Ambunten, NU Online Sumenep
Peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Integratif Posko 56 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk memantapkan analisis riset dan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ke Pondok Pesantren Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaj) Ambunten Timur, Kamis (28/07/2022).
Moh Manshur selaku divisi riset mengatakan bahwa dirinya bersama tim lainnya sowan ke pengasuh guna menjelaskan tentang judul risetnya yang difokuskan pada komparasi kurikulum tradisional dan modern yang sudah ditetapkan di pesantren tersebut.
“Selain meminta izin melakukan riset, kami jelaskan secara bertahap tentang latar belakang, rumusan masalah, dan metodelogi penelitian guna mempermudah dalam penggalian data selama 1 bulan ini,” terangnya.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga meminta izin tentang program PkM yang bakal dilaksanakan di pesantren tersebut.
“Sembari menikmati jamuan, kami menyampaikan tujuannya tentang program yang akan di jalankan kurang lebih 30 hari ke depan. Salah satu diantaranya adalah PkM dan program lainnya, seperti kolaborasi program dengan peserta KKN dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sumenep,” ungkapnya.
Menyikapi hal tersebut, KH Muhammad Unais Ali Hisyam, Pengasuh Pondok Pesantren Aswaj Ambunten Timur menjelaskan bahwa kegiatan sangat full, mulai jam 03.00 WIB yang melaksanakan shalat tahajud berjamaah, shalat subuh berjamaah dan pengajian setelah subuh. Lalu dilanjutkan dengan sekolah formal yang berakhir jam 12.40 WIB.
Disebutkan pula, pada sore hari jam 13.40 WIB dilanjutkan sekolah Diniyah yang diisi dengan praktik baca kitab selama dua jam. Setelah maghrib kajian tafsir dan muhafadzah.
“Untuk program PkM, silahkan konsultasikan pada ketua pengurus guna mencocokkan waktu. Sedangkan program regular atau sekolah formal dan program takhassus tidak bisa dipublikasikan hanya untuk kalangan internal saja. Karena metode ini tidak seperti metode yang dipakai di pesantren lainnya, misal Amtsilati Jepara dan Al-Miftah Sidogiri. Jadi, Aswaj punya sendiri dalam mendalami kitab kuning,” dawuh Kiai Unais.
Di saat yang sama, Ustadz Fajar Said selaku tenaga pendidik pesantren Aswaj menceritakan, di era tahun 2000 an, santri baru masih kurang di bidang kitab kuning, berbeda di tahun 1980 an.
Berangkat dari fenomena ini, pihaknya membuat metode baru untuk mengenalkan teknik dalam memperdalami ilmu Nahwu dan Sharraf. Sebagaimana hasil musyawarah, maka muncul metode pembelajaran dengan 3 model.
Pertama teori yang dilakukan selama 3 jam (07.00 – 09.00 WIB). Adapun jadwal disinkonkan kalender akademik pesantren.
“Berhubung di sini ada yang berstatus santri kalong dan mukim, maka ada kelas takhassus bagi santri kalong yang berminat dan wajib bagi santri mukim. Setelah itu ada pemberian ilmu umum seperti fisika, dan sejenisnya,” urai Fajar Said.
Kedua adalah praktik yang dilakukan selama 2 jam, tepatnya di sore hari jam 14.00 – 16.00 WIB (waktu Diniyah). Ketiga adalah Muhafadlah yang dilakukan selama satu jam pada waktu malam hari.
Pada dasarnya, metode yang tidak dipublikasikan adalah cara santri menggunakan bahasa Arab, seperti cara i’rab dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“Inilah yang disebut oleh pengasuh sebagai metode tersendiri dan tidak boleh dipublikasikan. Karena diambil dari beberapa kitab di antaranya Al-Jrumiyah, Alfiyah, Amstilati dan lainnya. Ini inovasi dari beberapa ustadz tentang desain materi, seperti menerjemahkan nadzam ke bahasa Indonesia sebagai dalil (kaidah) Nahwu dan Sharraf dengan metode tersendiri. Tujuannya agar santri mudah memahami dalam waktu 40 menit. Dalam waktu itu, santri bisa mengqiyas kepada kalimat yang lain dalam masalah i’rab dan sebagainya,” terangnya.
Diketahui, santri Aswaj juga organisatoris yang tidak putus dengan alumni. Santri merealisasikan kegiatan di hari Jum’at. Organisasinya adalah OPIA (Wilayah Ambunten Timur) dan IPSAS (Wilayah Ambunten Barat). Kedua organisasi tersebut berjejaring dengan alumni sehingga mudah melibatkan para alumni dalam merealisasikan program.
Pewarta : Ach Warid

