Image Slider

Puisi Faidi Rizal Alief

Ijazah Kiai Kholil Bangkalan

lewat Ya Jabbar Ya Qohhar paling sunyi
berputar-putar di dada langit ini
kuminta izinmu dari lubuk rindu
sebab aku ingin mengaji sajakmu
sajak yang kautulis di lembaran putih
dengan huruf-huruf melampaui perih
konon sekali saja kaumenulisnya
batu-batu ditumbuhi bunga-bunga

dan saat kaubaca ketika berlayar
ombak-ombak menjadi kumparan mawar
sepanjang berayun angin jadi lagu
lautan yang mengerikan jadi lugu
bahkan cukup dibaca di dalam hati
gelombang yang dahsyat tak sebatas jari
yang mengirim sampan api kepadamu
panasnya akan pulang sebelum pintu

di huruf pertama setelah bismillah
suaramu seperti mengunci lelah
suaraku tak mampu melafalkannya
hanya tersisa getar dahsyat di dada
dari balik tulang sumsumku menjalar
seperti kesunyian darah yang segar
kututap kembali kitabmu di dada
sebab sudah kuhafal separuh kata

(fra: 2020)

Dalam Asuhan Gus Zainal Arifin Toha
PP Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta

di rumah sederhana jalan Minggiran
di antara pakaian yang bergantungan
kami pernah lahir sebagai harapan
rajin belajar menulis hari depan
kami memulai pandai dari buku
dari bekas kertas makalah tak laku
dari komputer tua yang hanya satu
juga dauh kitab-kitab terdahulu

di sini kami belajar sederhana
menahan malu dalam saku celana
meski tubuh kota selalu menggoda
dengan jalan yang menjulur pada kata
kamar mandi yang ada apa adanya
tempat mencuci hati dari angkara
bahwa segayung air tersimpan doa
tak boleh dihabiskan untuk(ku) saja

sebab masih ada diriku yang lain
juga butuh mandi dengan air dingin
agar jiwa yang lusuh karena lalai
tak perlu dilebur dengan air pantai
ketika akan makan tak perlu resah
cukup menghampar plastik di atas tanah
dari tangan-tangan saling bersentuhan
kami rasakan kenyang persaudaraan

selesai makan tak menyisakan butir
sebab cinta di dada deras mengalir
lagi pula tempat sampah masih ada
hingga dengki tak perlu busuk di jiwa
setelahnya sebagian dari kami
bersiap menempuh panjang jalan sunyi
jalan yang terbentang antara Minggiran
dan Sleman yang terbakar kebisingan

dengan ontel-ontel paling sederhana
kami memedal hati ke jantung kota
melintasi jembatan sungai yang keruh
melewati kenangan yang nyaris runtuh
puntung rokok yang tergeletak di jalan
kami menyulapnya menjadi senyuman
sekadar menghirup wangi kenikmatan
lalu menghempaskan asap keresahan

kami pelihara doa-doa ibu
di dalam gedung kampus yang kian kaku
dengan menyimpn rindu di balik buku
dan menunda kenyang di kantin yang baru
sebagian yang lain di peremptan
mengasah nasib dengan menjual koran
keringat mencair sebenarnya doa
yang menyiapkan jalan menuju cinta

pantang bagi kami kembali menyusu
haram bagi kami makan uang ibu
lapar sehari bukan alasan mati
sebab kami selalu punya puisi
media massa jadi salah satunya
ladang kami bertani yang sebenarnya
jalan terbaik menuju hari depan
cara terindah meringkus kesepian

biarlah di jalan-jalan kian ramai
kendaraan yang mewah melambai-lambai
kami ini tetaplah anak asuhnya
sabar menunggu batu jadi permata
kami memang tak pernah tergesa-gesa
sebab ranting berkembang ada saatnya
dan purnama menyala ada waktunya
bahkan tak ada luka yang selamanya

hingga kami tak pernah merasa bimbang
merogoh saku untuk mengambil uang
ketika melihat pengemis di jalan
meski akhirnya kami menunda makan
sampai kembali di pondok perut kosong
tapi kami masih punya air gentong
selebihnya kami mengenyangkan jiwa
dengan ngaji dan menyusun kata-kata

bagi kami tak ada waktu terbuang
bahkan sekadar untuk melihat bintang
yang semakin berdenyar dalam puisi
yang semakin bergetar di dasar hati
maka janganlah heran melihat batu
kami tiup jadilah permata biru
laut kami tulis jadi taman bunga
hutan rimba kami babat jadi kota

yang sakti bukanlah diri kami ini
tetapi kata yang dilahirkan nyeri
bukankah bertapa tak mesti di gua
sebab ada sunyi lain dalam dada
begitulah selanjutnya kami tumbuh
sampai rumah di Minggiran itu runtuh
dan kiai kami pulang ke rumah-Nya
kami bertahan hidup di dalam luka

pelan-pelan menyusun hari yang baru
di kampung Sewon yang belum kami tahu
buku dan menulis tetap jadi cara
agar tak mati tergenang air mata
hingga purna kembali puisi kami
menjadi tempat sunyi untuk mengaji
menguji diri kuat memedal jiwa
melintasi batas-batas paling luka

di jalan Parang Teritis Sewon Bantul
kami lihat kembali rokok mengepul
dan seseorang berbisik pada kami
hiduplah seperti orang minum kopi
segera ingin kami cium tangannya
tetapi hening tak mampu kami raba
kecuali jiwanya yang samar-samar
membuat diri kami tak mati getar

(fra: 2020)

Faidi Rizal Alief belajar menulis puisi sejak nyantri di Lesehan Sastra dan Budaya Kutub Yogyakarta. Pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia. Buku puisinya Pengantar Kebahagiaan Basabasi, Juni 2017 menjadi salah satu pemenang di Banjarbarus’ Rainy Day Literary Festival 2018. Saat ini mengajar di MA Nasy’atul Muta’allimin dan MTs Al-Huda II Gapura. Alamat: Jl. Gapura dsn. Sema Bandungan RT 02 RW 05 Gapura Tengah Gapura Sumenep Madura 69472.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga