Kota, NU Online Sumenep
Gusdurian Sumenep bersama dua puluh enam komunitas dan organisasi se-Kabupaten Sumenep peringati Hari Toleransi Internasional di Warung Kopi Cuan, Jl. Adirasa, Kothe, Kolor, Kota Sumenep, Minggu (28/11/2021).
Kegiatan yang diisi dengan nonton bareng film ‘Liyan dan Selaras’ berlangsung dengan penuh khidmah dan meriah meski hujan deras melanda saat acara sedang berlangsung.
Pasalnya, teman-teman Gusdurian Sumenep juga mendatangkan performance music show Komunitas Kesenian Global (King) serta dua pemateri yang memantik ulasan diskusi film tentang tolerasi tersebut.
Nunung Fitriyana, pemateri yang mengulas film tersebut menegaskan, jika dalam diri seseorang terbesit perasaan merasa risih dengan pendapat orang lain. Karena tidak sama dengan pendapatnya, menurut aktivis perempuan Sumenep ini. Hal tersebut merupakan salah satu cikal bakal bibit intolerasi yang akan berkembang dalam diri seseorang.
“Merasakan perbedaan di pedesaan sulit. Karena kita tidak pernah mengalami tolerasi, berinteraksi dengan orang-orang di luar agama kita, apalagi di Madura,” katanya.
Ia menambahkan sebagai masyarakat tidak perlu takut untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda dengan dirinya. Sebab, menurutnya, terkadang orang terlalu khawatir dengan keimanan ketika berkomunikasi dengan orang di luar agamanya.
“Tantangan bagi kita di kalangan wilayah Madura adalah bagaimana perbedaan menjadi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Sementara itu, Mas Faiz, pemateri yang diminta untuk mengulas dua film tersebut mengatakan bahwa film yang diputar pada acara tersebut merupakan film reportase. Sebab, menurutnya, film dokumenter adalah film yang diproduksi untuk merespon isu tertentu.
“Film ini menurut saya adalah film reportase. Saya melihat memang ada toleransi yang sangat minim di Indonesia,” pungkas sutradara film Basiyat ini.
Pewarta: Abdul Warits
Editor: Ibnu Abbas

