Gapura, NU Online Sumenep
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura gelar doa bersama dan pembacaan burdah, sebagai salah satu ikhtiar memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Pada Sabtu, (10/7/2021) di Aula Aswaja Lantai II Kantor MWCNU setempat.
Di kesempatan itu, KH. Moh. Alwi, Ketua MWCNU Gapura mengimbau kepada masyarakat, di tengah lonjakan kasus Covid-19, hendaknya meningkatkan ikhtiar, baik lahir maupun batin. Hal itu dianggap penting, mengingat keselamatan bangsa dan negara saat ini dipertaruhkan.
“Di tengah kondisi yang semakin mencekam ini, marilah kita tingkatkan kewaspadaan dengan selalu berikhtiar baik lahir maupun bathin. Ikhtiar lahir kita wujudkan dengan mematuhi protokol kesehatan, kemudian ikhtiar bathin kita lakukan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ungkap beliau mengingatkan.
Setiap waktu, korban terus berjatuhan. Lantaran, fasilitas kesehatan yang tersedia mulai menipis. Sementara itu, tenaga kesehatan yang selama ini berjuang di garda terdepan, juga sedikit kewalahan. Dan membutuhkan bantuan dari para relawan.
Pantauan NU Online Sumenep, setiap harinya di jalanan seringkali ambulans berlalu-lalang. Tempat pemakaman terus dipadati oleh para korban virus yang kali pertama datang dari Wuhan, Cina.
Hal itu terjadi karena kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 meningkat drastis. Penyebarannya sangat cepat. Bahkan virus ini diketahui bermutasi dengan ragam varian yang justru semakin menambah keganasannya.
Oleh sebab itu, Kiai Alwi mengajak kepada seluruh masyarakat di semua lapisan untuk mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. Tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi orang lain. Sehingga mampu menekan penyebaran virus.
Meski begitu, beliau juga mengingatkan agar tetap tenang dan tidak cemas. Sebab bilamana masyarakat panik dan cemas, maka akan berpengaruh terhadap penurunan imunitas tubuh. Sehingga lebih mudah diserang.
“Harapan saya kepada masyarakat, kita tetap tenang dengan kondisi yang mencekam ini. Namun tetap harus waspada. Tetap disiplin protokol kesehatan Sebab ini adalah bentuk kepedulian kita pada sesama. Menyelamatkan bangsa dan negara serta menekan angka penyebaran Covid-19,” imbuh beliau.
Patuh terhadap protokol kesehatan, menurut Kiai Alwi, juga merupakan wujud dari meneladani para ulama. Sebab, sebagaimana dimafhum, para kiai dan ulama di pesantren sangat ketat dalam menerapkan protokol kesehatan.
“Ini sudah dicontohkan oleh para ulama kita dan guru-guru kita di pesantren. Kita sebagai santri, sebagai warga NU, wajib ikut guru,” tegas beliau, kepada NU Online Sumenep.
Bagi NU, menjaga sanad keguruan merupakan ciri khas yang tidak boleh dihilangkan. Sebab hal itu merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan ilmu yang barakah. NU pula sangat percaya dengan adanya barakah.
“Jadi kita niatkan menerapkan protokol kesehatan untuk menyambung sanad keguruan dengan para kiai-kiai kita di pesantren. Sebagai santri, sudah seharusnya patuh pada kiai,” imbuh beliau.
Sebagai alumni, Kiai Alwi juga mencontohkan KHR. Ahmad Azaim Ibrohimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, yang selalu memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan lainnya.
“Salah satu contoh, Kiai Azaim Sukorejo selalu memakai masker, tentu sanad kita sudah jelas. Guru-guru kita juga memakai masker. Dari itu saya imbau kepada masyarakat untuk ikuti prokes dengan niat patuh kepada guru-guru kita di pesantren,” ungkap Kiai Alwi.
Ittiba’ ulama atau ikut ulama ini, dibenarkan oleh Kiai Muhammad Syahid Munawar, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep saat dikonfirmasi NU Online Sumenep, Ahad, (11/7/2021). Menurut beliau, sebagai warga NU harus meneladani para kiai dan ulama. Tidak terkecuali soal penerapan protokol kesehatan.
“Ya, benar itu. Sebagai warga NU, sebagai santri sudah seharusnya ikut kiai. Masak iya, kiai-kiai kita di pesantren sangat patuh terhadap protokol kesehatan, kita santrinya malah abai. Harusnya kita meneladani beliau,” tutur beliau.
Lebih jauh, Kiai yang juga mantan Ketua MWCNU Gapura itu mengingatkan kepada masyarakat agar bijak dalam menyikapi persoalan pandemi. Agar tidak semakin membuat tatanan kehidupan sosial semakin keruh.
“Harusnya kita lebih selektif dalam mengonsumsi berita yang bertebaran di media sosial. Jangan mudah percaya. Apalagi sampai ikut menyebarkan informasi yang tidak jelas kebenarannya, atau hoaks,” pungkas beliau.
Editor: A. Warits Rovi

