Image Slider

Ngalap Berkah Ala Santri

Oleh: Firdausi

Hadratussyaikh KH. Hasani Nawawi menyatakan bahwa pesantren berfungsi untuk membentuk para santri agar bertakwa kepada Allah SWT, sebagaimana didirikannya masjid yang berfungsi untuk membangun ketakwaan bagi setiap muslim. Pembentukan kepribadian yang bertakwa kepada Allah, mengikuti petunjuk Nabi, berpedoman pada Al-Qur’an, hadits, dan mengikuti jejak langkah ulama salaf saleh guna membangun bangsa dan negara.

Pesantren yang merupakan lembaga tradisional Islam mendidik para santri untuk mempelajari, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam yang tidak lepas pada lima elemen, yaitu: kiai, santri, masjid, asrama, dan kitab kuning.

Di lingkungan pesantren, khususnya pesantren yang berhaluan Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah terdapat keunikan. Yakni, adanya hubungan akrab antara kiai dan santri; tradisi sopan santun terhadap kiai dan guru; pola hidup sederhana; tolong menolong sesama teman; mandiri; disiplin; berani menderita untuk mencapai tujuan; dan kehidupan yang serba-serbi religius. Diantara salah satu keunikan tersebut adalah hubungan kiai dan santri yang terjalin dalam bingkai sami’na wa atha’na. Dalam artian, proses ketaatan santri pada kiai untuk mendapatkan barokah. Karena barokah atau berkah akan ada disebabkan unsur karomah.

Konsep ini sering dipraktikkan oleh santri, seperti mencium tangan kiai atau guru, berebut sisa makanan atau minuman guru, berebut bekas puntung rokok, membalikkan sandal kiai, saat mendapat perintah segera melakukannya, bahkan bisa dikaitkan dengan membawa buah tangan saat bersilaturrahmi atau saat acara selamatan.

Praktik ngalap berkah tidak hanya dilakukan saat mendalami sebuah ilmu, khususnya saat menyelami kitab kuning. Tetapi setiap malam Jum’at atau hari-hari lainnya, santri akan menziarohi makam guru. Contoh lainnya adalah ziarah Walisongo yang dilakukan oleh kaum tradisionalis merupakan bagian dari ngalap berkah. Karena dengan mengaji, tahlil, berdoa dan bertawarrub ila Allah, akan didengarkan doanya. Apalagi jika sowan pada guru, kiai, dan orang alim, diyakini doa mereka mustajabah lantaran kezuhudan dan kealimannya. Nilai dan restu kiai bagi santri, tidak bisa ditukar dengan apapun.

Tradisi ini sudah lama tertanam, dan diyakininya serta tak akan punah di zaman 4.0 ini. Etika atau akhlak santri pada guru menjadi kunci utama kesuksesannya dalam menuntut ilmu hingga saat berada di tengah-tengah masyarakat. Keberkahan ilmu akan diraih dengan adab santri pada ilmunya dan penghormatan pada guru yang kelak menjadi perantara santri tersebut dikatakan anfa’uhum li annas. Ilmu yang berkah dan bermanfaat bagi umat, hakikatnya akan menghasilkan amal kebaikan dalam setiap kehidupan.

Dengan demikian, ngalap berkah didefinisikan ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Ucapan lainnya menurut santri dikenal tabarrukan. Jika disinkronkan dengan al-Qawl al-Badi’ fi al-Shalah ‘ala al-Habib al-Syafi’ bahwa barokah adalah berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemuliaan.

Barakah dalam harta, ketika bertambah banyak dan digunakan dalam kebaikan. Jika di dalam keluarga, ketika anggota keluarga bertambah banyak dan berakhlak mulia. Sedangkan barokah dalam kesehatan, ketika fisik seseorang diberikan kesehatan. Jika barokah dalam umur, ketika Allah SWT memberikan panjang usia dan beramal baik pada sesama.

Menurut kacamata santri, barokah dalam ilmu, ketika ilmunya semakin bertambah banyak, diamalkan, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang banyak. Jadi barokah adalah jawami’ al-khair atau pundi-pundi kebaikan dan banyaknya nikmat yang diperoleh dari Allah SWT.

*) Ketua LTN NU Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga