Kota, NU Online Sumenep
Melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), pemerintah memberlakukan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN). Tahap I Bulan Mei meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tahap II Bulan Agustus meliputi Jawa dan Bali.
Pernyataan ini disampaikan oleh dr H Slamet Riadi, Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Sumenep saat dikonfirmasi NU Online Sumenep, Ahad (15/05/2022).
Ia menjelaskan, hal ini dilakukan karena cakupan imunisasi anak menurun akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan gangguan rantai pasokan vaksin, adanya aturan pembatasan kegiatan, jumlah tenaga kesehatan yang terbatas, dan membuat orang tua/wali asuh enggan ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) karena takut tertular Covid-19.
“Fungsi dari BIAN adalah untuk mendapatkan imunitas atau kekebalan dari suatu penyakit. Jika tidak diimunisasi, resiko tertular terhadap suatu penyakit sangat tinggi dibandingkan dengan anak yang sudah di imunisasi,” ungkap Wakil Ketua Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Sumenep itu.
dr Slamet meluruskan anggapan miring masyarakat yang menurut mereka menyebabkan anaknya sakit. Menurutnya, reaksi imuniasi dalam tubuh dapat berbeda pada masing-masing individu. Sebagian besar tidak mengalami keluhan atau keluhan ringan pasca vaksinasi.
Ketua LKNU Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura itu menegaskan, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), biasanya bersifat ringan dan sementara. Gejalanya berupa demam, nyeri dilokasi suntikan, nyeri kepala, mual, muntah.
“Tidak semua anak yang di imunisasi mengalami reaksi atau KIPI. Jika muncul, itu adalah sesuatu yang wajar. Warga NU jangan takut. Kami selalu ada bersamamu,” tandasnya.

