Oleh: Miftahul Jannah
Berbicara tentang sampah, tidak pernah habis setiap tahun ada model-model terbaru. Sampah yang sudah tidak asing di mata dan telinga kita, ibarat spesies makhluk hidup baru di bumi ini. Lantas siapa yang benar mengenai kehadiran sampah Anorganik tersebut ? Kenapa penulis tidak menanyakan siapa yang salah. Sebab penulis sendiri merasa capek untuk menyalahkan, apalagi menyalahkan orang lain. Menurut penulis lebih baik menyalahkan diri sendiri. Seperti, sejauh mana kita mengurangi populasi sampah.
Keberadaan sampah tidak bisa di pisahkan oleh manusia. Suatu benda yang acap kali didapatkan di berbagai tempat, bisa digunakan atau dimanfaatkan menjadi barang yang lebih bernilai. Seperti, pengolahan sampah non organik menjadi tas, dompet, souvenir, bahkan bisa dipajang dalam pemeran. Hal yang lumrah dilihat oleh indera penglihatan manusia adalah terkadang manusia tidak ingin ribet dengan segala urusan tampa memikirkan dampaknya. Sehingga banyak sampah anorganik menyumbat di berbagai pembuangan air, sungai, dan lainnya.
Yang dimaksud dengan sampah anorganik ialah dari golongan plastik. Tak heran plastik yang harganya murah sering jadi pelarian instan untuk menunjang kebutuhan hidup. Tak jarang pula, kebayakan plastik yang sekali pakai itu memberikan implikasi pada membludaknya sampah di berbagai tempat.
Perlu diketahui, di zaman nenek moyang, masyarakat menerapkan gaya hidup minim sampah. Berhubung di zaman ini ada pengaruh kapitalisme global, warga mulai lupa terhadap identitas dan budaya lelehur yang sejak lama terpatri dalam kesehariannya. Diakui, kemajuan teknologi memiliki dapak positifnya. Tetapi generasi muda tidak boleh terlena. Dalam hal ini bisa di contohkan pada acara tradisonal, seperti menu makanan dalam sebuah hajatan. Dulu masih banyak dijumpai aneka ragam kue atau jajanan yang terbungkus dari dedaunan, seperti daun pandan, pisang, janur dan lain-lainnya. Sedangkan di zaman yang dikenal 4.0 ini, jarang sekali ditemui orang yang memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) sesuai kebutuhannya. Ciri khas yang diperkenalkan oleh leluhur mulai luntur. Banyak masyarakat menggunakan plastik sebagai bungkus makanan dengan alasan simple atau praktis didapatkan di pertokoan dan terjangkau harganya.
Perlu diktahui, proses pembuatan plastik yang bahan dasarnya dari minyak bumi dan gas alam. Dari permasalahan ini, apakah kita masih mau menggunakannya? Terlebih sampah plastik yang sudah didaur ulang yang semakin banyak bahan kimia yang dicampurkannya? Dari pertanyaan ini, itu hanya beberapa contoh dari dampak penggunaan plastik. Berbeda jika ditarik dalam sudut pandang kearifan lokal dan kesehatan yang tentunya masih banyak dampak lainnya.
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Berdasarkan data menempati urutan kedua. Celakanya tingkat daur ulang sampah di indonesia masih sangat rendah. Menurut data sustainable waste indonesia ( SWI ), tingkat daur ulang sampah plastik di Indonesia hanya sekitar 9-10 %. Perharinya ada 11 juta kilogram sampah plastik diproduksi. Yang terkelola hanya 2 juta kilogram. Bahkan dalam sebuah penelitian sejak pertamakali kantong plastik diciptakan pada tahun 1959, 60% masih ada dan terhitung mencemari lingkungan sampai sekarang.
Sudah banyak pergerakan di abad ke-20 untuk menanggulangi sampah anorganik dan tumpukannya kian menggunung, seperti program yang digalakkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Organisasi Pecinta Alam (OPA), dan lain-lainnya. Bersih-bersih gunung, pantai, sungai, perkotaan, gorong-gorong dan selokan, mereka sasar untuk dibersihkan. Menurut kacamata penulis, ini masih tahap pembersihan. Lantas jika sudah dibersihkan mau diapakan sampah sampah tersebut? Seperti yang sudah dijelaskan bahwa ada beberapa sampah yang terkelola lagi, padahal negara sudah banyak mengelontorkan dana untuk kebersihan. Mulai dari jasa kebersihan dari yang berusia muda hingga tua. Di lain sisi, didirikannya pabrik-pabrik untuk mengolah dari tempat pembuagan yang ada dibeberapa sudut kota. Namun, apakah maksimal jika hanya mereka yang bergerak tanpa dibarengi kesadaran dari masing-masing?
Solusi yang paling tepat adalah kita memulai dari diri sendiri dengan gaya hidup minim sampah atau zero waste lifestyle. Artinya, kita membawa botol minum air sendiri, membawa wadah makanan sendiri, membawa kantong belanja sendiri dan lain-lainnya. Tentunya barang-barang tersebut tidak sekali pakai dan masih banyak lagi untuk meminimalisir sampah. Jika sudah berusaha untuk meminimalisir sampah. Maka langkah selanjutnya adalah mengolah sampah secara mandiri, seperti membuat kerajinan tangan dari sampah.
Sebelum kita mengetahui tentang siapa yang benar mengenai sampah Anorganik. Penulis mengajak untuk mengulas lebih mendalam tentang awal munculnya sampah tersebut. Entah siapa yang menciptakan pertama kali produk plastik sekali pakai. Yang salah bukan yang menciptakannya. Sebab yang ia ciotakan semata-mata diciptakan untuk kemaslahatan umat. Yang menjadi benang merahnya adalah bagaimana kedepannya setiap individu bisa mengontrol, entah dari yang memproduksi, petugas yang berwenang dan diri kita sendiri. Tidak ada gunanya lagi menyalahkan, mari sama-sama berintrospeksi diri dan melakukan yang terbaik untuk menjaga bumi ini agar tetap lestari, karena kebersihan sebagian dari iman.
*) Mantan Ketua Umum UKM Mastapala IAIN Madura, Periode 2018-2019.

