Kota, NU Online Sumenep
Saat ini kita memasuki era digital, di mana manusia tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis. Perkembangan digital sudah menembus ruang dan waktu secara cepat dan mengubah kehidupan. Memahami situasi itu, dakwah NU harus menyesuaikan dengan eranya, yaitu Dakwah Digital.
Demikian penyampaian Wakil Ketua Pengrusu Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep Ach. Subairi Karim saat membuka rapat terbatas Lembaga Dakwah (LDNU) Sumenep, Jumat (27/11/2020), di Kantor PCNU Sumenep. Rapat kali ini digelar guna merencanakan kegiatan strategis yang akan diusulkan pada Musyker PCNU Sumenep mendatang.
“Perubahan teknologi yang demikian cepat dengan sendirinya telah mengubah lanskap cara-cara berdakwah dan melayani masyarakat. Dakwah digital merupakan sebuah keniscayaan,” tuturnya meyakinkan forum rapat.
Sejalan pandangan tersebut, Wakil Ketua LDNU Sumenep KH Ahmad Madkur Abd Wasik juga mengungkap, bahwa belakangan kecenderungan sekelompok orang memposisikan diri sebagai pemilik agama, mengklaim kebenarannya sendiri, seperti tidak membuka ruang perbedaan pada sejumlah persoalan lain.
“Klaim pemilik kebenaran tunggal ini harus dilawan dengan dakwah digital, agar moderasi keislaman bisa terus tumbuh dan terawat,” ujarnya mengurai pentingnya dakwah digital untuk melawan absolutisme kebenaran.
Masalah lain yang mengemuka diungkap oleh pengurus lainnya, Nyai Zainab Ali Hisyam. Ia menyebut bahwa warga mulai dimasuki doktrin dan propaganda kaku, yaitu gerakan peng-agama-an budaya.
“Budaya etnis tertentu mulai didoktrinkan sebagai agama dan kebenaran yang absolut. Padahal yang harus dikampanyekan adalah syariatnya, bukan alat pelaksana syariat yang bisa berbeda ragam tergantung di mana syariat itu dilaksanakan. Sehingga syariat dapat diterapkan secara sempurna tanpa harus menggerus budaya lokal, semisal dalam berpakaian bagi perempuan,” tuturnya.
Ia pun menambahkan, bahwa menjadi penting untuk dirancang buku pedoman berbusana ala budaya Indonesia. “Agar seluruh warga bisa memahami bahwa warisan leluhur kita memiliki dasar dan pijakan yang jelas,” tambahnya.
Dalam rapat tersebut ada tiga isu strategis hasil konferensi yang diurai dalam bentuk kegiatan nyata. Antara lain yaitu, Rancangan dakwah digital, Terbentuknya forum Da’i dam Da’iyah, dan Materi tematik Dakwah Aswaja An-nahdliyah.
Selanjutnya, kegiatan yang kongkrit disimpulkan antara lain: Membuat dan mensosialisasikan website LDNU Sumenep, Membuat video pendek dari tokoh ulama lokal dan nasional, Mengisi konten Youtube Chanel dari Jaringan Da’i Da’iyah NU, dan menyikapi fenomena sosial yang tengah mengemuka.
Selain itu juga akan membuat meme dakwah berdasar sumber otoritatif, memfasilitasi terbentuknya LDNU di tingkat Kecamatan, terbentuknya jaringan Da’i Da’iyah dan pertemuan rutin bulanan dengan tema tematik yang fenomenal, dan menyusun materi dakwah hubungan agama dan negara, agama dan budaya, identitas keberagaman dan radikalisme agama, menyusun dakwah islam wasathiyah, dan dakwah kepemimpinan perempuan dalam keislaman serta kebangsaan.
Selain itu, fenomena warga belajar agama melalui internet juga mengemuka dalam rapat tersebut. Fenomena tersebut dipahami dapat memunculkan generasi-generasi instan dalam memahami agama. Sehingga perlu didekati dengan dakwah digital.
“Banyaknya warga NU yang mengalami kecanduan internet dan menghabiskan sebagian besar waktunya berselancar di dunia maya, menguatkan LDNU untuk tak ragu lagi merancang dakwah digital secara serius,” ujar Ketua LDNU K. Imam Sutaji mengakhiri rapat.
Kontributor: Ach Subairi Karim
Editor: A. Habiburrahman

