Kota, NU Online Sumenep
Tepat pada Ahad, 31 Oktober 2021 kemarin, Kabupaten Sumenep memperingati Hari Jadinya yang ke-752. Dengan mengangkat tema ‘Sumenep Kuat Masyarakat Sehat’, Kabupaten dengan tagline The Soul of Madura itu diharapkan mampu memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat tentang vaksinasi Covid-19.
Hingga saat ini target pencapaian vaksinasi di Kabupaten Sumenep masih rendah. Hal tersebut disebabkan karena pemerintah kurang baik dalam mengedukasi masyarakat. Akibatnya banyak informasi silang-sengkarut terkait vaksinasi. Hal ini dengan tegas disampaikan Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Kiai A. Dardiri Zubairi.
“Soal vaksinasi, saya melihat pemerintah kurang bagus ya dalam mengedukasi warga. Sehingga informasi terkait vaksin silang-sengkarut,” ungkapnya kepada NU Online Sumenep, Ahad (31/10/2021).
Adanya kebijakan penyekatan di beberapa titik, menurut Kiai Dardiri, sapaan akrabnya, justru semakin membuat warga takut. Kesan yang muncul kemudian adalah, pemerintah tidak menggunakan pendekatan emosional terhadap warga dalam menyampaikan misi kekebalan komunal.
“Ini contoh bagaimana sebuah kebijakan jika tidak mendayagunakan kearifan lokal, justru bermasalah,” imbuhnya.
Oleh karenanya, mantan Direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sumenep itu berharap, agar tema yang diusung ‘Sumenep Sehat, Masyarakat Kuat’ dalam momentum Hari Jadi ke-752, bisa menjadi kontrol dalam melahirkan kebijakan lebih baik. Utamanya dalam memberikan akses pelayanan kesehatan yang mudah, ramah dan murah kepada masyarakat.
“Mungkin tema ini diambil karena masih masa pandemi. Bagus lah. Cuma harus diiringi oleh kebijakan yang memudahkan akses masyarakat terlayani kesehatannya dengan ramah dan murah,” harapnya.
Selain itu, rumah sakit milik daerah harus pula ditatakelola sebagai rumah sakit rakyat yang memudahkan rakyat kecil memperoleh pelayanan maksimal. Tentu dengan murah dan ramah pula.
Lebih jauh, Wakil Ketua PCNU Sumenep, Kiai Mohammad Cholili, mengatakan, bahwa tema yang diusung mengandung do’a serta harapan bagaimana ke depan Sumenep bisa mencapai kekebalan komunal, sehingga segala lini kehidupan dapat kembali normal.
“Tema yang diangkat ini sangat bagus. Saya melihat bahwa di dalamnya mengandung unsur doa sekaligus harapan bagaimana ke depannya Sumenep segera bebas dari penyakit,” ungkapnya kepada NU Online Sumenep.
Namun demikian, kondisi yang memprihatinkan ini hendaknya dijadikan introspeksi diri. Bagaimana selama ini nilai-nilai spiritualitas mulai menurun, masjid dan mushalla banyak dibangun megah, akan tetapi semangat untuk menunaikan shalat berjamaah juga mulai menurun.
“Artinya, menurut saya, selain kesehatan dzahir, juga diperlukan kesehatan bathin. Bila warga Sumenep sehat nilai spiritualitasnya, maka akan kuat nilai-nilai keagamaannya,” tegasnya.
Ia pun berharap, masyarakat Sumenep tambah makmur. Memiliki pemimpin yang benar-benar dan sungguh-sungguh peduli terharap rakyatnnya.
“Sederhana saja, saya berharap Sumenep lekas pulih dari pandemi. Masyarakat tambah makmur. Memiliki pemimpin yang benar-benar peduli terhadap masyarakat,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

