Image Slider

Teladani Peran Ummu Umarah dalam Medan Tempur

Oleh: Firdausi

Nabi Muhammad SAW bersabda “Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling baik kepada perempuan.” HR. Hakim dari Ibnu Abbas, kitab Al-Jami’us Shaghir, hadits nomornya 4101.

Berangkat dari hadits tersebut, dalam lembaran sejarah Islam, kisah ketangguhan dan keberanian umat Islam saat berperang bersama Rasulullah SAW menceritakan ketulusan hati para mujahid yang tidak hanya piawai memainkan pedang, melainkan mengobati tentara yang sedang terluka. Faktanya juga terdapat sosok perempuan yang ikut terjun juga dalam gemuruh perang yang mengerikan. Seperti sosok Nasibah binti Ka’ab Al-Anshariyah atau dikenal Ummu Umarah. Beliau salah satu wanita yang mengabdikan hidupnya dalam kancah peperangan, sehingga dirinya dikenal sebagai sosok pahlawan sejati.

Sekelumit tulisan dalam sejarah menyatakan bahwa beliau sosok yang tegar dan berani ketika perang Uhud. Saat itu beliau membawa kendi yang berisi air untuk diberikan kepada tentara. Awalnya kemenangan dipihak umat Islam, namun ketika kalah, beliau menghalau segala serangan yang menuju ke Rasulullah SAW. Dalam riwayat menyatakan bahwa beliau pernah mengarahkan beberapa anak panah ke arah musuh. Dikisahkan juga bahwa beliau ikut serta dalam medan perang tersebut bersama suami dan kedua putranya, walaupun beliau sendiri terluka.

Setahun lamanya luka tersebut masih belum pulih. Kemudian datanglah panggilan untuk perang Hamraul Asad. Luka yang didertitanya mengurungkan niatnya untuk terjun kembali ke medan perang.

Demikianlah pengorbanan Ummu Umarah dalam membela panji-panji Islam. Sejarah terus mengenang perjuangannya, mulai mengobati tentara yang terluka dan piawai saat melawan serangan musuh. Oleh karena itu tidak heran Khalifah Abu Bakar r.a menanyakan kondisi kesehatannya, bahkan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab r.a mengirimkan pakaian yang terbuat dari bulu domba atau wol kepadanya.

Kisah tersebut bisa membuka mata kita bahwa perempuan makhluk yang kuat. Potret ketangguhannya menjadi contoh, sehingga anggapan miring itu ditepis dengan kisah ini. Ketangguhan tidak bisa diukur secara fisik, melainkan menggabungkan kecerdasan atau pengetahuan dan keberanian. Dengan demikian, perempuan muslimah dituntut untuk mengejawantahkan keislamannya dengan mengambil peran yang berguna dan bermanfaat, baik untuk dirinya dan umat.

*) Direktur NU Online Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga