Image Slider

Organisatoris Sejati, Ini Penjelasan Direktur Madrasah Moderasi LPTNU Sumenep

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Manusia pada hakikatnya tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh orang lain untuk bertahan hidup dan mengelola kebutuhannya. Di sinilah awal mula konsep organisasi terbentuk.

Penegasan ini disampaikan langsung oleh H Damanhuri, Direktur Madrasah Moderasi Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PCNU Sumenep saat mengisi acara Leadership and Administrative dengan tajuk ‘Insan Hebat, Generasi Bermartabat’ yang diselenggarakan oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Putri Guluk-Guluk, Senin (30/05/2022) di ruangan setempat.

Wakil Rektor I Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini menjelaskan, organisasi yaitu relasi antara dua orang atau lebih yang bersekutu dalam rangka bekejarsama agar mencapai tujuannya.

“Lambat laun, saat perkumpulan itu semakin majemuk dan kebutuhan manusia juga bertambah luas, maka pengelompokan kepentingan itupun semakin variatif,” jelas alumni MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk itu.

Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menerangkan, dalam organisasi itu ada kepentingan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, politik, dan lainnya. “Sehingga organisasi yang lahirpun mengikuti tujuan-tujuan praktis tersebut,” terangnya.

Menurutnya, juga ada organisasi formal/legal, internasional, informal, dan rahasia. “Bentuk-bentuk organisasi itu adalah jawaban dari fenomena persekutuan atau kerjasama yang dilakukan oleh person-person dari visi, misi dan tujuan yang ingin direalisasikan,” lanjutnya.

Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk ini menambahkan, sementara kepemimpinan itu merupakan suatu sikap atau karakter yang dapat mengelola berbagai kepentingan dan keinginan semua pihak agar tujuan secara efektif dan optimal bisa sama-sama diperoleh.

“Karena itu, kepemimpinan sering didefinisikan sebagai sebuah kemampuan mempengaruhi pihak lain agar dapat menjalankan apa yang diinstruksikan (getting things done). Kepemimpinan tak lebih sebagai the art of influence,” tambahnya.

Alumni Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengungkapkan, dalam rangka seseorang dapat mematuhi dan mengikuti apa yang dititahkan, seorang pemimpin dapat menggunakan model kepemimpinan kharismatis, transaksional, dan transformasional.

“Masing-masing model ini memiliki kelebihan dan kekurangannya tergantung situasi dan konteks yang melatarbelakanginya. Seorang pemimpin agama tradisional lebih banyak mengandalkan model kharismatis,” lanjut alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk itu.

“Seorang pemimpin organisasi sosial politis lebih banyak menggunakan model transaksional. Sementara seorang pemimpin sosial pendidikan dan ekonomi lebih banyak memakai model transformasional,” imbuhnya.

Di akhir penyampaiannya, alumni Program Doktoral UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memberikan tips agar dapat menjadi seorang organisatoris sejati dan pemimpin yang baik.

“Terlibat secara aktif dalam setiap organisasi, belajar menjadi pendengar yang baik, berupaya selalu mencari solusi-solusi terbaik dari masalah yang dihadapi, memberi contoh atau teladan yang baik, dan jangan lupa berdoa agar apa yang diputuskan adalah keputusan terbaik,” pungkasnya.

Editor : Ach. Khalilurrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga