Gapura, NU Online Sumenep
Setiap organisasi memang pada dasarnya harus memiliki pemimpin organisasi, dan setiap organisasi memiliki cara tersendiri dalam mencari pemimpin. Pemimpin itu penting untuk setiap organisasi kecil atau besar. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai sebuah organisasi juga membutuhkan pemimpin.
Atas dasar hal tersebut, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) desa Longos, Gapura, Sumenep, melaksanakan konferensi yang dipusatkan di Madrasah Diniyah Nurul Jadid, desa setempat, Jum’at (4/12/2020) siang.
Dalam pemilihan yang ditempatkan di Madrasah Diniyah asuhan K. Habibullah Rais tersebut, terpilih menjadi Rais PRNU Longos Kiai Muhammad Makki. Sedang Kiai Muhammad Fais diberikan amanah sebagai Ketua PRNU Longos masa khidmah 2020-2025.
Kiai Syahid Munawar menyampaikan, bahwa NU sebagai sebuah organisasi membutuhkan seorang pemimpin. Tentu dalam hal ini pemimpin yang memahami NU, baik NU sebagai sebuah organisasi dan NU sebagai sebuah ideologi.
“Oleh karenanya, salah satu cara untuk memahami NU yaitu dengan mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU),” ujarnya saat memberikan tausyiyah ke-NU-an seusai acara pemilihan.
Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep ini juga menyampaikan, bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan oleh seorang agar bisa menjadi pemimpin yang dapat memahami NU. Pertama, ideologisasi ke-NU-an. Berorganisasi di NU bukan hanya sebatas membaca tahlil dan yasin, akan tetapi juga memahami dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta tidak dapat dipengaruhi oleh ideologi lain.
“Sedang yang kedua ialah Munadzim. Yakni menjadi pemimpin yang mampu mengorganisir organisasi NU hingga tingkatan bawah. Dan yang ketiga adalah Muharrik. Yaitu memperkenalkan nilai dan ajaran NU ke masyarakat luas, khususnya di desa Longos,” jelasnya.
Disebutkan pula bahwa, dari tiga hal tersebut diharapkan seorang pemimpin harus mampu bekerja sama dengan pemerintah desa dan pihak terkait. Bagaimana memadukan kepemimpinan di NU dengan Pemerintah menjadi padu dan bersinergi, karena memang sama-sama memiliki spirit kemanusiaan dan kemasyarakatan, serta tidak “mengemis” ke pemerintah.
“Caranya agar tidak ngemis-ngemis ialah dengan melakukam silaturahmi ke tokoh kunci di desa, dalam rangka menyamakan persepsi dalam ke-NU-an. Kedua saling menasehati satu sama lain untuk menjaga marwah organisasi. Yang ketiga Taqarrub Ilallah, yaitu dengan terus-menerus mengadakan istighatsah, tahlilan, dan yasinan,” tuturnya.
Ia pun menambahkan, bahwa NU merupakan ruang perjuangan, maka totallah dalam ber-NU. Hibahkan segalanya untuk NU, sebab semua doa para wali, dan Habaib berkumpul di NU.
“Karena Nadhlatul Ulama adalah organisasi yang didirikan oleh Kiai dan Ulama, serta segala tindak-tanduk kita bisa menjadi bekal di dunia dan akhirat,” pungkasnya.
Sementara mengutip perkataan KH Asy’ari Marzuqi, Kiai Ridwal Khalqi menegaskan, bahwa menjadi pemimpin di NU harus memiliki cita-cita untuk “membesarkan” NU, bukan mencari popularitas atau kekuasaan.
“Berorganisasi di NU itu jangan seperti hewan kat-kat, yang ketika angin besar melanda ia sembunyi di balik pohon. Jika angin besar dari barat ia sembunyi di sebelah timur, sedang jika angin besar dari timur ia sembungi sebelah barat. Artinya nyare salamet,” imbuh Ketua PRNU Longos sebelumnya ini.
Kiai Ridwal Khalqi pun kembali mengutip pernyataan seorang tokoh, yakni KH A Zubairi Marzuqi, yang menyebutkan bahwa menjadi pemimpin itu harus punya rasa tanggungjawab.
“Pemimpin itu jangan diminta, tapi kalau dipilih harus menjalankan sesuai dengan hak dan kewajiban,” tandasnya.
Kontributor: Matroni Muserang
Editor: A. Habiburrahman

