Image Slider

Bangun Ukhuwah Nahdliyah, NU Sumenep Gelar Rakor dengan Badan Otonom

Batuan, NU Online Sumenep

Dalam rangka membangun ukhuwah Nahdliyah, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep menggelar rapat koordinasi dengan Pimpinan Cabang (PC) Badan Otonom (Banom), pada Rabu (30/6/2021) di Aula Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Kantor PCNU setempat.

Dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, acara itu digelar dengan melibatkan PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Korps PMII Putri (Kopri), Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa, dan Jam’iyyatul Qurro Wal Huffadz Nahdlatul ulama (JQH NU).

Rapar koordinasi tersebut merupakan tindaklanjut dari rangkaian silaturrahim yang sebelumnya dilakukan oleh PCNU Sumenep, dalam hal ini Koordinator Bidang (Korbid) Banom, untuk menyatukan persepsi agar ke depannya terjalin ukhuwah Nahdliyah yang kuat.

KH. A. Pandji Taufiq, Ketua PCNU Sumenep dalam sambutannya menyampaikan bahwa pada prinsipnya semua komponen di NU, adalah satu. Karena itu komponen tersebut harus bersatu dari hari ke hati. Saling menguatkan satu sama lain.

“Semua ini kita lakukan dalam rangka yasyuddu ba’dluhu ba’dlan (sebagiannya menguatkan sebagian yang lain). Sehingga bukan hanya sekedar ketemu secara fisik. Melainkan bersatu dari hati ke hati,” ungkap beliau mengingatkan.

Beliau juga mengajak kepada segenap pimpinan badan otonom NU di Sumenep untuk membangun ukhuwah Nahdliyah dalam rangka izzul Islam (kemuliaan Islam) dan memperkuat NU ke depan.

Hal terpenting dalam membangun ukhuwah Nahdliyah adalah tidak menempatkan kepentingan pribadi dalam melakoni aktivitas keorganisasian, melainkan semata-mata untuk mengabdi di NU dan masyarakat.

“Kurangi kepentingan pribadi lewat NU. Kita berkhidmat di NU semata-mata mensyukuri nikmat dimana diberi kesempatan menempa diri yang akan kita abdikan untuk kepentingan masyarakat. Mari kita tanamkan bersama-sama tujuan itu,” pinta Kiai Pandji.

Karena itu, beliau meminta agar semua badan otonom hidup, berkembang dan kemudian dapat menuai manfaat. Berbagai kekurangan dan kelebihan yang dimiliki adalah satu keniscayaan yang semestinya diingatkan dan diarahkan.

“Antar Banom, ayo bersinergi. Banom itu bersaudara. Segala kelebihan dan kekurangan, mari kita isi bersama. Saling mengisi dan mengingatkan di antara kita, itu penting. Dengan begitu, maka kebersamaan di antara kita akan tercipta,” imbuh beliau.

Menindaklanjuti perihal yang disampaikan Kiai Pandji, Kiai Abdul Wasid, Wakil Ketua PCNU Sumenep memberikan dua usulan. Pertama di setiap momentum hari besar NU dan Nasional, menggelar tasyakuran di lingkungan masing-masing atau secara bersama-sama.

“Misalnya pada saat Hari Lahir (Harlah) NU maupun Hari Santri. Mari kita semarakkan momentum tersebut,” tegas Kiai yang juga Korbid Kebijakan Umum dan Pengendalian Badan Otonom di PCNU Sumenep itu.

Kedua, usai rapat koordinasi dibuat semacam media silaturrahim, seperti temu rutin yang setiap saat bisa berkumpul bersama guna saling bertukar pikiran dan membangun hubungan emosional.

“Saya menawarkan, setiap 4 bulan sekali kita ketemu. Nanti kita musyawarahkan bersama,” usul beliau.

Lebih jauh, Sekretaris PCNU Sumenep, Kiai Zainul Hasan, di kesempatan itu juga menyampaikan tata kerja keorganisasian guna memperbaiki berbagai sistem yang ada. Baik di bidang administrasi maupun manajemen lainnya.

“Sebagai sebuah organisasi, tentu di dalamnya terdapat prinsip-prinsip manajemen dan tata kelola adiministrasi yang perlu mendapat perhatian. Mari kita tunjukkan ke dunia luar, bahwa kita mampu melakukan itu,” pinta beliau.

Badan otonom menurut beliau, merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan organisasi NU. Ia adalah salah satu perangkat organisasi NU (selain lembaga dan badan khusus) yang berfungsi melaksanakan kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan.

“Karena itu, maka Badan Otonom harus selalu selaras, seirama dan satu komando dengan NU,” tegas beliau.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep itu meminta agar badan otonom selalu berkoordinasi dan melaporkan perkembangan setiap tahunnya kepada PCNU Sumenep sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan organisasi.

Seperti yang termaktub dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) NU Pasal 18 ayat (4) bahwa banom harus melaporkan setiap perkembangan organisasinya. Hal itu dianggap penting agar NU sebagai induknya bisa tahu perihal apa saja yang telah dan akan dilakukan oleh banom.

Bahkan di Peraturan Organisasi (PO) disebutkan di pasal 7 ayat 5, bahwa setiap surat yang dikeluarkan oleh Badan Otonom harus memberikan tembusan kepada pengurus NU sesuai dengan tingkatannya.

“Satu hal lagi yang perlu diingat, sebagaimana termaktub di ART NU Pasal 54 ayat (2), disitu disebutkan bahwa pengajuan SK/pengesahan Pimpinan Badan Otonom, itu harus melampirkan Rekomendasi dari pengurus NU sesuai dengan tingkatannya,” ungkap beliau.

Diakhir penyampaian beliau kembali menegaskan bahwa NU adalah organisasi (jam’iyyah), bukan sekedar paguyuban (jama’ah).

“Mari kita jalankan NU dan perangkat organisasinya dengan cara-cara layaknya sebuah organisasi (jam’iyyah),” pungkas beliau.

Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga