Agustus 2021, yang diselenggarakan oleh Genta Official dan PT. Zona Media Mandiri Group; dan Penulis 100 Puisi Terbaik Cipta Puisi pada Festival Lomba Fun Bahasa 2021.
- Nurul Imama: Penulis 10 Terbaik dalam Event Lomba Cipta Puisi pada Juli 2021, yang diselenggarakan oleh PMII Rayon UTM, tingkat Jawa Timur dan Penulis 25 Terbaik Dalam Event Cipta Puisi Nasional pada Agustus 2021, yang diselenggarakan oleh Genta Official dan PT. Zona Media Mandiri Group, tingkat nasional.
- Fajriyatur Rahmah: Juara Terpilih Cipta Cerpen Nasional Safana Media Loka 2021.
- Zamiliyah: Penulis Terpilih dalam Event Cipta Puisi tema Batik Pada Oktober 2021, Rusani.id dan Kontributor terpilih dalam Event Cipta Puisi Nasional Pada September 2021, Sinar Aksara Indonesia.
- Kharisma Nur Tirtaningrat: Juara Terfavorit Cipta Cerpen Nasional Safana Media Loka 2021 dan Kontributor terpilih Dalam Event Cipta Puisi Nasional Pada September 2021, Jendela Sastra Indonesia.
- Yuliyana Putri: Kontributor Terpilih dalam Event Lomba Cipta Puisi Nasional pada Juli 2021, Dukref.Production; Puisinya dimuat di media berpuisi id; Kontributor terpilih dalam Event Cipta Puisi Nasional pada Juli 2021, Februari 2022, Jendela Sastra Indonesia; dan Karya Favorit dalam Event Cipta Puisi tema Batik pada Oktober 2021, Rusani.id.
- Awwibi Aufaro Syifa: Juara Terbaik Event Puisi Nasional pada September 2021, Penerbit Publisher Cabang Garut.
- Nabila Izzatun Nufus: Kontributor terpilih dalam Event Cipta Puisi Nasional pada Agustus 2021, Sinar Aksara Indonesia dan Juara 3 Inkubator Literasi se-Madura, yang diselenggarakan oleh Perpusnas yang bekerja sama dengan Pondok Pesantren Annuqayah pada Oktober 2021.
- Maftuhal Khair: Puisinya dimuat di Koran Madura pada Oktober 2021 dan Cerpennya tayang di Koran Madura pada November 2021.
Editor : Firdausi

