Image Slider

Rajabiyah NU Ranting Gapura Timur, Kiai Pandji: Bergerak untuk Kemaslahatan Umat

Gapura, NU Online Sumenep

Warga NU yang terdiri dari Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU), Fatayat NU, Muslimat NU, dan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura menggelar Puncak Rajabiyah pada Ahad kemarin (7/3/2021) bertempat di halaman Mushalla Al-Furqan 2 Dusun Dik-Kodik Desa Gapura Timur.

Acara yang dikemas dengan tajuk “Temu Kader dan Harlah NU ke-98 Ranting NU Gapura Timur” tersebut merupakan puncak dari serangkaian kegiatan Rajabiyah NU Gapura Timur tahun ini yang dilaksanakan sejak hari Senin pekan lalu (1/3/2021) dengan diawali ziarah ke maqbarah Muassis NU yang ada di Desa Gapura Timur, lomba baca kitab dan cipta puisi.

Ketua PRNU Desa Gapura Timur, K. Masduna yang mengisi sambutan tunggal pada acara tersebut menjelaskan bahwa organisasi ke-NU-an di Gapura Timur secara kuantitas sudah banyak yang aktif mulai dari PRNU, Pengurus Anak Ranting (PAR) NU, Fatayat NU, Musllimat NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, hingga Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU).

Selain itu, menurutnya, kader NU yang sudah ikut Pendidikan Kader Penggerak NU (PKP NU) jumlahnya lebih dari 100 orang, hingga tak ayal jika kemudian membuat Desa Gapura Timur menjadi desa paling banyak kader penggeraknya di antara desa-desa lain di kecamatan Gapura.

Pihaknya berharap agar semua warga yang aktif di NU khususnya kader penggerak bisa bergerak di semua lini kehidupan untuk kemaslahatan umat.

“Saya berharap agar semua warga yang terlibat dalam organisasi NU yang ada di Gapura Timur ini bergerak. Jangan hanya bergerak di tempat, tapi harus bergerak ke semua lini kehidupan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Sumenep, KH. A. Pandji Taufiq, yang turut hadir di acara tersebut, saat memberi tausiyah mengatakan bahwa NU atau tepatnya Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) sudah ada sejak lama, usianya bukan hanya 98 tahun. Hanya waktu itu masih berupa amaliah saja yang dikenal dengan amaliyah Aswaja, dan masih belum berbentuk organsasi.

“Ketika penjajah datang, barulah para kiai dari Jawa dan Madura berkumpul karena para kiai menengarai umat Islam jika tidak berorganisasi, maka negara Indonesia akan dikuasai oleh orang barat yaitu penjajah,” ujar beliau menceritakan.

Tidak berhenti di situ, Kiai Pandji, sapaan akrab beliau, menceritakan bahwa sebelum NU berdiri, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari melakukan istisyarah selama dua tahun ke beberapa ulama yang ada di pulau Jawa bahkan hingga ke Kalimantan untuk meminta pendapat-pendapat kepada ulama. Setelah meminta istisyarah kepada beberapa ulama barulah terakhir istisyarah ke gurunya, yaitu KH. Muhammad Kholil Bangkalan, hingga akhirnya NU didirikan.

“Saat itu Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari melakukan istisyarah sendirian di tengah keterbatasan sarana transportasi. Karena di laut belum ada kapal, masih perahu, sedang di daratan belum ada mobil, mungkin yang ada hanya pedati, masih tak punya bendahara, dan personalia lainya,”tuturnya.

Setelah mengupas sepintas sejarah lahirnya NU, alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu kemudian membahas perihal organisasi NU di Desa Gapura Timur yang sudah lengkap, hanya saja warga yang aktif di pertemuan rutinnya masih tidak semuanya.

“Jika begitu kenyataanya maka bisa dibilang cobbu’na ampon genna’ keng essena gi’ tak possa (wadahnya sudah lengkap tapi isinya belum penuh),” ungkap beliau tersenyum.

Dalam sambutan itu, beliau meminta agar menjadi warga NU yang aktif. Keaktifan warga di NU, menurut beliau, otomatis akan berpengaruh kepada semakin kuatnya nuansa Islam di masyarakat.

“NU tidak ingin mendirikan negara Islam tapi ingin menjalankan syariat Islam di dalam masyarakat,” imbuhnya.

Kepada Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura, Kiai Pandji berharap agar surau dan masjid yg ada di kecamatan Gapura diramaikan dengan kegiatan ke-NU-an sebagaimana yang ada di Desa Gapura Timur, karena penguatan di ranting pada hakikatnya adalah penguatan MWC itu sendiri.

“Karena apabila ranting baik, maka MWC bahkan PC juga akan baik,” sergahnya.

Lebih jauh, Ketua PCNU Sumenep tiga periode itu mengajak kepada seluruh warga NU untuk bersama-sama mewujudkan kemandirian ekonomi. Sebab menurut beliau membangun kerja sama yang baik untuk mengangkat potensi-potensi lokal yang ada itu jauh lebih bermanfaat dan berdampak positif.

“Minimal NU Ranting Gapura Timur itu sapu lidi tidak usah beli, cukup membuat bersama-sama. Itu salah satu contoh megangkat potensi lokal,” tuturnya.

Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga