Image Slider

Kader PMII Ini Ungkap Pentingnya Menilik Embrio Historiografi PMII Sumenep

Kota, NU Online Sumenep

Napak Tilas Gerakan Mahasiswa: Historiografi Gerakan PMII Sumenep Tahun 1999 – 2007 adalah buku karya Akh. Fauzi, salah seorang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep yang menelurusi fakta-fakta sejarah berdirinya PMII di Kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Madura ini. Sehingga terbitnya buku tersebut diharapkan bisa menambah koleksi sejarah ke-PMII-an, baik di lingkup nasional maupun lokal.

Ia mulai menulis buku ini sejak awal bulan Februari 2020 lalu. Karena fokus pada penelusuran sejarah, membuat dirinya sampai membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk menyelesaikan buku yang nantinya akan ia dijadikan sebagai salah satu sumbangsi materi dasar kaderisasi PMII lokal di Sumenep.

Pria kelahiran Pulau Masalembu, Desa Masalima Kecamatan Masalembu Kabupaten Sumenep ini, sejak awal memulai proses penelusuran sejarah tentang historiografi PMII Sumenep terus berusaha untuk menulis hasil temuannya dengan data-data yang auntentik. Karen itu, dirinya menggunakan metode penulisan sejarah ala Kuntowijoyo, salah seorang sejarawan terkemuka.

Meski tidaklah mudah bagi seorang Akh. Fauzi–yang masih baru enam tahun aktif sebagai kader PMII sejak 2015 lalu, untuk menyelesaikan buku tersebut, namun semangatnya tidak pernah pudar. Hal itu didorong oleh semangatnya untuk mengungkap fakta secara De Facto maupun De Jure terkait kelahiran PMII di Sumenep. Sebab menurutnya, masih terdapat beberapa data yang kontradiktif dalam sejarah dialektika PMII lokal, khususnya di Sumenep sendiri.

“Di materi sejarah dan dialektika PMII lokal, masih terdapat beberapa data yang simpang-siur. Itu terlihat ketika setiap komisariat di Sumenep menyelenggarakan kaderisasi formal. Materi yang disampaikan masih ada beberapa yang kontradiktif. Dari itu saya pribadi ingin mencoba untuk mengungkap fakta secara De Facto dan De Jure terkait sejarah PMII lokal di Sumenep. Agar betul-betul bisa dijadikan sumber autentik bagi kader-kader selanjutnya,” ungkapnya.

Itulah yang melatarbelakangi dirinya kenapa harus menyelesaikan buku tersebut. Meski harus melalui pelbagai tantangan dan kesulitan dalam menggali sejarah dari beberapa sumber.

Alhasil, penelusuran sejarah PMII Sumenep yang ia tungkan dalam buku itu, beberapa waktu lalu, tepatnya pada Minggu, 11 April 2021 bertempat di Sekretariat Pengurus Cabang (PC) PMII Sumenep, telah resmi diluncurkan. Akh. Fauzi berhasil mengungkap cakrawala sejarah dan dinamika PMII yang berlangsung sejak 1999 hingga 2007 lalu di Sumenep.

Kader PMII asal Komisariat Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep ini dalam bukunya memaparkan sejumlah data dan fakta sejarah yang ia klasifikasikan ke dalam tiga bab pembahasan. Pertama, membahas tentang embrio kelahiran PMII Sumenep. Kedua, perkembangan dan dinamika keberlangsung PMII di Sumenep. Ketiga, biografi singkat sejumlah tokoh yang menjadi pelopor lahirnya PMII di Sumenep hingga mantan-mantan ketua cabang dari 2001 sampai 2007.

Tidak berhenti sampai di situ, Akh. Fauzi dalam pengantar bukunya juga menjelaskan terkait data temuannya yang mengungkap adanya tokoh pendiri PMII yang tidak banyak diekspos oleh pelaku sejarah lain. Seperti, Ahmad Ali Murtadha.

“Jadi untuk melengkapi temuan sejarah ke-PMII-an, sekilas saya bahas itu,” ujarnya kepada NU Online Sumenep, Senin (12 April 2021).

Bahkan, keseriusan dirinya untuk menulis buku dengan se-objektif mungkin terlihat saat ia secara langsung menjadikan putra Mahbub Djunaidi, Ketua Umum Pertama PB PMII, sebagai narasumber. Sebab menurutnya sangat penting untuk mengetahui latarbelakang berpindahnya Mahbub Djunaidi dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke PMII.

“Selama ini juga masih banyak yang belum paham betul sejarah itu. Jadi saya wawancara langsung dengan putra almarhum, guna mendapatkan data auntentik dari sumber priemer,” paparnya.

Kendati demikian, dirinya yang saat ini juga masih menjabat sebagai Pengurus Cabang PMII Sumenep Masa Khidmat 2019-2020, merasa bahwa buku yang ia tulis belum sepenuhnya final. Dalam arti, hanya sebagai pembuka kran untuk menumbuhkan semangat kader-kader PMII di Sumenep agar melanjutkan penelusuran sejarah.

“Karena banyak kader menganggap bahwa sejarah itu normatif, tidak dialektis. Padahal terbalik. Justru sejarah dan dialektika itu sebagai ruhnya organisasi,” imbuhnya.

Salah satu temuan sejarah PMII Sumenep yang menurutnya sangat penting untuk terus dilanjutkan adalah bahwa pada tahun 1981 PMII di Sumenep sudah berdiri. Data itu ia dapatkan saat KH. Ahmad Bagja masih menjabat sebagai Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat 1977-1981 yang menyebutkan nama-nama cabang PMII di seluruh Indonesia dan Sumenep termasuk di dalamnya.

“Sementara di buku yang saya tulis ini masih fokus pada tahun 2000 an. Untuk itu temuan data-data yang saya tuangkan dalam buku ini saya maksudkan sebagai bahan dasar untuk terus dikembangkan lagi,” pintanya.

Sebab itu, ke depan dirinya berharap agar ada banyak kader PMII yang bisa meneruskan penelusuran dan kajian-kajian strategis. Sehingga bisa ditulis se-objektif mungkin dan dapat dikaji secara bersama-sama dengan serius.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga