Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Nadhifatut Thaharoh. Ketua Daarul Qur’an (DQ) Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk, mengatakan bahwa generasi hari ini adalah pemimpin masa depan, sehingga mereka dituntut untuk mengikuti arus globalisasi. Namun tetap mengembangkan pengetahuan tentang Al-Qur’an.
“Di era globalisasi, salah satu yang menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat yaitu terkikisnya budaya keislaman yang sudah mengakar kuat pada suatu wilayah. Misalnya, terjadi saat ini yaitu ditemukannya seseorang yang tidak fasih membaca Al-Qur’an,” ujarnya saat dikonfirmasi NU Online Sumenep, Jum’at (22/04/2022) di kediamannya, Desa Guluk Manjung, Kecamatan Bluto.
Lantas, ia menambahkan, sebagai awal yang bagus dalam membangun sebuah benteng pertahanan, pesantren mempunyai ciri khas tertentu yang dijadikan pijakan secara terus menerus saat melakukan perubahan, sehingga arus globalisasi hanya dijadikan bahan evaluasi dan direnungkan serta diambil hikmahnya untuk memberikan pemantapan iman dan pelajaran tasawuf pada setiap santri yang mulai sadar pentingnya agama untuk mengisi kekosongan hati.
Mahasiswi Prodi Ekonomi Syariah (ES) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini menegaskan, mungkin pemikiran tadi merupakan bentuk kegelisahan para ulama dalam menyikapi perubahan dunia yang sangat signifikan dan kekhawatiran orang tua yang melihat anaknya sudah terlampau jauh mengikuti perkembangan zaman.
“Dalam hal ini Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk memberikan kontribusinya dalam bidang keilmuan, khususnya agama Islam yang mayoritas menjadi agama penduduk Indonesia dalam menyampaikan beberapa bentuk pembahuruan pemikiran yang bergerak sebagai pengendali dari masalah-masalah moral,” tegas alumni Madrasah Tsanawiyah 1 Putri Annuqayah Guluk-Guluk itu.
Selain itu, pesantren merangkul generasi muda untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya mementingkan diri sendiri di hari esok, karena dalam peribahasa disebutkan, pemuda Indonesia adalah harapan bangsa. “Jika bangsanya sudah amburadul, naudzubillah. Ingat, pemuda adalah harapan bangsa yang nantinya akan membawa lebih baik lagi,” lanjut Nadhifa.
Maka dari itu, dirinya menyatakan, perlunya diadakan kegiatan-kegiatan positif yang bisa mengubah pemikiran pemuda ke arah yang lebih baik.
“Menyikapi hal tersebut, Annuqayah daerah Lubangsa Putri memiliki Lembaga Semi Otonom (LSO) yang membawahi lima lembaga sekaligus. Pada tanggal 14 April 2014, lembaga DQ secara resmi menjadi anggota LSO Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk,” ungkap alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Annuqayah Guluk-Guluk itu.
Dirinya juga menyampaikan, pihaknya hanya meneruskan perjalanan lembaga yang masih bungsu sekitar 8 tahunan tersebut yang dibimbing langsung oleh Harun Adiyanto dengan bermodalkan buku panduan Ustad Yusuf Mansur.
“Memang buku itu menjadi buku panduan di saat lembaga DQ pertama kali dibangun. Konsep yang diprioritaskan bukan tahfidz, tetapi penekannya adalah bagaimana anggota DQ bisa mengaji sesuai dengan tajwid serta baik didengar yaitu dengan memfokuskan pada tahsinnya,” tutur Pengurus Persatuan Santri Lenteng (Persal) Putri Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putri Guluk-Guluk itu.
Akan tetapi, lanjutnya, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Guluk-Guluk itu menjelaskan, dalam kelas tilawah dan tartil juga dipelajari dengan menggunakan lagu Sa’ad Al-Ghamidi (untuk tartil).
“Berkat kegigihan ini, kami secara bertahap mempertahankan warisan Islam di tengah perkembangan zaman, serta tidak lepas pula dari niat awal dan suci dari dilahirkan lembaga DQ ini, yakni untuk mencetak generasi pembimbing ngaji profesional,” ungkapnya.
Di akhir penyampaiannya, ia mengungkapkan program kerja yang telah dilaksanakan DQ selama satu periode dalam rangka mengembangkan pengetahuan Al-Qur’an.
“Program kerjanya yaitu Bimbingan Tartil, Qira’at, Syarhil, Da’i, Kaligrafi, Muhadharah, Pembacaan Surat Munjiyat, Hataman dan Ratibul Haddad, Hataman Kubra, Shalat Tasbih, serta Praktik Shalat,” pungkasnya.
Editor : Firdausi

