Kalianget, NU Online Sumenep
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep kembali melaksanakan Turba. Kali ini, menyambangi Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Selasa (02/02/2021) malam.
Dalam sambutannya, K. Ghafur Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kalianget menyinggung beberapa hal yang menjadi penyebab kenapa sebagian orang enggan bergabung di NU. Hal ini menurutnya karena mereka belum memahami betul tentang Nahdlatul Ulama.
Jasa NU yang harus diketahui oleh warganya, kata beliau antara lain, NU terus mempertahankan paham Aswaja. Selain itu, NU berjasa kepada negara melalui kehadiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang mampu menyulam nilai-nilai keislaman dengan kebangsaan.
“Bahkan Presiden Soekarno sendiri selalu meminta saran kepada Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari tentang berbagai upaya bela negara,” katanya.
Sementara K. Imam Sutaji Ketua LDNU PCNU Sumenep menuturkan, bahwa NU terus maju dan tak kunjung padam karena NU lahir bukan karena kekecewaan sikap politik, bukan karena kekalahan pada sebuah pertarungan. Melainkan karena kebutuhan untuk menegakkan kembali Islam ala Thariqati Ahlussunnah wal Jamaah.
“Alasan lainnya, karena NU sejak dulu selalu merawat tradisi, dan menggunakan sistem bermadzhab dalam memahami agama. Sistem bermadzhab itu menegaskan bahwa, NU mengambil agama melalui sanad keilmuan para alim ulama, bukan langsung mengambil dari Al-Quran dan Hadits,” ujarnya.
Ia menyebutkan, sekarang banyak orang yang meneriakkan agar kembali ke Al- Quran dan Hadits dengan mengabaikan sanad keilmuan ulama. Ini adalah pandangan yang keliru. Justru cara seperti ini memutus mata rantai sanad ulama.
Kita sering mendengar perkataan, karena agama dari Allah dan Rasulullah, sehingga perlu langsung pada Al-Quran dan Hadits. Pernyataan itu bisa dibantah.
“Justru karena agama dari Allah dan Rasulullah itulah, maka mata rantainya tak putus, cara mengambilnya pun harus dengan menggunakan sanad keilmuan ulama agar otentikasinya bisa dipertanggungjawabkan,” kata beliau meluruskan pandangan sebagian orang yang cenderung berpikir instan.
Kalau cara mengambil agama tidak menggunakan sanad, maka Al-Quran cenderung ditafsiri dengan logikanya sendiri, bukan logikanya ulama salaf. Hadits Rasulullah SAW menerangkan : “Man fassaral qur’ana lira’yihi fal yatabawwa’ maq’adahu minannar“. Barang siapa menafsiri al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, maka bersiaplah masuk neraka.
Orang yang menggunakan sanad dalam menafsiri agama, cenderung tak memutlakkan kebenaran pendapatnya sendiri. Bahkan memakai masker karena mematuhi protokol kesehatan yang diperintahkan negara belakangan juga dianggap kafir. Justru dianggap lebih takut kepada Corona ketimbang kepada Allah.
“Memakai masker itu ikhtiar manusia untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Jangan dibawa ke wilayah teologi,” tururnya tegas.
Ia pun mengimbau, agar warga NU tidak suka mengkafirkan orang lain. “Karena di NU, yang kafir justru diislamkan, bukan yang sudah Islam dikafir-kafirkan,” ungkapnya.
Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk tersebut menerangkan, bahwa NU terus dijaga Allah SWT, karena NU tak pernah lelah mengurus kebutuhan hidup umat manusia dari sejak lahir ke dunia sampai mati.
Selain itu, ia meminta warga untuk tidak mudah menyalahkan pemimpin, apalagi memaki dan mencacinya. Bahkan wajib mendoakan pemimpin agar kinerjanya makin maslahat bagi umat.
“Budaya bangsa kita itu saling memuji dan mendoakan, bukan saling mencaci dan memaki-maki,” paparnya mantap.
Ia mencermati pergeseran di kalangan masyarakat belakangan ini. Masyarakat kita hari ini suka berpikir dan bertindak instan dan formalistik. Sehingga cenderung mengabaikan tradisi dan budaya, yang lambat laun mulai bergeser.
“Mari terus rawat tradisi dan budaya NU ini, agar kekuatan kita tak tergoyahkan. NU menjadi penyangga negara dan bangsa,” pungkasnya.
Editor : Ach. Khalilurrahman

