Image Slider

Lestarikan Tradisi, Jam’iyah Kifayah Al-Muttaqin Gelar Ziarah Wali

Lenteng, NU Online Sumenep

Ziarah kubur ke makam para wali dan ulama menjadi tradisi muslim di Indonesia. Pada hari Kamis dan Jum’at, peziarah memadati kompleks pemakaman, termasuk saat hari-hari besar Islam.

Berangkat dari hal itu, Jam’iyah Kifayah Mushala Al-Muttaqin Desa Lembung Barat, Lenteng mengadakan kegiatan rutin tahunan berupa ziarah wali 8, Kamis-Sabtu (21-23/07/2022).

Kiai Safrawi selaku Ketua Jam’iyah Kifayah Mushala Al-Muttaqin mengutarakan hal yang melekat pada tradisi masyarakat adalah melakukan ziarah ke makam para wali.

Dikatakan pula, kegiatan ini dipimpin sesepuh, sejumlah anggota melakukan ziarah dengan membacakan kalimat thayyibah, ayat Al-Qur’an dan doa.

“Pada prinsipnya, ziarah ke makam orang tua, keluarga, guru, ulama, dan para wali itu dapat dilaksanakan kapan saja. Mau pagi, siang, sore, malam, boleh-boleh saja; hari Senin, Selasa, Kamis, Jum’at atau yang lainnya; sepekan sekali, dua kali atau tiga kali, silahkan,” tutur Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Yaqin Desa Lembung Barat, Lenteng ini.

Sebab, lanjutnya, inti (hikmah) dari ziarah ialah menebalkan keimanan dengan mengingat mati. Tentu, ini lebih baik ketimbang sepekan berpikir tentang dunia, kekayaan, uang, dan lain sebagainya yang tidak ada batasnya.

“Malah dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia ke lembah kesengsaraan. Tidakkah hidup ini sekadar kesenangan yang palsu, bak fatamorgana yang menipu? Kalau kita tidak pandai-pandai melapisinya dengan iman dan ilmu, apa jadinya?,” ungkap Ketua Takmir Masjid Al-Musyarrafah Desa Lembung Barat, Lenteng ini.

Kiai Safrawi menambahkan, ziarah di bulan suci Ramadhan, bulan-bulan lain, ataupun di Hari Raya, itu sebenarnya tidak ada perintah dan tidak ada larangan. Orang yang suka ziarah mengambil inisiatif mengirimkan doa di hari-hari yang penuh rahmat dan ampunan (hari-hari bulan Ramadhan) dan hari yang bahagia (Idul Fitri).

“Justru akan sangat bermakna bagi orang-orang yang sedang mudik ke kampung halaman, ia akan merasa tentram jika sebelum meminta maaf kepada orang lain ia terlebih dahulu mengunjungi kuburan orang tuanya yang (ketepatan) meninggal lebih dulu,” kata alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa itu.

Alumni Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan ini mengungkapkan, pada bab merawat jenazah dan problem-problemnya, Imam Suyuthi menukil dari Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fatawi-nya yang mengatakan, ‘Ruh seseorang berkait dengan jasad selama jasad itu masih utuh, kemudian ruh itu lepas menuju illiyyin atau sijjin di sisi Allah SWT. Ruh tadi bahkan masih berkait dengan jasad meski jenazah berpindah dari satu kubur ke kubur yang lain.’

“Imam Harawi dalam Syarh Shahih Muslim dalam hal penjelasan mengenai hari ziarah mengatakan, ‘Tidak ada hadits shahih yang menerangkan ketentuan hari untuk melakukan ziarah kubur dan tidak pula ada pembatasan berapa kali ziarah.’ Nah, ada keterangan tentang keutamaan ziarah yang dilakukan pada hari Jum’at.” terangnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدَيْهِ

Artinya: “Barangsiapa ziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jum’at, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatat sebagai bakti dia kepada orang tuanya.” (HR. Hakim).

“Dengan demikian, maka sudah selayaknya dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan bulan-bulan lain diisi dengan kegiatan yang sarat manfaat. Termasuk salah satunya dengan melakukan ziarah ke makam leluhur, orang tua, dan para wali,” pungkas Pengasuh Mushalla Al-Muttaqin Desa Lembung Barat, Lenteng ini.

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga